Bersatu Dalam Perbedaan

Monash Media
0
Mokhamad Abdul Aziz
Ramadhan sering diidentikan sebagai bulan ukhuwah. Apalagi setelah pemilu 2019, Ramadhan diharapkan menjadi momentum untuk rekonsilasi anak bangsa yang terbelah. Harapan itu memang beralasan. Karena di dalam bulan Nuzul al-Qur’an itu, selain terdapat praktik ibadah ritual yang khas, juga banyak dianjurkan ibadah yang berdampak kepada kehidupan sosial, seperti puasa dengan menahan amarah, buka puasa bersama, memperbanyak sedekah, saling maaf-memaafkan, menunaikan zakat, dan lain sebagainya.
Namun, tidak berarti umat Islam terlepas dari ancaman perpecahan di bulan suci tersebut. Perbedaan dalam menentukan awal puasa dan kapan hari raya Idul Fitri, seringkali berdampak pada perpecahan, disebabkan klaim kebenaran (truth claim) internal yang berlebihan dan saat yang sama mencela dan menyalahkan yang berbeda. Melihat problematika itu, KH. Maimoen Zubair, Pengasuh PP al-Anwar Sarang Rembang, menulis kitab berjudul Nushus al-Akhyar fi al-Shaumi wa al-Ifthar.
Kitab ini menjelaskan kandungan teks-teks Alquran maupun Hadis yang berkaitan dengan puasa (shaum) dan berbuka (ifthar). Tujuan penulisannya agar masyarakat terhindar dari perbedaan-perbedaan pendapat tentang melihat bulan pada awal dan akhir Ramadhan, kesaksian melihat bulan dan hukum terkait puasa lainnya. Mbah Moen menjelaskan teks-teks Alquran dan Hadis dengan merujuk kitab-kitab tafsir, hadis, dan fikih.
Dalam muqadimah kitabnya, Mbah Moen mengungkapkan kegelisahannya tentang perbedaan organisasi dalam waktu ber-Idul Fitri. Pada 1418 H, ada satu organisasi yang berhari raya Kamis dan sebagian yang lain menetapkan Idul Fitri di hari Jum’at, disebabkan oleh perbedaan keyakinan dan metode melihat hilal. Celakanya, perbedaan itu bukannya disikapi dengan bijak dan penuh toleransi, tapi justru digunakan oleh sebagian oknum untuk membangun fanatisme buta dengan propagandanya. Menurut Mbah Moen, yang demikian itu disebabkan oleh syahwat pribadi dan hawa nafsu yang mereka ikuti.
Mbah Moen menjelaskan bagaimana seseorang seharusnya bersikap terhadap perbedan hasil ijtihad dengan memberikan contoh perbedaan imam empat (al-a’imatu al-arba’ah) dalam menentukan waktu shalat dan keutamaannya. Pendapat mereka dipakai di masjid al-Haram, masjid Nabawi, dan masjid Aqsha. Namun, mereka tidak menafsirkan perbedaan itu sebagai perpecahan dan pertengkaran, tetapi justru menambah terbukanya kekuatan ukhuwah dan kecintaan di antara mereka. Sesungguhnya perbedaan pendapat di antara mereka itu justru menjadi jalan untuk tetap berpegang teguhlah dengan tali Allah, sebagaimana perintah-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 103: Wa'tasimuu bi hablillahi jami’an wa laa tafarraqu.
Mengenai ini, Mbah Moen menambahkan, para ulama salaf kita yang shalih ketika menemukan perbedaan di antara mereka justru menjadikannya sebab kemaslahatan umat. Ibarat pohon (QS. Ibrahim: 24-25) yang bermacam-macam bunganya, menghijau cahaya daunnya, menghasilkan buah yang matang, memperkuat akar pohon yang mencengkram tanah. Oleh sebab itu, keimanan dan ketaqwaan menjadi modal dasar seseorang untuk berbeda. Semoga Ramadhan kali ini menjadi jalan untuk terus meningkatkan ketaqwaan, sehingga kita siap bersatu dalam perbedaan—ibarat bunga yang warna-warni, perbedaan itu sangatlah indah. Wallahu a’lam bi al-shawaab.*
*Oleh: Mokhamad Abdul Aziz, Direktur Eksekutif Monash Institute & Dosen IAIN Salatiga, Alumnus PP Al-Barkah Sulang-Rembang.
Tulisan ini telah dimuat di koran Suara Merdeka Edisi Selasa, 14 Mei 2019
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default