Mendekatkan Perempuan pada Jiwa Kepemimpinan

Monash Media
0
Oleh: Indah Khoirotun Nisa’

Kepemimpinan adalah suatu perilaku yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai suatu tujuan atau visi misi yang dikehendaki. Menyoal tentang kepemimpinan, dalam pikiran masyarakat, kepemimpinan selalu identik dengan kaum adam.  Padahal, ketika kita mengkaji lebih dalam mengenai kepemimpinan, perempuan juga memiliki jiwa kepemimpinan yang bisa mengimbangi kemampuan para kaum Adam dalam  memberikan ide atau gagasan.
Pada hakekatnya, setiap orang mampu menjadi seorang pemimpin termasuk perempuan. Akan tetapi, perempuan dianggap sebelah mata ketika menjadi seorang pemimpin. Padahal, ibarat kata, perempuan seperti bangunan yang berfondasi kokoh dan kuat. Pasalnya, sebagian masih berfikiran bahwa perempuan hanya mampu di dapur, sumur dan kasur. Seharusnya tidak ada hal aneh ketika seorang perempuan menjadi pemimpin. Hal tersebut dapat dilihat secara nyata kehidupan seorang perempuan dalam bermasyarakat.         Sungguh sangat ironis, ketika seorang perempuan hanya dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan, peran perempuan sering diposisikan sebagai seorang “cadangan”. Dalam artian, menurut pandangan tradisional, perempuan diibaratkan sebagai sosok yang halus, lemah dan emosional. Sedangkan laki-laki diibaratkan sebagai sosok yang kuat, berani dan rasional. Oleh karena itu, hal tersebut juga menjadikan perempuan dalam posisi yang harus selalu dilindungi dan selalu bergantung kepada laki-laki.
Namun, seiring bertambahnya zaman, kini perempuan berhasil tertolong oleh peran pemimpin perempuan yang pernah berjaya dalam pergerakan emansipasi wanita, R.A Kartini. Dengan ghirah perempuan ini, dampak atas pergerakan emansipasi wanita dapat dirasakan sampai sekarang. Walaupun masih ada pro dan kontra yang menjadi topik pembicaraan sampai saat ini.Apalagi dengan kesetaraan gender dan gerakan feminisme yang telah dikoar-koarkan oleh khalayak umum, nampaknya belum memberikan dampak yang signifikan terhadap paradigma perempuan
Megawati Soekarno Putri adalah contoh perempuan yang berhasil menjadi seorang pemimpin negara. Dengan demikian, bisa menjadi patokan bahwasanya antara perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki peluang untuk menjadi seorang pemimpin. Ketika disangkut pautkan dengan kesetaraan gender, hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kedudukan antara perempuan dan laki-laki ialah sama dalam mendapatkan hak sebagai makhluk sosial. Dapat ditarik benang merah bahwa perempuan diharapkan mampu turut andil dalam semua kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, sodial dan budaya.Ditambah lagi dengan adanya wacana bahwa perempuan diberikan kesempatan kuota 30 persen untuk menduduki kursi parlemen.
Mereka tidak lagi dipandang sebagai sosok yang lemah, halus dan emosional yang selalu berada di belakang laki-laki. Namun, mereka mampu tampil di depan sebagai  sosok yang mampu berpartisipasi di setiap lini kehidupan. Tidak hanya itu, perempuan juga bertanggung jawab terhadap lahirnya generasi calon pemimpin yang berkualitas dan berkuantitas. Sebab, seorang perempuan yang bakal menjadi seorang ibu memiliki tanggung jawab terhadap anaknya untuk mendidik anaknya.
Seorang ibu yang menjadi guru pertama untuk mendidik dan mananamkan nilai-nilai moral, karakter, jiwa kepemimpinan dan berbagai macam pengetahuan. Tidak berhenti sampai disitu saja, ketika seorang anak mulai tumbuh dewasa, seorang ibu tetap harus memantau perkembanganya dalam seberapa jauh anak tesebut dalam berperilaku. Akan tetapi, untuk melahirkan generasi pemimpin yang berkualitas dan berkuantitas, seorang ibu harus memiliki kualitas dan kuantitas dalam pendidikan.
Pasalnya, sudah menjadi sunnatullah ketika seorang ibu ingin melahirkan generasi pemimpin yang berkualitas, tanpa sadar bahwa seorang ibu harus memiliki kualitas dan kuantitas yang memadahi pula. Akan tetapi, yang menjadi batu sandungan adalah minimnya pendidikan yang didapat oleh perempuan daripada laki-laki. Dengan realitas tersebut, masih saja sebagian perempuan yang masih mengabaikan pendidikanya.
Perempuan yang dibekali dengan pendidikan dan pengetahuan menjadi modal utama untuk melahirkan generasi pemimpin yang berkualitas. Dengan kompetensi-kompetensi yang didapatkan seorang ibu, dapat mengarahkan anak-anaknya dengan pilihan yang baik. Dengan adanya kesadaran dari perempuan, bahwa mereka berhak menduduki kursi kepemimpinan dan sadar akan melahirkan generasi pemimpin yang lebih baik untuk negara.
Penulis Muda Monash Institute dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Rakyat Jateng, 10 November 2015

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default