Dibalik kaca jendela kamar, Aku memandang senja merah menyala
diantara langit angkasa guram, rona jingga bak petani panen garam.
Gerbong-gerbong kereta melompong, dipenuhi kepala omong kosong.
Tulang-tulang rapuh kejam, sementara isi kepala tak pernah memejam. Mesin puisi
ini terlahir dari sebotol air mineral, tanpa tawa di bibir untuk mampir.
Ingatkah kamu perihal janji kita memeluk angkasa? Namun kenapa
kamu (tidak) bersiap untuk meraksasa?
Dibalik kaca jendela, kita berdiam diantara kata-kata. Diam-diam
rindu saling menimbang, menakar cinta agar setimbang. Semoga.
Aku adalah belati, semakin didekati semakin tak ingin dikenali.
Tenggelam dalam lamunan tanpa batas, menuju lorong drama tanpa pentas.
Sedangkan kamu, kamu adalah seorang pelimbang, namun arahmu
selalu limbung. Hidup diantara batas-batas sekat, membuat hatimu semakin sakit.
Dibalik kaca jendela, ada seorang aku sedang bertanya. Berharap
semesta menabung kepastian, untuk membawa setangkup jawaban.
Barangkali senja yang kita tatap masih sama. Kamu tertidur dalam
pelukan bahagia. Aku mengenangmu bersama air mata.
Suara sunyi dalam jendela senja, tepian angin badai murka akan
merapalkan namamu cinta.
Jakarta, 19 Januari 2018
Lazkar Hidzib

