![]() |
| Tri Rahayu* |
Pendidikan selalu menjadi topik
yang menarik untuk dipersoalkan. Karena pendidikan merupakan sesuatu indikator
penunjang memberdayakan kualitas seseorang dan berimplikasi kepada kecerdasan.
Maka pendidikan merupakan sarana mencerdaskan bangsa yang dapat meningkatkan
kualitas alias mutu manusia, sehingga bermanfaat besar bagi manusia lainnya.
Pendidikan merupakan wahana untuk
mengembangkan mutu manusia. Sebagaimana misi Rasul Muhammad Saw yang disebutkan
pertama kali adalah tilawah/ membaca. Hal demikian mengisyaratkan
bahwa Rasul menjunjung tinggi pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan
umat. Meski beliau buta aksara alias tidak bisa baca tulis.
Namun kecerdasannya
dapat dirasakan dari cara beliau mendirikan umat, agama, dan negara nol. Kecerdasan beliau digunakan untuk
melakukan kebaikan. Tetapi, kita tahu juga ada salah satu jenis manusia yang
kecerdasannya disalahgunakan, yakni digunakan untuk menindas.
Makin cerdas, makin suka
memeras manusia bahkan alam semesta. Satu dua guru suka memeras murid atau
orang tua murid, satu dua pejabat memeras rakyatnya, bos memeras anak buahnya,
yang kuat memeras yang lemah, dan lain-lain. Kalau begitu, pendidikan itu tak
cukup hanya mencerdaskan bangsa. (redaksi).
Boleh dikatakan
pendidikan telah gagal bila hanya menghasilkan manusia pandai tetapi memiliki
hobi merusak alam dan berakhlaq seperti tidak terpuji. Jadi tidak cukup dengan
orientasi mencerdaskan, namun juga perekonstruksian akhlaq. Maka Luqman
mendidik anaknya dengan ketaqwaan, dengan pengetahuan/ hikmah alias cerdas
(Luqman: 12), dengan akhlaqulkariimah/ etika (QS. Luqman:
13-15, 18-19), dengan keterampilan (Luqman: 17) dan menumbuhkan tanggung jawab
(Luqman: 17). Itulah nasehat Luqman kepada anaknya.
Pendidikan model Luqman,
kini hampir langka kita jumpai. Sungguh langka, baik di lingkungan rumah/
keluarga (pendidikan informal/ mikro), di sekolah (pendidikan formal/ meso),
maupun di masyarakat (pendidikan nonformal/ makro). Dan memang jarang, baik
pendidikan bagi anak-anak, kawula muda, maupun untuk orang dewasa.
Yang pasti ada dan kita
temukan secara tertulis tujuan model pendidikan Luqman itu ialah sebagaimana
tercantum dalam tujuan pendidikan nasional kita. Secara eksplisit tertera dalam
undang-undang Sistem Pendidikan Nasional RI. Maka peran pendidikan agama jelas
penting sekali sejak usia balita, anak-anak, hingga dewasa. Bagi anak-anak
kita, agar mereka menjadi manusia bertaqwa, cerdas, dan terampil.
Rasulullah Saw telah
menuntun kita dalam mendidik anak. Sejak bayi, kita diajarkan untuk
melaksanakan akikah pada hari ketujuh, lalu memberinya nama yang indah dan
ketika telah berusia enam tahun, mengajarkan mereka sopan santun/ adab (HR. Ibnu
Dibban dari Anas).
Selain itu, beliau juga
berpesan agar memerintah anak-anak kita untuk sholat pada waktu mereka telah
beranjak tujuh tahun. (HR al-Hakim dan Abu
Dawud). Hal yang
sangat penting pula, hendaklah kata yang pertama kali kita perdengarkan kepada
anak kita ialah laa ilaaha illallah (HR al-Hakim dari Anas). Lalu mengajari mereka
dengan pentingnya tiga perkara, yakni cinta kepada Rasul Saw, kepada keluarga
Rasul Saw, dan mengajarinya membaca dan mengkaji al-Quran (HR at-Tabrani dari Ali r.a). Juga tidak kalah
penting, untuk menyuruh mereka mengikuti perintah dan larangan Allah, sebab hal
itu merupakan pelindung bagi diri kita dan mereka dari api neraka. (HR Ibnu Jarir dan Ibnu
al-Mundlir dari Ibnu Abbas).
Semua pesan Raasulullah
Saw tersebut bermakna pendidikan agama bagi anak-anak agar bertauhid, berakhlaq
baik, beribadah, dan bermuamalah. Itulah pesan beliau kepada kita, kepada orang
tua anak-anak dari semua golongan manusia. Agar anak-anak kita menghafalnya,
meniru/ meneladani contoh-contoh, serta membiasakannya dalam perbuatan
sehari-hari.
Mengagamakan Pendidikan
untuk Menaklukkan Masa Depan
Alhamdulillah, pendidikan agama di
Indonesia dilaksanakan sejak usia balita, usia TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan
tinggi. Di sekolah, pesantren, dan madrasah. Dalam penataran,training, dan pesantren kilat.
Kawula mudanya sangat bergairah untuk memahami, mendalami, menghayati, dan
mengamalkan Islam. Begitu juga kaum dewasa dan manulanya.
Maka pendidikan agama,
baik yang formal di sekolah, informal di lingkungan keluarga, dan non formal
dalam masyarakat, hendaknya mengikuti pentujuk Allah dalam surat Luqman: 12-19
dan RosulNya dalam hadits tersebut di awal penjelasan penulis. Yakni agar
mereka memahami, mendalami, dan menghayati Islam sehingga beriman, bertaqwa,
taat shalat, dan mengetahui hikmahnya. Mampu menjadi imam shalat, memimpin
dzikir dan do’a, mampu membaca al-Quran dan menyalinnya dengan benar,
menghayati kandungan/ khazanah maknanya serta mengamalkannya, mengembangkan
akhlaq mulia dan amal saleh, selalu mensyukuri nikmat, bermuamalah dalam
kehidupan bermasyarakat, cinta tanah air, dan gemar memelihara lingkungan
sekitarnya.
Menurut hemat penulis,
itulah misi kurikuler yang hendaknya diterapkan dalam pendidikan pada umumnya
dan pendidikan agama pada khususnya. Yang kalau kita ringkas kemudian menjadi
misi hablumminallah, hablumminannas dan hablumminal
alam.
Sementara itu,
pendidikan agama bagi kawula muda terkena oleh pesan Rasul Muhammad Saw: “’Alimu
auladakum innahum khuliqu lizamanihim ghaira zamanikum”. Artinya, “didiklah
anak-anakmu, sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, dan bukan untuk
zamanmu”. Kawula muda sebagai peserta didik hendaknya diberi kemampuan
pula untuk menghadapi tantangan yang semakin berat pada masa mendatang ketika
mereka dewasa. Dengan kata lain, mampu menaklukkan masa depan, menjinakkan masa
depan, mencetak goldzaman, menjawab masalah kehidupan mendatang yang tidak dapat
diperkirakan sekarang.
Selain lulus menjawab
soal-soal ujian di kelas, hendaknya juga mampu menjawab soal-soal masyarakat,
bahkan sekadar permasalahan yang menempel di hidungnya sendiri. Agar seusai
diwisuda menjadi insinyur, mereka lalu tidak bengong dan berpangku tangan
menghadapi masyarakat dan dirinya sendiri. Dan tidak bengong pula menghadapi
zamannya yang telah berubah. Dulu zaman unta, kini zaman garuda, dan nanti
zaman super dan ultra elektronika. Kita tahu pendidikan mampu menghasilkan unta
menjadi garuda atau super garuda dan seterusnya, tetapi apa jadinya, bila
kemudian agama tertinggal di belakangnya? Zaman akan meninggalkan kita ke
cakrawala tinggi dengan pesawat elektronika, sementara kita dan anak-anak
kawula muda masih berjalan di tempat pada posisi perbincangan sepele, terkait qunut-antiqunut saja?
Apakah pantas, kita
hanya sebatas mengagumi keindahan tarikh masa lampau saja tanpa
berbuat untuk masa depan? Bagaimana pendidikan agama seharusnya agar anak-anak
kita nanti mampu mengantisipasi dan mengambil langkah seribu pada perubahan
zaman? Maka pendidikan agama sebagaimana pesan Rasulullah Saw tersebut, hemat
penulis pikir punya misi yakni menciptakan manusia masa depan yang kreatif dan
inovatif.
Kreatifitas jauh lebih
penting daripada sekadar memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA). Dan yang
kita perlukan sekarang adalah kreativitas bagaimana mengagamakan pendidikan
untuk menaklukkan masa depan. Agar anak-anak kita, kawula muda kita
berkemampuan merekayasa zamannya tanpa harus meninggalkan atau menanggalkan
agamanya. Wallahu A’lamu Bi Al-Shawab.
*Penulis adalah Ketua
Umum Bidang Pendidikan dan Penyuluhan HiCMa (Himpunan Cendikiawan Muslimah)
Semarang
Dimuat di Harian Aceh.
