Oleh: Irfan Sona*
Pendidikan karakter sebagai
pilar kebangkitan bangsa adalah salah satu pendidikan yang harus diadakan
ditiap perguruan tinggi. Karena pendidikan adalah proses awal untuk menuju
kebangkitan dan keberhasilan membentuk jatri diri suatu bangsa. Pengaruh
perguruan tinggi dan masyarakat semakin menguat bersamaan dengan bertanbahnya
usia anak. Pendidikan karakter adalah landasan bagi budaya akademik, karena
ilmu pada prinsipnya dapat kita pandang dalam perspektif moral dan sosial.
Sehingga akan terkait langsung dengan perspektif kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Pendidkan karakter tidak
hanya menjadi tanggung jawab pendidikan PAUD, akan tetapi perguruan tinggi
harus memberikan pendidikan ini. Diluar kampus pran orang tua dan keluarga
serta masyarakat juga sangat diperlukan untuk membentuk pendidikan karakter
ini. Didalam ruang lingkup lokal, keluarga dan orang tua menjadi penanggung
jawab utama pendidikan ini. Norma kegiatan akademik yang dirujuk di Indonesia
bersubyek kepada mahaMahasiswa yang melakukan proses pembelajaran. Wujudnya
ialah kegiatan kurikuler,ko-kurikuler (kegiatan kemahaMahasiswaan yang berbasis
kepada bidang profesi yang dipelajari),dan ekstrakurikuler (kegiatan
kemahaMahasiswaan yang tidak terkait langsung dengan profesi yang
dipelajarinya). Proses pembelajaran ini merupakan kegiatan akademik yang
berlandaskan budaya akademik menuju nilai utama dan etika akademik. Beban-benan
kegiatan akademik tersebut seutuhnya harus proposional, produktif, dan
positif. Pendidikan adalah “soft
power” jika dilandasi karakter nilai-nilai luhur.
Pendidikan karakter
sangatlah diperlukan bagi siapa saja dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bagi
mahaMahasiswa yang nota bene adalah calon pemimpin dan generasi penerus bagi
kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik di masa yang akan datang.
Pendidikan karakter ini akan lebih baik apabila ditumbuh kembangkan melalui
keteladanan, pembelajaran, dan terutama pembiasaan dalam segi agama.
Model yang seharusnya
dikembangkan untuk pengembangan karakter di Perguruan Tinggi berbasis
Pendidikan Agama adalah: Pendidikan Agama hendaknya menjadi basis utama dalam
pengembangan karakter bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi baik SD maupun SMP.
Ajaran dasar agama mulai dari keimanan (aqidah), ritual (ibadah dan muamalah),
serta moral (akhlak) harus benar-benar ditanamkan dengan baik dan benar kepada
Mahasiswa agar tidak ada lagi sikap dan perilaku Mahasiswa yang menyimpang dari
ketentuan agamanya.
Jadi, Pendidikan Agama
harus benar-benar diajarkan secara efektif kepada Mahasiswa, jangan terbatas
pada nilai kognitif saja, tetapi juga menyentuh sikap dan perilaku agama; dan
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam rangka pembinaan karakter yang
efektif di Perguruan Tinggi adalah visi, misi, dan tujuan Perguruan Tinggi,
kebersamaan, ada program-program yang jelas dan rinci, pelibatan semua mata
pelajaran dan semua guru, ada dukungan sarana prasarana, dan perlu ada tim
khusus.
Apabila pendidikan karakter
ini bisa diajarkan dengan baik, maka peluang manusia korupsi akan semakin
berkurang bahkan bisa jadi tidak ada. Sebab dengan tingkat ketakwaan yang
tinggi kepada tuhan yang maha esa jelas membuat mereka takut untuk malakukan
tindakan kejahatan. Jangankan korupsi, berbohong saja mereka akan takut. Oleh
sebab itu, tanamkan nilai-nilai agama pada tiap diri mahasiswa, dengan cara
mengajarkan pendidikan agama dan karakter pada tiap individu. Jika ini bisa terlaksana
dengan baik, maka saya yakin Indonesia akanj menjadi negara emas. Negara yang
bebas dari segala macam tindak kejahatan baik kejahatan kecil maupun kejahatan
besar seperti korupsi.
Mengingat
pentingnya pendidikan karakter bagi generasi muda, maka sudah menjadi PR besar
bagi lembaga pendidikan, terutama Menteri yang menaungi tentang pendidikan
harus mengutamakan pendidikan karakter. Bahkan, bila diperlukan pendidikan
karakter harus diutamakan. Sebelum siswa dan atau mahasiswa diajarkan keilmuan
lainnya, maka hendaknya mereka terlebih dulu diajarkan tentang pendidikan
karakter.
Hal
ini menjadi penting, sebab jika akhlak mereka sudah baik, maka untuk menerima
ilmu-ilmu lainnya akan lebih mudah, dan ketika mengimplementasikan ilmu
tersebut pasti ke arah yang baik pula. Namun, apabila peserta didik tidak
dibekali pendidikan akhlak yang baik, maka kemungkin untuk terjerumus dalam
kejelakan akan besar. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan, mulai dari PAUD
sampai perguruan tinggi harus benar-benar memperhatikan kualitas pendidikan
karakter para peserta didik. Semua itu ditujukan untuk menciptakan akhlak
generasi muda yang baik pula. Sehingga, mereka akan terbebas dari akhlak-akhlak
tercela seperti korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya.
*Pengajar di Yayasan Monash Institute Semarang
Pondok Tahfidh Alqur’an Darul Iman wa Taqwa (PDIT)
Pernah tayang di koran Jateng Ekspres, edisi 23 Mei 2015

