Cerpen Irfan Sona
(Diambil dari Kisah Nyata)
Pagi itu, di sudut
kamar sepi aku terduduk sembari terpaku menatap layar laptopku. Sesekali mataku
terpejam karena menahan rasa kantunk yang amat berat. Maklum semalaman begadang
demi menyelesaikan dua tulisan sekaligus. Hari itu merupakan hari terakhir para
santri monash institute liburan, dan kebetulan liburan kali ini saya tidak
pergi kemana-mana hanya tinggal di asrama dengan Mr. Ulum. Melihat hari baru
menunjuki pukul setengah tujuh, maka saya yang ketika itu masih sangat ngantuk,
mencoba untuk memejamkan mata sejenak. Tapi ternyata tidak bisa, sebab pikiran
saya sudah melalang buana entah kemana. Kalau kata orang si “Badannya dirumah tapi hati
dan pikirannya sudah jauh entah kemana.”
Aku terlihat
seperti orang yang bego, maklumlah sudah siang tapi belum mandi. Bukan apa-apa
tapi namanya juga lagi sendirian jadi mau ini malas, mau itu juga malas, jadi
serba malas. Malasnya bukan berarti gak mau melakukan apa-apa, tapi Cuma malas
mau mandi saja, soalnya masih dingin. Ketika saya lagi asyik memainkan keyboard
laptopku, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Dan aku menconba terus mengigat
hal itu, sampai akhirnya aku sadar kalau ternyata hari itu hari minggu. Aku tertawa
lirih melihat tingkahku yang sedikit konyol itu. Tapi mau diapakan lagi memang
kenyataannya gitu.
Keasyikan bermain
laptop membuat aku lupa segalanya, rasa lapar aja sudah gak aku perduliin,
padahal aku belum makan dari malamnya karena mau makan juga gak ada makanan.
Jadi terpaksa aku puasa dulu. Tapi karena rasa semangat untuk bermain laptop
benar-benar membuat aku tidak ingat apapun, padahal aku belum mandi. Dan untuk
melepaskan lelah, sesekali-kali aku berdiri sambil berjalan-jalan kecil untuk
meluruskan pingang yang dari tadi duduk terus. Tak lama setelah itu, aku
melihat ada Mr. Ulum keluar kamar entah apa yang dia perbuat aku tak tahu.
Sebab aku memang lagi asyik dikamar sambil main laptopku.
Tiba-tiba aku teringat kalau aku belum juga mandi, padahal
hari sudah menunjukan pukul setengah sebelas. Dalam hatiku bergumang kata-kata
untuk menyuruh aku mandi. Akan tetapi aku tidak pernah menghiraukan itu. Sampai
akhirnya aku benar-benar merasa gerah, barulah aku pergi mandi. Setelah mandi
aku juga tidak pergi kemana-mana. Ya terhitung dari hari pertama liburan sampai
hari minggu itu aku tidak kemana-mana, hanya menjadi penghuni asrama saja.
Sebab aku juga malas mau keluar, toh kalau keluar aku juga gak tahu mau keluar
kemana. Jadi ya mending aku diasrama aja.
Lagi-lagi aku memainkan laptopku, sambil membuka facebook
dan email. Sesekali aku selingi dengan bermain game agar tidak jenuh. Sampai
hari sudah menunjuki pukul setengah dua belas. Ketika itu aku tidakbelum
melihat satupun dari anak asrama yang datang. Padahal menurut info yang aku
dapatkan kalau anak asrama itu wajib datang pukul lima belas. Tapi sudah mau
dhuhur ko satu orangpun belum datang, ada apa ini? Tanyaku pada diriku sendiri.
Lantunan suara gemuruh adzan memberikan suasana baru pada
diriku, setelah seluruh tubuhku diguyuri air satu jam yang lalu sehingga
menambahkan kesegaran dalam tubuhku. Akan tetapi ada satu hal yang membuat
hatiku tidak merasa bahagia, sebab aku sebebarnya sangat ingin pulang dan
bertemu adikku dirumah yang sangat aku rindukan. Tapi semua itu tidak bisa aku
lakukan, lantaran mau pulang juga waktunya gak ada dan faktor keuangan juga
tidak mendukung. Hal itulah yang membuat aku merasa sedih sekaligus merubah
suasana menjadi sepi dan hampa. Kehundahan itu berlajut cukup lama, sampai-sampai
dalam shalatku aku tak kuasa menahan diri. Walaupun gak menangis secara
langsung, tapi alam hati aku sangat merasa sedih. Kenapa tidak? Sebab kerinduan
yang sudah lama terjadi, namun pada saatnya dibolehkan pulang aku tidak bisa
pulang.
Selesai shalat, aku kembali bermain laptop. Dan sesekali
aku keluar kamar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Ya untuk menangkal
rasa lapar yang sudah tak tertahan lagi. lalu tak lama kemudian ada Mr. Ulum
menanyaiku apakah sudah makan atau belum. Dan karena Mr. Ulum tahu aku gak
punya uang jadi jelas dia juga tahu kalau aku belum makan. Oleh karena itu Mr.
Ulum langsung pergi keluar untuk membeli makanan. Setelah beberapa saat Mr.
Ulum keluar datanglah Mr. Nasih yang ketika itu baru saja kembali dari kampung
halamannya. Lalu aku dimintai tolong untuk menurunkan ayam-ayam yang beliau
bawa dari kampung halamannya. Dan setelah aku menurunkan ayam itu dari mobil,
lalu aku mengambil kandang tempat untuk menyimpan ayam-ayam tadi nantinya.
Setelah semuanya aku kira cukup, maka aku mencuci tanganku dan megangkat
pakaianku, setelah itu ya langsung aku rapikan.
Setelah selesai merapikan pakaian, barulah aku dan Mr.
Ulum makan bersama-sama. Tapi susana yang seperti itu juga belum merubah nuansa
hatiku yang masih dilanda kerinduan akan adik dan keluargaku. Waktu sudah
hampir menunjuki pukul setengah dua siang. Tapi para teman-teman asramaku belum
ada satupun yang datang. Entah kenapa dan ada apa gerangan aku tak tahu. Aku
hanya tahu kalau hari itu adalah hari terakhir liburan, sebab hari seninnya
kami harus sudah kembali beraktivitas dikampus lagi.
Ketika aku teringat kalau esoknya harus kembali ke
kampus, maka perlahan-lahan rasa sedihku hilang. Entah kenapa ketika mendengar
nama kampus aku merasakan ada hal yang indah dalan hidupku. Aku gak tahu
kenapa, tapi itulajh kenyataannya. Kalau dikatakan apakah aku ada girl friend
atau gak, yang jelas bukan itu alasan kenapa aku bahagia jika kembali ke
kampus. Satu hal yang menarik hati aku dikampus adalah pada saat diskusi dengan
teman-teman kampus. Dimana kalau mereka yang menjadi presenternya atau
pemakalahnya, maka aku akan dapat leluasa memberikan pertanyaan sekaligus
mendebat mereka dengan segala argumen yang mereka tidak tahu. Itulah salah satu
hal yang amat berkesan dihatiku saat aku berada dikampus. Kalau masalah lain ya
itu menyusul dan kondisional.
Beberapa saat sebelum ashar, barulah aku melihat ada
temanku yang datang. Dan itu sedikit menambah kegirangan dihatiku, karena aku
tak lagi kesepian seperti pada hari Jum’at, Sabtu, dan Minggunya. Tapi walaupun
begitu masih belum terlalu membuat hatiku benar-benar bahagia. Karena sudah jam
segitu masih banyak teman-temanku yang belum datang. Barulah setelah selesai
shalat Ashar teman-temanku mulai berdatangan satu persatu.
Hari semakin sore, dan sampai memasuki waktu magrib ada
beberapa temanku yang belum juga kembali. Enah kenapa yang jelas mereka sudah
tidak konsisten terhadap waktu yang dijanjikan. Padahal di infonya pukul 15.00
WIB harus sudah wajib datang. Tapi ko sudah magrib masih ada yang belum datang.
Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, sebab ketika itu tepatnya setelah
shalat magrib kami semua anak asrama yang sudah hadir dikumpulkan oleh Dr.
Mohammad Nasih, karena ada beberapa hal yang ingin beliau sampaikan.
Disitu aku lagi-lagi aku mendapatkan sesuatu yang sedikit
membuat aku sedih, karena satu dari temanku harus angkat kaki dari sini. Ya
memang itu adalah kesalahan dia, tapi sebagai teman tentu aku akan sangat
merasa kehilangan sekali. Maklum dia adalah salah satu teman yang asyik diajak
becanda, dan sedikit mengerti aku ketimbang yang lain. Sejujurnya jika
dibandingkan dengan yang lain, dia jauh lebih asyik bagi aku. Tapi ya mau
diapakan lagi, jika memang itu sudah kehendak Allah dan sudah menjadi peraturan
asrama maka aku akan ikhlas melepaskannya. Panjang lebar Mr. Nasih menyampaikan
pengumuman kepada kami, sampai akhirnya beliau kembali ke Jakarta. Dan beberapa
jam kemudian, aku mendapat sms bahwa kami dimintai untuk membuat tugas menulis
tentang pemilu dan menulis kisah tentang hari minggu. Tapi karena aku sedikit
ngantuk, jadi malam itu tugasnya tidak bisa langsung aku kerjakan karena aku
tidurnya cukup awal.
Jateng Ekspres, 22 Februari 2015

