![]() |
| Nur Chamidah (Dok. Pribadi) |
Nur
Chamidah sosok yang patut ditiru oleh kalangan perempuan. Kehidupan
sehari-harinya, membuat Nur Chamidah menjadi perempuan tangguh, anti mengeluh
dan tidak cengeng. Tuntutan untuk bisa mengayomi dan memberikan contoh kepada adik-adiknya
membuatnya sukses menjadi perempuan yang mandiri.
Seperti
kebanyakan remaja pelajar umumnya, lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1
Kebumen di tahun 2010, Mida (panggilan akrabnya) bercita- cita untuk
melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, karena
ekonomi keluarga yang masih belum stabil, harapan itu terpaksa disimpan
rapat-rapat karena tidak ingin membebani orangtua.
Menyimpan
rapat-rapat keinginan melanjutkan ke jenjang selanjutnya, ternyata tidak
membuatnya nyaman. Harapan itu selalu saja terbayang oleh Mida. Bayangan yang
selalu datang kenikmatan suasana pendidikan di perkuliahan, membuatnya
bersemangat kembali untuk melanjutkan pendidikan di jenjang selajutnya.
Tepat
pada tahun selanjutnya, semangat Mida ini semakin menggebu. Mida memutuskan
untuk pergi ke Bandung menyusul kakaknya yang ketika itu menjadi pegawai di
salah satu pabrik tekstil, tak lain dan tak bukan adalah untuk mengumpulkan
biaya perkuliahan di tahun mendatang.
Ketika
uang untuk perkuliahan sudah dirasa cukup. Mida melakukan pendaftaran pertamanya
melalui jalur SNMPTN. Mida memilih IAIN Purwokerto, UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta dan IAIN Walisongo Semarang (sekarang UIN Walisongo) sebagian kampus
tujuannya. Setelah melewati tes SNMPTN, akhirnya Mida diterima di IAIN
Walisongo.
Mida
pun berangkat ke Semarang, melakukan registrasi dengan uang yang sudah
dikumpulkannya saat di Bandung. Tapi yang menjadi problem selanjutnya, ia belum
mendaptakan tempat tinggal di Semarang. Adapun kalau menemukan, harganya telalu
tinggi menurutnya.
Setelah
berusaha berkeliling dari daerah kampus I sampai kampus III, akhirnya Mida menemukan informasi bahwa ada yayasan yang membuka
beasiswa bagi para mahasiswa. Mendengar informasi tersebut, Mida mencoba
mendaftar beasiswa itu, dengan harapan beasiswa tersebut dapat membantu
pengeluarannya selama menempuh pendidikan di perantauan.
Monash
Institute, yayasan yang memberikan beasiswa, rupanya ditakdirkan untuk Mida.
Melewati beberapa tes, ia pun diumumkan lolos beasiswa tersebut kategori kedua,
yakni beasiswa tempat tinggal. Berproses secara serius di forum ini, mulai public
speaking, conversation, jurnalistik, dll, ia pun berhasil mandiri dan tidak
mudah menyalakan orang lain.
Berproses
secara serius setiap hari, didampingi beberapa mentor, antara lain: Mr. Abu
Nadlir, Mr. Attabik, Mr. Faedurrohman, dll serta keaktifannya menulis di koran membawa
ia lulus tepat waktu 4 tahun di UIN Walisongo Jurusan Pendidikan Agama Islam dengan IPK Cumlaude.
Pengalaman
masa kecil membuat Nur Chamidah tumbuh menjadi perempuan yang mandiri dan tidak
mudah menyalahkan keadaan. Bahkan, dahulu di umurnya yang masih sangat muda, ia
selalu membantu bapaknya mencari keong dan ikan. Semua dijalani Mida dengan
penuh rasa ikhlas. Mida kecil selalu pergi membantu orang tuanya mencari keong sebelum bersiap menempa diri di bangku sekolah. Kegigihannya dalam mencari ilmu tidak membuat dia lemah dan putus asa, sekalipun penuh dengan rintangan. Bagi dia, ekonomi bukan alasan untuk berhenti membangun harapan demi harapan yang diimpi-impikan di masa depan.
Segala
perjuangan di awal memang terasa pahit, namun semua itu mengantarkannya pada
manisnya ketetapan Tuhan. Perempuan kelahiran Kebumen ini telah selesai
menempuh pendidikan magisternya di jurusan yang sama dan kemudian menyempurnakan
sebagian agamanya di bulan Oktober 2018. (Red: Kurnia Intan Nabila)

