Dr. Mohammad Nasih, M.Si
Pengajar di Program Pascasarjana
Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH
INSTITUTE Semarang
Di kalangan
orang-orang yang memiliki cita keunggulan peradaban manusia, baik percaya
kepada Tuhan maupun terutama yang tidak percaya kepada Tuhan, akal menempati
posisi sangat penting. Bagi yang percaya kepada Tuhan yang memiliki firman,
akal menjadi sarana untuk memahami firmanNya. Dari firman itu, manusia berakal
bisa menangkap dan membangun analogi bahwa agama yang diyakini adalah benar,
sedangkan yang lain adalah salah.
Ini bisa muncul
dari logika tentang kebenaran bahwa jika terdapat dua atau lebih hal yang
berbeda atau bertentangan, maka kemungkinannya hanya dua, yaitu: semuanya salah
atau salah satu saja yang benar. Sedangkan mereka yang tidak percaya kepada
Tuhan, bahkan menempatkan akal pada posisi sangat superior atau sentral;
walaupun tentu saja dalam pandangan penganut agama yang benar, penempatan ini
merupakan kekeliruan fatal. Bagi mereka, akal bukan sumber, tetapi sekedar
sarana untuk mengetahui kebenaran.
Namun demikian,
masing-masing tetap memiliki idealitas bahwa akal yang sehat adalah sangat
penting. Kehidupan yang baik hanya akan bisa diwujudkan apabila
individu-individu yang ada dalam masyarakat berakal sehat. Sebaliknya, jika
banyak individu yang tidak berakal sehat, maka akan terjadi kehidupan yang
rusak.
Filsafat dan
agama secara tegas menekankan tentang pentingnya akal. Descartes (1596-1650),
seorang filsuf Perancis yang dijuluki Bapak Filsuf Modern, bahkan berpandangan
bahwa keberadaan manusia ditentukan oleh kemampuan berpikir yang merupakan
kerja akal. Cogito ergo sum; aku berpikir, maka aku ada, katanya. Dalam
pandangan agama, Islam terutama, akal dipandang sebagai karunia Allah yang
termasuk paling berharga, atau bahkan bisa dikatakan yang paling utama.
Karena memiliki
akal inilah, manusia nanti akan dimintai pertanggung-jawaban atas amal
perbuatan yang telah mereka lakukan. Akal menjadi objek pembebanan hukum
(manâth al-taklîf). Lâ dîna liman lâ ‘aqla lah, tidak ada agama bagi orang yang
tidak berakal. Orang gila tidak memiliki tanggung jawab baik di depan hukum
dunia, maupun di hadapan Tuhan nanti di akhirat. Sebab, dengan akal, manusia
bisa menangkap tanda-tanda yang diberikan oleh Allah, lalu harus menjadikannya
sebagai panduan untuk menjalani kehidupan. Dengan menjadikannya sebagai sarana
untuk menangkap kebenaran secara optimal, manusia akan mendapatkan keselamatan.
Akal juga
termasuk salah satu di antara lima perkara dasar (al-dlaruriyyat al-khamsah)
yang harus dilindungi. Karena itu, Islam mengharamkan segala hal yang bisa
merusak akal, seperti minum minumal keras, mengkonsumsi narkoba, pornografi,
dll. Bahkan, dalam hukum Islam, terdapat sanksi akibat perbuatan-perbuatan itu;
tidak seperti perbuatan yang dilarang lainnya tetapi tanpa sanksi. Itu
merupakan bukti tentang penekanan Islam untuk memelihara akal.
Di antara yang
bisa merusak akal adalah menjadikan kebohongan sebagai kebiasaan. Hitler
misalnya melihat ini sebagai sebuah kenyataan. Menurutnya, sebagaimana
ditulisnya dalam autobiografinya, jika kebohongan diulangi secara terus
menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Sebab, pengulangan merupakan
salah satu metode hipnotis yang sangat berpengaruh kepada pikiran. Yang
diulang, akan terukir dan terpatri di dalam pikirkan, lalu membuatnya menjadi
ilusi dalam hidup. Karena itu, akal kemudian mengalami kerusakan, sehingga
terhalang dari kebenaran.
Untuk merawat
akal sehat, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi, di antaranya: Pertama,
menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya “sandaran”. Mengharap kepada manusia yang
sesungguhnya sama-sama lemah, walaupun terlihat memiliki keunggulan,
sesungguhnya menyebabkan penghambaan kepada yang tidak perlu dipertuan.
Mempertuan yang
sesungguhnya tidak layak dipertuan bisa menyebabkan hal-hal yang tidak sesuai
dengan akal sehat pun harus dilakukan. Kedua, memperbanyak hubungan dengan
orang-orang yang berakal sehat dan menghindari orang-orang yang kehilangan akal
sehat. Bersama dengan orang-orang yang berakal sehat akan menyebabkan keinginan
untuk terus berpikir dan belajar selalu meningkat. Sebaliknya, bersama dengan
orang-orang yang telah kehilangan akal sehat akan menyebabkan diri merasa cukup
dengan yang telah ada atau bahkan terpapar cara berpikir yang tidak sehat.
Ketiga, memiliki
logistik yang cukup. Dalam banyak hal, logika akan menjadi aktif, dan logika
yang sudah aktif akan menjadi makin aktif apabila ditopang oleh logistik yang
memadai. Jika logistik tidak memadai, logika seringkali menjadi tidak berjalan
dan mudah dibelokkan dari jalan kebenaran menuju kesesatan pikiran. Orang yang
fakir, akan mudah untuk dibeli dan tergoda oleh materi yang bahkan walaupun
sedikit.
Keempat, tidak
berambisi untuk mendapatkan kekuasaan atau jabatan secara berlebihan. Kekuasaan
memang penting, karena ia ibarat pisau dapur yang bisa digunakan untuk kebaikan
atau sebaliknya keburukan. Ia memang perlu diraih untuk mewujudkan kebaikan dan
menutup jalan bagi keburukan. Namun, mencintainya apalagi secara berlebihan
untuk mendapatkan gengsi dan fasilitas yang menyertai lebih banyak dampak
negatifnya, dan di antaranya yang terbesar adalah kehilangan akal sehat. Tidak
sedikit orang yang sesungguhnya memiliki kapasitas intelektual yang baik,
tetapi karena kebutuhan yang mendesak kepada uang dan ambisi ikut menikmati
kekuasaan, intelektualitas mereka menjadi tertutup dan justru sering
menunjukkan kebodohan.
Kelima,
membangun kebiasaan kritis dan tidak mudah percaya kepada informasi yang
disebarkan, terutama oleh penguasa. Era digital sangat memudahkan oleh siapa
pun yang menguasai media, termasuk juga media sosial, untuk menyebarkan
informasi apa pun. Dengan segala sumber daya yang dikuasai oleh penguasa, tentu
saja mudah bagi mereka untuk menyebarkan apa pun yang mereka konstruksi,
termasuk informasi dengan framingsesuai dengan keinginan mereka.
Jika informasi macam ini tidak dihadapi dengan sikap kritis, maka informati
yang datang bertubi-tubi berpotensi besar membuat akal yang sehat menjadi
sakit. Apalagi jika tidak memiliki ketahanan untuk menerima pandangan seolah
tidak sehat akal dari banyak orang yang telah tak lagi sehat akal. Orang yang
sehat akal dalam mayoritas masyarakat yang telah tak sehat akal, justru akan
mengalami tekanan karena seringkali dituduh tak sehat akal oleh mereka yang tak
berakal sehat.
Keenam,
mengembangkan nalar. Sesungguhnya nalar berasal dari bahasa Arab “nadhar”,
berarti melihat-penglihatan. Maksudnya adalah melihat sesuatu yang abstrak.
Mungkin lebih tepat nalar diartikan dengan visi. Dengan visi yang berkembang
dan menjadi kuat, maka yang memilikinya tidak akan mudah dibohongi dengan
sesuatu yang nampak kasat mata, yang kelihatan bagus tetapi sesungguhnya buruk.
Dengan nalar ini, maka yang bersangkutan bisa membedakan antara “membangun
Indonesia” dengan “membangun di Indonesia”.
Dalam keadaan apa pun, apalagi dalam
zaman yang sering disebut dengan zaman edan, juga masyarakat yang mengalami
desain untuk berakal tak sehat, akal harus diaktifkan dengan usaha yang serius.
Sehat akal juga merupakan salah satu prasyarat untuk memilih pemimpin dan
wakil-wakil yang bisa diharapkan mampu menjalankan amanat. Ketajaman akal harus
benar-benar dijaga, agar mampu menangkap dan membedakan antara kebohongan
dengan kebenaran. Dengan menjaga akal sehat, di tengah mayoritas masyarakat
yang berakal tak sehat, belum tentu akan selamat. Namun, jika membiarkan akal
menjadi ikut tak sehat, pasti semua menjadi tak selamat. Wallahu a’lam
bi al-shawab.
Sumber: www.rilis.id

assalamualaikum wr, wb, saya IBU PUSPITA WATI saya Mengucapkan banyak2
BalasHapusTerima kasih kepada: AKI SOLEH
atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan "4D"
alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI
dan berkat bantuan AKI SOLEH saya bisa melunasi semua hutan2 saya yang ada di BANK BRI dan bukan hanya itu AKI alhamdulillah,
sekarang saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2
Itu semua berkat bantuan AKI SOLEH sekali lagi makasih banyak ya, AKI
yang ingin merubah nasib
seperti saya ! ! !
SILAHKAN CHAT/TLPN DI WHATSAPP AKI: 082~313~336~747
Sebelum Gabung Sama AKI Baca Duluh Kata2 Yang Dibawah Ini
Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini.!!
1: Di kejar2 tagihan hutang
2: Selaluh kalah dalam bermain togel
3: Barang berharga sudah
terjual buat judi togel
4: Sudah kemana2 tapi tidak
menghasilkan, solusi yang tepat.!!
5: Sudah banyak dukun ditempati minta angka ritual belum dapat juga,
satu jalan menyelesaikan masalah anda.!!
Dijamin anda akan berhasil
silahkan buktikan sendiri
Angka:Ritual Togel: Singapura
Angka:Ritual Togel: Hongkong
Angka:Ritual Togel: Toto Malaysia
Angka:Ritual Togel: Laos
Angka:Ritual Togel: Macau
Angka:Ritual Togel: Sidney
Angka:Ritual Togel: Brunei
Angka:Ritual Togel: Thailand
" ((((((((((( KLIK DISINI ))))))))))) "