Menyoal Kemerosotan Moral Pemuda

Monash Media
0


Oleh: Nurul Muflihah*
Moral pemuda di zaman yang serba teknologi semakin tidak karuan. Seharusnya adanya teknologi yang canggih menjadikan pemuda lebih berpotensi memiliki kemampuan intelektual yang lebih, namun kenyataannya teknologi yang canggih menyebabkan adanya dekadensi moral pemuda. Pemuda yang dimaksud bisa dari kalangan pelajar, mahasiswa, atau lainnya. Banyak kasus yang merupakan bentuk-bentuk adanya penyimpangan sosial. Budaya seks bebas, konsumsi narkoba, miras (minuman keras), tawuran, plagiarisme dan masih banyak contoh yang berhubungan dengan adanya  kemerosotan moral pemuda.
            Fenomena yang sekarang marak di masyarakat adalah seks bebas di kalangan pelajar. Banyak siswa SMP dan SMA yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah mereka, sebab hamil di luar nikah. Penyebabnya adalah pengetahuan tentang agama yang masih kurang dan pergaulan yang bebas. Selain itu, remaja yang baru memasuki fase pubertas memiliki keingintahuan yang tinggi tentang video yang tidak pantas ditonton oleh mereka. Maka tak khayal apabila terjadi hal yang diinginkan.
            Budaya mengkonsumsi narkoba dan minuman keras (miras) dikalangan pemuda Indonesia bukan hal baru lagi. Media banyak memberitakan adanya penyalahgunaan barang tersebut. Mahasiswa yang notabene sebagai kaum terpelajar, memiliki peran sebagai agen perubahan sosial dan peran lain yang disematkan pada diri mereka ternyata paling banyak yang mengkonsumsi narkoba. Yang disebut konsumsi narkoba bukan orang yang memakainya saja akan tetapi pengedarkan juga termasuk kategori konsumsi narkoba.
            Para pelaku kebanyakan merupakan korban dari keluarga yang kurang harmonis atau broken home. Mereka kurang mendapatkan kasih sayang dan kontrol dari orang tua. Inilah penyebab terjadinya penyalahgunaan barang haram tersebut. Kurang adanya pengetahuan agama yang melekat pada dirinya juga merupakan salah satu penyebabnya.
Selain itu, moral pemuda yang tidak luput dari pemberitaan media adalah tawuran antarpelajar. Tawuran yang berakhir dengan kematian banyak ditemui di media. Seharusnya pelajar sadar akan tugasnya yaitu belajar untuk menjadi orang yang berpendidikan. Dan ingat  bahwa tawuran tidak akan memberikan efek yang positif, maka stop untuk tawuran.
            Yang tak kalah memprihatinkan adalah pencurian karya orang lain atau biasa disebut plagiarisme. Dengan adanya teknologi yang semakin canggih pelajar mempermudah dalam mengerjakan tugas yaitu dengan cara mengambil karya orang lain yang ada di internet. Karya orang lain diakui miliknya dengan menganti pengarangnya dengan namanya. Sifat malaslah yang mendasari pelajar melakukan tersebut. Menjiplak karya orang lain termasuk kriminal yang merugikan orang yang memiliki karya. Tanpa disadari juga merugikan si pelaku. 
            Orang yang sudah terbiasa mengambil karya orang lain, inovasinya akan rendah. Artinya keseringan mengambil karya orang, menjadikan pikiran si pelaku tidak bisa untuk menciptakan hal-hal baru dalam kehidupannya. Sebenarnya sebagai pelajar harus mampu menciptakan hal baru, sesuai perannya sebagai agent of social change (agen perubahan sosial). Selain plagiarisme budaya mencontek di kalangan pemuda juga tak sebatas angin lalu. Banyak di sekolah atau kampus para pelajar melakukannya, baik dengan membuat catatan kecil atau “searching” ke internet untuk menjawab pertanyaan dari guru atau dosen.
            Hal yang tidak pernah dipikirkan orang, padahal termasuk bentuk dari dekadensi moral yaitu titip absen, atau dikenal di lingkungan kampus dengan istilah TA, Titip Absen sudah membudaya di kalangan mahasiswa. Mahasiswa meminta temannya untuk  tanda tangan di kolom absennya. Ya, titip absen memang sepele, namun perbuatan ini  bentuk citraan dari sifat malas, tidak jujur dan tidak tanggung jawab. Untuk mengantisipasi hal tersebut banyak kampus yang menerapkan absen menngunakan sidik jari. Dengan adanya ini titip absen tidak bisa dilakukan lagi.
            Untuk mengurangi adanya kemrosotan moral diperlukan peran pemerintah, namun tidak menutup peran dari orang tua, agama, dan pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan. Orang tua sebagai madrasah pertama seharusnya memberikan contoh yang baik, mengontrol dan mengarahkan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Sehingga anak tahu apa yang harus dilakukan didalam masyarakat. Peran orang tua untuk mengontrol anaknya dalam pergaulan dimasyarkat juga sangat penting. Orang tua harus tahu anaknya bergaul dengan siapa berteman dengan siapa, sebab lingkungan yang mempengaruhi perilaku si anak dalam masyarakaat. Seandainya anak berteman dengan orang yang suka mabuk-mabukan, suka tawuran, dan sering  pulang pagi, natinya si anak akan terbawa arusnya untuk melakukan hal yang serupa. Orang tua juga jangan lupa mengcek tontonan anaknya apakah ada unsur pornografi atau tidak.
            Intinya peran orang tua sebagai wasit dalam kehidupan anaknya apabila anak  melakukan kesalahan maka orang tua wajib menegurnya. Dengan teguran si anak masih melanggar beri hukum pada si anak agar tahu perbuatan terseburt merupakan perilaku yang salah, sehingga dikemudian hari si anak tidak melakukannya lagi. Yang tak kalah penting untuk menekan adanya kemrosotan moral pemuda adalah diberlakukannya pendidikan karakter diskolah. Kebanyakan orang tahu fungsi dari pendidikan untuk mencerdaskan manusia, selain fungsi tersebut pendidikan memiliki fungsi lain yang tak kalah penting yaitu menciptakan manusia yang bermoral. Untuk menciptakan manusia yang bermoral pihak sekolah dapat menerapkan sistem pendidikan karakter agar siswa memiliki sifat yang suka menolong, jujur, saling menghormati dan berakhlakul karimah yang lain.
            Masih ingat di benak penulis saat masih duduk di bangku sekolah untuk menciptakan pelajar yang jujur, berakhlak mulia, pihak sekolah mendirikan kantin kejujuran. Dimana siswa tinggal menggambil barang yang diinginkan dan unganya ditaruh di tempat yang disediakan. Tidak lupa dikasih daftar harga barang. Apabila butuh uang kembalian siswa mengambil sendiri sesuai dengan uang kembaliannya. Inilah contoh konkrit dari pendidikan karakter. Peran agama untuk mengurangi kemerosotan moral pemuda sangat diperlukan sebab sejauh ini adanya penyimpangan social diakibatkan oleh tidak pahamnya mereka mengenai agama. Maka pendidikan agama seharusnya diberikan sejak dini, agar anak mengetahi syariat-syariat Islam. Dengan begitu pemuda memiliki pegangan dalam bertindak. Semoga. Wallahu a’lam.(*)

*Aktifis Gerakan Pemuda Islam (GPI) Daerah Rembang dan Mahasiswa UIN Walisongo


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default