Etos Kerja Tauhidi

Mokhamad Abdul Aziz
0
Oleh : Tri Rahayu*
Ingatkah nyanyian tempo doeloe? Begini bunyinya, “Ayo kawan kita bersama menanam jagung di kebun kita; cangkul, cangkul, cangkul yang dalam...”. Sepenggal lirik tersebut seolah menggambarkan, “sepertinya kerja mencangkul itu menyenangkan”.
Barang siapa mencangkul atau menanam, maka ia berhak memetik buahnya. Siapapun yang menanam ialah yang akan menuai. Begitulah kata pepatah. Dan mencangkul itu kerja. Mencangkul adalah ibadah. Menanam di lahan yang sudah tercangkul rapi merupakan amal saleh. Dan bila hasil menanam itu dinikmati oleh banyak orang, maka namanya menjadi amal jariyah, yakni amal yang akan mengalir terus menerus, abadi, walaupun penanamnya sudah mati (red: meninggal).
Amal jariyah semacam ini juga akan dihadiahkan kepada kita yang mempunyai amal saleh, beriman, dan mendoakaan kedua orang tuanya. Juga kepada kita yang membelanjakan hartanya di jalan Allah Swt. Ulama kontemporer berkata, itulah tabungan/ deposito di dunia yang akan berlanjut berketerusan secara kekal di akhirat.
Para pencangkul kerja-kerja semacam itu akan menerima amal pokok dan bunga amal tabungan/ deposito. Bunga berbunga. Harum semerbak di taman Firdaus. Kerja-kerja yang demikian seyogyanya menyenangkan kita semua. Mengapa tidak? Bukankah itu merupakan hasanah fid dun-ya dan hasanah fil akhiroh? Syarat untuk memperoleh hasil kerja demikian ialah niat karena Allah Swt semata, ikhlas untuk mardlatillah.
Inilah yang dinamakan oleh para ulul albab sebagai etos kerja tauhidi. Hidup itu kerja. Dan kerja itu hidup. Kerja kita harus dikembangkan dari meja ke kebun. Bukan hanya dari meja ke meja saja. Kebun tempat kita kerja sangat luas. Seluas daratan dan lautan. Mulai kerja kasar hingga kerja halus menurut keahlian masing-masing.
Ada di antara kita yang bekerja dan dipekerjakan sebagai direktur (penentu kebijakan), manajer (perencana), operator (pelaksana), dan sebagai pengendali/ pengawas atau supervisor. Itulah piramida pembangunan kerja dalam sebuah lembaga atau negara. Boleh jadi sebuah rumah besar yang namanya perusahaan komersial atau lembaga pendidikan nirlaba barulah akan dapat bangun dan berkembang bila di dalamnya ada sebuah piramida pembagian kerja.
Umumnya kita sepakat, bahwa kerja yang paling halus berada di puncak piramida. Namun, tanggung jawabnya paling berat. Kalau tidak pahalanya yang terbesar, maka kita yang di puncak piramida ini akan menerima dosa terberat apabila bangunan rumah tersebut tidak terwujudkan seperti yang didesain. Rumah tidak membesar, tidak kokoh, bahkan menjadi rapuh, mengecil, dan mudah diterbangkan angin isu, gosip, ataupun fitnah.
Sementara kerja-kerja yang paling kasar itu biasanya ada di dasar piramida. Ada di lantai paling bawah. Dan kalau lantai dasar itu juga keropos, kerjaan semrawut atau semau gue, sudah dapat kita pastikan, rumah piramida akan rontok cepat atau lambat.
Andaikata pun masing-masing lapis piramida tampaknya betul-betul kerja keras, sama-sama kerja pada bagiannya, boleh jadi kita akan menyaksikan isi rumah besar itu ternyata kalang kabut. Rumah besar terguncang dengan piramida kerja tidak karuan. Sedang di ujung lainnya, ada rumah kecil tetapi kokoh, karena didukung oleh organisasi kerja rapi. Dan kerja rapi tampaknya hanya dapat dijelmakan oleh personil yang mendahulukan prestasi ketimbang prestise dan uang.
Kita diingatkan oleh ahli manajemen Peter Drucker yang berkata: “Money without man is nothing, but man without money can move mountain” (Duit tanpa orang takkan menghasilkan apa-apa, tetapi orang tanpa duit mampu membopong gunung). Membopong atau memindahkan gunung merupakan sebuah kerja besar. Suatu prestasi tinggi tanpa keluar duit. Sekali lagi, inilah etos kerja Islami. Maksudnya, jangan sampai kita menjadi lesu dan malas atau tidak mau bekerja kalau tidak ada duit. Namun, Pak Peter Drucker tidak pernah menampik bahwa duit tidak penting atau dinafikan.
Sebelum Drucker, bahkan rasul kita, Muhammad Saw telah bersabda, bahwa untuk menegakkan agama dan negara diperlukan dinar (HR. Hakim). Artinya, duit dinar ini akan lebih mengokohkan hasil kerja kita. Begitu juga umumnya tiap pasangan suami isteri. Pada awalnya tidak mempunyai fulus untuk membangun rumah tangga. Namun, dengan niat, tekad baja, kerja keras, sabar, dan tekun, ternyata kemudian bahkan mampu menyuapi sembilan anak kandungnya. Inilah hasil kerja. Dan ini bukan miracle.
Belajar dari Tukang Gado-Gado
            Ini bukan sulap atau keajaiban. Yang aneh ialah apabila kita menyaksikan, sepertinya sudah 27 tahun home business gado-gado/ pecel/ rujak dari ibu yang di sebelah rumah kita kok tidak maju-maju, jalan di tempat. Bahkan omset semesteran/ tahunannya akhir-akhir ini mulai menurun. Dan ketika home business itu ditingkatkan menjadi restoran canggih dengan suntikan dana kredit berbunga, malah ibu itu jadi kikuk, kerap mengalami stress, sering marah pada anak-anak dan suaminya. Akhir dari perjalanan restoran ini ialah hidup tak laju, mati pun tak mau.
Ini memang aneh, tetapi nyata. Mengapa? Setelah kita kaji, amati, dan merenungkannya, ternyata penyebabnya adalah ketidakserasian. Yakni kaki kanan ibu itu sudah menapak di sektor modern (berupa restoran), tetapi kaki kirinya masih tertinggal di sektor tradisional (berupa cara kerja warung kecilan). Dan ketika gaji/ upah/ honor pegawai restorannya ditingkatkan sebesar 15-51 persen pun tidak berdampak peningkatan disiplin dan produktivitas. Sebaliknya, gado-gado yang dipasok untuk masyarakat pembeli membusuk di sudut-sudut restoran, alias tidak terjual.
Si bapak, sang suami dari ibu gado-gado, sibuk meminta nasehat kepada beberapa ahli manajemen kondang di dunia, bahwa motivasi mampu meningkatkan performance atau hasil kerja dari pegawai antara 50-70 persen.  Memang dalam Islam, semangat tauhid akan mampu meningkatkan motivasi kerja. Menumbuhsuburkan rasa berani bertindak, bertanggung jawab, amanah, berkepribadian bulat. Dan menjauhkan kita dari sikap atau ulah hipokrit. Walhasil, ibu gado-gado kemudian berhasil memakmurkan restorannya setelah melaksanakan tauhidi base achievement motivation training (latihan motivasi kerja tauhidi). Restoran itu lalu dapat merukunkan kembali hubugan ibu, bapak, anak, dan para pekerjanya serta para langganannya. Kalau begitu, terbuktilah nasihat orang sepuh, bahwa kerja merupakan sebuah nilai. Kerja tidak semata-mata untuk mencari roti atau nasi.

Kerja is not for bread alone, kata Konosuke Matsushita yang ahli dalam pengembangan sumber daya manusia. Barangkali masih ada di antara kita yang memang akan bekerja sebanyak upah yang diterima, karena mereka masih dalam subsistence level, masih pada tingkatan kerja untuk cari nasi saja. Barangkali ada juga kita yang sudah pada level bahwa kerja itu sebuah nilai, seolah-olah kita bekerja 40 jam atau lebih dalam seharinya. Semoga. Wallahu A’lamu Bi Al-Shawab.
*Young Researcher of IRQS (Intellectual for Research and Quranic Studies) UIN Walisongo Semarang

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default