| Oleh: Fithrotun Nisa’ |
Penerima beasiswa unggulan Monash Institute
2015
dan alumnus Pondok Pesantren Mansajul Ulum
Pati
Pernikahan
adalah ikatan suci antara dua insan laki-laki dan perempuan. Ketika seorang
laki-laki dan perempuan menjalani suatu hubungan dan khawatir akan terjadi
hal-hal yang tidak diinginkan. Maka, salah satu solusinya adalah melakukan
pernikahan. Pernikahan merupakan proses penyatuan antar pribadi
satu dengan yang lain, dan pernikahan merupakan sarana efektif mencegah
perzinaan. Sikap saling menjaga, saling melindungi, saling membantu, saling
memahami hak dan kewajiban masing-masing merupakan pilar penting dalam suatu
pernikahan.
Pernikahan adalah lambang dari kehormatan dan
kemuliaan. Dua insan yang sudah melakukan pernikahan akan terhindar dari
belenggu dosa, termasuk terhindar dari segala hal yang haram dilakukan sebelum
menikah. Fungsi pernikahan diibaratkan seperti fungsi pakaian. Salah satu
fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Aurat sendiri bermakna sesuatu yang
memalukan. Karena memalukan, maka wajib untuk ditutup. Jadi, antara dua insan
yang sudah menikah harus mampu bersinergi dengan baik. Dalam konteks ini,
mereka harus mampu menutupi aib dan kekurangan dari masing-masing pasangan.
Sehingga, pada akhirnya mereka mampu untuk mentuk keluarga yang harmonis.
Setiap orang pasti mendambakan sebuah
keluarga yang utuh dan harmonis, jauh dari pertengkaran atau perpecahan. Namun,
tidak ada satu pasangan pun yang melalui kehidupan keluarganya tanpa ada
halangan apapun. Ketika memasuki masa-masa pernikahan, di situ pula hubungan
mereka akan diuji dengan adanya banyak masalah yang menjadi ujian dalam pernikahan
mereka. Setiap keluarga memiliki masalah, dan masalah itu tidak datang begitu
saja, tetapi ada penyebab-penyebabnya. Penyebab utama yang sering terungkap di
media massa yakni orangtua yang terlalu fokus pada materi dibandingkan
keluarga. Hal ini menyebabkan komunikasi antar anggota keluarga kurang terjalin
dengan harmonis. Selain itu, faktor ekonomilah yang kerap kali disinyalir
menimbulkan pertikaian hingga perceraian. Tak jarang perceraian itu terjadi
pada sebuah rumah tangga yang sudah dibangun lama. Kadang suatu hal sepele bisa
menjadi fatal, jika tidak disikapi dengan bijak dan lebih
mementingkan ego masing-masing, tanpa memikirkan masa depan anak mereka.
Keadaan akan semakin parah tatkala
seorang ibu rumah tangga memutuskan untuk menjadi seorang wanita karier.
Kebanyakan wanita karier tidak memiliki waktu luang untuk keluarganya dan
cenderung 24 jam waktunya hanya untuk pekerjaannya. Sehingga tidak ada waktu
luang bersama keluarga. Apalagi untuk sekedar menghabiskan akhir pekan
bersama-sama seperti lazimnya sebuah keluarga. Padahal sebenarnya ibulah figur
pertama yang mensosialisasikan tentang kehidupan. Dunia akan hancur jika
ibu-ibu sudah tidak peduli lagi dengan nasib anaknya dan lebih mementingkan
pekerjaannya. Padahal semestinya ibu adalah perpustakaan pertama anak.
Perceraian bukanlah hal tepat yang ditempuh untuk menyelesaikan suatu permasalah justru akan semakin memperkeruh keadaan. Akibatnya hal tersebut berimbas pada buah hati mereka, terutama dalam hal psikologis. Mereka mengalami tekanan batin sehingga tak jarang membuat mereka menjadi pribadi yang penutup, sensitive, tempramen tinggi, serta tak sempurnanya proses sosialisasi dalam diri mereka. Padahal proses sosialisasi pertama kali adalah keluarga. Prestasi anak brokenhome terkadang tak secemerlang anak keluarga utuh, keadaan keluarga broken home memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap prestasi anak. Anak broken home cenderung malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar, hal tersebut karena konflik batin yang sedang mereka alami.
Perceraian bukanlah hal tepat yang ditempuh untuk menyelesaikan suatu permasalah justru akan semakin memperkeruh keadaan. Akibatnya hal tersebut berimbas pada buah hati mereka, terutama dalam hal psikologis. Mereka mengalami tekanan batin sehingga tak jarang membuat mereka menjadi pribadi yang penutup, sensitive, tempramen tinggi, serta tak sempurnanya proses sosialisasi dalam diri mereka. Padahal proses sosialisasi pertama kali adalah keluarga. Prestasi anak brokenhome terkadang tak secemerlang anak keluarga utuh, keadaan keluarga broken home memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap prestasi anak. Anak broken home cenderung malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar, hal tersebut karena konflik batin yang sedang mereka alami.
Lingkungan keluarga yang kondusif dapat
menciptakan ketenangan dalam diri remaja. jika ketenangan tersebut tidak mereka
dapatkan, maka mereka mencari-cari ketenangan dalam bentuk lain. Masa remaja
adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi remaja serta masa dalam
pembentukan karakter. Dalam masa ini remaja membutuhkan bimbingan dan
pengawasan dari orang-orang terdekat mereka terutama orangtua. Remaja yang
kurang mendapatkaan kasih sayang dari orangtuanya seperti halnya keluarga
broken home sering kali melakukan kesalahan dalam pilihan hidupnya yang
berakhir pada penyimpangan sosial dan menjadi karakternya.
Remaja broken home menjadi remaja yang self esteem dan self confident rendah sehingga mereka cenderung mencari perhatian dari lingkungannya dengan cara memberontak, bullying, bersikap derduktif pada lingkungan mengkonsumsi narkoba, minum minuman keras, free sex, tawuran, serta membegal jalan.
Remaja broken home menjadi remaja yang self esteem dan self confident rendah sehingga mereka cenderung mencari perhatian dari lingkungannya dengan cara memberontak, bullying, bersikap derduktif pada lingkungan mengkonsumsi narkoba, minum minuman keras, free sex, tawuran, serta membegal jalan.
Akan tetapi remaja broken home tidak perlu
dijauhi maupun dihindari, mereka hanya ingin diperhatikan dan dianggap ada oleh
lingkungannya dan tidak dianggap sebagai sampah masyarakat seperti halnya
remaja pada umunya karna sejatinya mereka tidak sepenuhnya salah. Mereka hanya
korban dari keegoan orangtua mereka. Broken home bukanlah akhir dari segalanya.
Oleh sebab itu, berpikirlah positif terhadap kehidupan. Peristiwa-peristiwa
broken home itu dapat diambil ibrahnya yakni sebagai pembelajaran untuk kaum
remaja agar berhati-hati dan selektif dalam memilih pasangan tidak hanya
bermodal cinta. Anak broken home tidak untuk dijauhi, namun diberi perhatian
melalui kasih sayang, perhatian, serta menjadi tempat yang nyaman untuk mereka
bersandar dan berbagi cerita.
Untuk mengatasi agar kemerosotan moral remaja
agar tidak terus menerus meluas, maka perlu upaya penanganan serius dan
intensif untuk meminimalisirnya. Upaya itu tentu saja harus melibatkan semua
pihak baik dari kalangan keluarga, sekolah, pemerintah, lingkungan, dan
lain-lain. Dengan penguatan pendidikan nilai-nilai agama, adat-istiadat,
susila, etika sosial. Selain itu, kebiasaan yang sesuai dengan aturan-aturan
hukum juga perlu ditegakkan. Hal itu diharapkan dapat mengembalikan lagi moral
remaja yang saat ini sudah memprihatinkan. Melalui pendidikan moral yang
intensif, diharapkan akan lahir generasi muda yang berkarakter kuat dan
bermoral baik.
*(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Harian Bhirawa, edisi Senin 08 Juni 2015)
