Domba atau kambing merupakan binatang lucu lagi unik.
Itulah kesan yang penulis dapatkan selama memelihara dan menggembalakannya
sejak kecil. Di era modern yang mengedepankan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) seperti sekarang ini, domba mungkin dianggap sebagai binatang
yang tidak memiliki prospek bagus. Apalagi dengan kecenderungan masyarakat
modern yang materialistis, aneka bisnis yang berkaitan dengan hewan mamalia
satu ini bisa dibilang tidak menjanjikan. Bahkan bagi sebagian orang,
bersentuhan, apalagi bergelut dengan domba adalah hal yang menjijikkan. Tentu
saja tidak menarik, karena menggembala atau berternak kambing bukan merupakan
profesi bergengsi. (Dalam tulisan ini, term kambing dan domba memiliki makna
dan subtansi yang sama).
Lepas dari fenomena yang ada kini, muncul pertanyaan
menggelitik ketika membaca hadis Nabi yang berbunyi: Maa baatsa Allahu
nabiyyan, illaa raa al-ghanama (Tidaklah Allah mengutus Nabi, kecuali dia
menggembala kambing). (HR. Bukhari-Muslim). Bahkan, sebagaimana dikutip oleh
Husain Haikal dalam buku Hayatu Muhammad, Rasulullah Saw, dengan rasa gembira
mengenang masa mudanya saat masih menggembalakan kambing. Nabi Muhammad Saw
bersabda: Nabi-nabi yang diutus Allah itu penggembala kambing. Musa diutus, dia
penggemaba kambing. Daud diutus, dia penggemaba kambing. Aku diutus, juga
penggembala kambing keluargaku di Ajyad. Tentu yang menjadi pertanyaan mendasar
adalah mengapa Tuhan memilih kambing untuk digembalakan oleh orang-orang
terpilih-Nya, bukan hewan lainnya.
Menurut Hasil penelitian USDA (United States
Department of Agriculture) bahwa daging kambing sesungguhnya lebih baik dari
daging sapi, bahkan juga lebih baik dari daging ayam berdasarkan tingkat
kalori, lemak, dan kholesterolnya. Tidak hanya itu, terdapat makna filosofis
yang perlu dipelajari manusia agar memahami subtansi menggembala kambing. Makna
ini kemudian diharapkan mampu menggiring manusia kepada kebijaksanaan dalam
rangka membangun peradaban manusia yang bermartabat, sebagaimana dilakukan oleh
utusan-utusan Allah di masa lalu. Dengan itulah, tugas manusia sebagai
khaliifatullah fi al-ardl (pemimpin di mukan bumi) bisa dijalankan dengan baik.
Harta dan Penghidupan Terbaik
Dalam teologi Kristen, terdapat perumpamaan domba yang
hilang. Perumpamaan itu diajarkan oleh Isa kepada murid-muridnya, sebagaimana
tercantum dalam Matius 18: 12-14 dan Lukas 15: 3-7. Setiap orang Kristen
dilambangkan dengan seekor domba sedangkan Yesus disebut Sang Gembala Agung.
Tidak heran, jika kita sering mendengar ungkapan: Domba-domba yang tersesat,
kemarilah! Tentu saja agama Yahudi dan agama-agama sebelumnya juga memiliki
cerita tersendiri terkait binatang yang satu ini. Tidak berlebihan, jikalau
orang menyebut domba sebagai hewan yang istimewa dengan kesejarahannya yang
tidak diragukan lagi. Sampai-sampai Nabi Muhammad Saw mengungkapkan sebuah
nubuwwah tentang domba, sebagaimana dikatakan Abu Said, Rasulullah berkata:
Akan tiba masanya ketika harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala
di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari
dari beberapa fitnah. (HR. Bukhari).
Baca Juga: Pancasila dan Piagam Madinah
Imam Muslim dalam buku Sahih Muslim juga menulis
sebuah hadis, Nabu berkata: Termasuk penghidupan terbaik adalah seorang yang
memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya. Setiap
mendengar panggilan perang, dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk
mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa.
Atau seorang laki-laki yang menggembala domba di puncak gunung atau lembah dari
beberapa lembah. Dia mendirikan shalat, memberikan zakat, dan menyembah kepada Tuhannya
hingga kematian dating kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia dan hanya
berbuat baik kepada mereka. Berdasarkan dua hadis shahih tersebut, dapat
dipahami bahwa domba adalah harta muslim terbaik dan menggembalakannya adalah
penghidupan terbaik, setelah jihad.
Manusia yang memiliki kecerdasan dan sensitivitas
tinggi akan mendapat banyak pelajaran dari aktivitas menggembala. Dr. Syafii
Antonio dalam bukunya berjudul Muhammad Saw: The Super Leader Super Manager
menjelaskan bahwa kegiatan menggembala akan memiliki beberapa manfaat,
diantaranya: pathfinding; mencari padang rumput yang yang subur, directing;
mengarahkan dan menggiring domba-dombanya, controlling; mengawasi agar tidak
tersesat atau terpisah dari kelompok, protecting; melindungi dari hewan
pemangsa dan pencuri, reflecting; perengungan terhadap alam semesta yang
demikian indah. Manfaat menggembala yang termanifestasikan dalam beberapa
indikator tersebut, sangat diperlukan oleh seorang pengusaha. Tanpa kemampuan
itu, usaha yang dijalankan tidak akan berkembang pesat dan optimal.
Sesungguhnya, beberapa kemampuan tersebut juga harus dimiliki oleh seorang
pemimpin politik (baca: negara).
Seorang pemimpin dituntut dapat berbuat adil kepada
rakyatnya, sehingga amanah yang diberikan harus diemban dengan penuh kejujuran
dan tanggung jawab. Dengan demikiran, terwujudnya masyarakat adil, makmur, dan
sejahtera bisa diharapkan. Terdapat hadis Nabi tentang pemimpin yang sangat
terkanal berbunyi: Kullukum raain, Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap
pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Terjemahan
tekstualnya, bahkan diartikan sebagai penggembala, bukan pemimpin. Penggembala
akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. Begitu juga setiap pemimpin
akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Pemimpin yang baik adalah
penggembala yang baik.
Domba disebut harta terbaik, karena memiliki kadungan
gizi tinggi dan manfaat yang multiguna. Aktivitas menggembalakannya disebut
juga penghidupan terbaik, karena memang tidak mudah dan membutuhkan kesabaran,
serta tanggung jawab yang tinggi. Secara kontekstual, aktivitas menggembala
yang disebut penghidupan terbaik itu tidak terbatas pada menggembala domba
saja, tetapi pada saatnya adalah menggembala umat dan bangsa. Tidak heran jika Mohammad
Nasih menyebut, pahala dan dosa terbesar adalah milik politisi, yang pada
setiap gerak-langkah kebijakannya, akan menentukan nasib banyak orang yang
dipimpinnya. Karena itu, mari menggembala, mari berwirausaha, mari berpolitik
dan berkuasa, untuk mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridlai Allah Swt
dan menjadi umat terbaik di sisi Tuhan yang maha kuasa dan utusan-Nya. Wallahu
a’lam.
Oleh: Mokhamad Abdul Aziz, Penggembala Kambing di Monash Institute, Peraih
Beasiswa Pemuda Berprestasi Kemenpora RI pada Magister Ilmu Ekonomi dan Studi
Pembangunan (MIESP) Universitas Diponegoro Semarang

