Oleh: Mokhamad Abdul Aziz
Ketua Umum Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Dakwah Walisongo Semarang 2013-3014.
Keberanian Wali
Kota Surabaya Tri Rismaharini menutup lokalisasi terbesar diAsia Tenggara Dolly
dan Jarak mendapat apresiasi banyak pihak, meski juga tidak sedikit yang
menolak kebijakan itu. Salah satu yang menyatakan apresiasi terhadap langkah
wali kota surabaya itu adalah Wali Kota Semarang Hendrar Pihadi (Hendi). Menurutnya, sebenarnya siapa pun tidak ingin jika di wilayah yang dipimpinnya
terdapat lokalisasi. Karena itulah ada keinginan dirinya untuk menutup
lokalisoasi yang ada di Semarang, Sunan Kuning. Tetapi kebijakan
penutupan tidak bisa diambil tanpa pengkajian dan pertimbangan yang matang. Hendi harus melakukan kajian terlebih dahulu terhadap
rencana penutupan lokalisasi Sunan Kuning.
Kota Terbaik
Namun, barangkali inilah salah satu yang membedakan
Surabaya dengan Semarang. Atau dengan redaksi lain, beda antara Risma dan
Hendi. Seperti yang telah dikenal luas, Surabaya menjadi salah satu kota
terbaik di Indonesia yang bahkan sudah mendunia. Di bawah kepemimpinan
Tri Rismaharini, Surabaya mencuri perhatian dunia internasional. Selain Risma
dianugerahi sebagai walikota terbaik sedunia pada Februari 2014, Surabaya
mendapatkan penghargaan Future Government Awards tingkat Asia Pasifik
dan penghargaan The 2013 Asian Townscape Awards pada tahun 2013. Bahkan, pada April 2014 lalu, Risma
mewakili kota Surabaya menerima titel United Europe Award di London. Pemimpin yang dikenal tegas itu
menerima piala pada malam penganugerahan Socrates Award sebagai kota masa depan (BBC Indonesia, 17/04/2014).
Segudang
pernghargaan yang diberikan kepada Risma dan Kota Surabaya menjadikan warga
surabaya bangga. Tidak heran jika Risma begitu dicintai oleh warganya. Menang
untuk menjadi demikian tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ada
usaha keras dan konsisten dari seluruh warga kota, terutama pemimpinnya.
Nampaknya ini juga yang dilakukan oleh Risma dalam rangka menutup lokalisasi
Gang Dolly. Risma dan jajarannya telah melakukan kaijan dan dengan berbagai
pertimbangan, seingga memutuskan untuk menutup lokalisasi tersebut. Setiap
kebijakan, tentu saja ada yang tidak suka. Bahkan, Wakil Wali Kota Surabaya Wisnu
Sakti Buana yang merupakannya bawahannya, ternyata juga tidak sependapat dengan
Risma. Namun, Wali Kota terbaik dunia ini tidak gentar dan memilih untuk tetap
bersikukuh agar Dolly ditutup.
Perlawanan dari
para “penghuni” Dolly juga tidak bisa dianggap remeh. Risma harus menghadapi
ancaman-ancaman serta mendengarkan apresiasi mereka. Akhirnya pada Rabu, 18
Juni 2014, Dolly resmi ditutup dan saat ini dalam proses penertiban dan
pengakomodasian seluruh pihak yang bersangkutan. Risma punya mimpi untuk menjadikan
Surabaya sebagai kota terbaik di dunia. Salah satu ciri kota terbaik,
menurutnya, adalah tidak adanya prostitusi. Inilah yang harus dicontoh oleh
para pemimpin di Indonesia. Apalagi dalam konteks Kota Semarang yang mengusung
tema Semarang Setara, Hendi sebagai pucuk pemimpinnya tentu harus
mengejar ketertinggalan itu.
Persoalan Mentalitas
Sebagaimana yang
disampaikan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, bahwa tidak ada wali kota yang
menginginkan adanya prostitusi di daerah yang dipimpinnya. Pandangan ini adalah
modal awal untuk melakukan kajian, yang kemudian akan pertimbangkan menjadi
sebuah kebijakan. Persoalan prostitusi sebenarnya berdasar pada mentalitas
masyarakatnya. Seperti yang jamak terjadi, juga yang terjadi di Dolly dan Jarak
sampai saat ini, para “PSK” dan mucikarinya selalu beralasan bahwa jika
lokalisasi ditutup, maka mereka tidak akan bisa hidup karena masalah ekonomi
yang belum tercukupi. Sampai kapan ekonomi akan tercukupi dengan prostitusi?
Jika berpikir masa
depan, tidak ada salahnya seseorang mengorbankan masa sekarang. Apakah mereka
yang memandang bahwa hanya dari lokalisasi itulah mereka akan bisa hidup,
pernah berpikir bagaimanakah nasib dan masa depan anak-anak mereka di masa
mendatang. Ini persoalan yang menguras hati. Logika sederhannya, anak-anak
mereka, yang setiap hari melihat dan bersinggungan langsung dengan lingkungan
yang demikian, maka paradigma yang akan terbangun adalah “sama”. Jika terdapat
perbedaan dengan orang tuanya, kemungkinannya sangat kecil. Dengan kata lain,
anak-anak mereka akan berpikir pragmatis bahwa yang dilakukan orang tua adalah
benar dan harus dilanjutkan.
Tentu saja tidak
ada yang berharap bangsa ini diliputi ketakutan bahwa banyak dari rakyatnya
yang mengidap penyakit AIDS. Juga tidak akan bangga, jika negeri ini dikenal
sebagai penghasil PSK terbesar di dunia. Sebaliknya, bangsa ini akan tersenyum
lebar jika masyarakatnya mampu mencukupi kebutuhan ekonomi dan terbebas dari
praktik prostitusi. Kita juga berharap agar negeri ini terhindar dari segala
penyakit, terlebih dari penyakit yang mematikan semacam AIDS. Setiap daerah
memang memiliki tipologi yang berbeda-beda. Namun, nilai dan norma yang ada
dalam Pancasila (sebagai ideologi negara) tetap sama dan tidak bisa
ditawar-tawar lagi. Apalgi sebagai hamba yang beriman, tentu keinginan untuk
membangun bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur sangat dicita-citakan.
Dalam konteks Kota
Semarang, Hendrar Prihadi perlu meniru langkah Risma dengan menutup lokalisasi.
Apalagi keduanya sama-sama merupakan kader PDI Perjuangan yang didukung oleh
banyak ulama’. Agar tidak dikatakan latah terhadap kebijakan Risma yang
berhasil menutup Dolly dan Jarak, maka Hendi harus segera melakukan tindakan
yang mengarah kepada penutupan lokalisasi Sunan Kuning, Wali Kota dan jajarannya
harus turun ke bawah untuk menggali informasi dan menampung aspirasi warga.
Semua itu akan menjadi bahan kajian dan pertimbangan pemerintah dalam rangka
menentukan kebijakan yang tepat atas rencana penutupan lokalisasi Sunang
Kuning.
Ramadlan yang
sebentar lagi menyapa umat Islam, menjadi momen spiritual yang harus
dimanfaatkan oleh warga Semarang, terlebih pemerintah untuk berkontemplasi,
mengkaji, serta melakukan aksi. Jika sering mendengar pernyataan bahwa
penutupan lokalisasi prostitusi tidak akan pernah menyelesaikan masalah, maka
apakah dengan adanya lokalisasi juga tidak menimbulkan masalah. Jawabannya justru
ada banyak masalah yang akan mucul. Mulai dari kebutuhan ekonomi yang tak
kunjung tercukupi, ancaman penyakit seksual yang datang kapan saja, sampai
kekhawatiran terhadap paradigma dan psikologi anak-anak yang tinggal di
lokalisasi. Dalam jangka pendek, semua itu memang tidak terlihat sebagai
masalah. Namun, jika berpikir jangka panjang, maka yang terjadi adalah
kehancuran di masa depan. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

