Monash-media, Semarang – Kementerian Peribadatan dan Pembangunan Karakter adakan diskusi "Kepekaan". Kementerian ini menghadirkan empat narasumber, yaitu
Abdurrahman Syafrianto, Kodrat Alamsyah, Uli Maghfiroh, dan Susan Venia, Sabtu
(9/5).
Menurut Lia Puji Lestari, diskusi kepekaan ini sangat
diperlukan, sebab, disciples Monash Institute ini dikader untuk menjadi seorang
pemimpin.Seorang pemimpin itu harus peduli atau peka terhadap lingkungan sekitar,
apalagi kalau hal itu menyangkut kepentingan umat.
“Jangan takut mengatakan kebenaran, meskipun itu
menyakitkan. Berjama’ahlah dalam hal kebenaran. Sebab, mereka adalah teman kita
yang lebih dari saudara. Cintailah teman
dan saudara kita. Begitulah seni mencintai,” ungkap Menteri Petibadatan dan
Pemmbanguna Karakter Kabinet Conary.
Abdurrahman Syafrianto menjelaskan bahwa seorang pemimpin
itu harus memiliki kepekaan. Kepekaan ini bisa diartikan sebagai kepedulian.
“Manusia dikatakan manusia yang sosial apabila ia memiliki
kepedulian terhadap orang lain. Hal ini menunjukkan kalau manusia itu makhluk yang
membutuhkan orang lain,” tutur Presiden Monash Institute Kabinet Persatuan.
Susan Venia menambahkan bahwa ia lebih menyukai hal-hal
kecil untuk dilakukannya tanpa sepengetahuan orang lain. Biasanya ia mengingatkan
teman-teman dengan cara face to face,
agar teman-teman tidak merasa sakit hati dan dipermalukan di depan umum.
Selain itu, Kodrat Alamsyah ikut memberikan penjelasan
mengenai kepekaan. Kepekaan yang ia lakukan biasanya berupa sindiran atau
menggunakan bahasa kode. Ia tidak menegur orang yang keliru secara langsung. Kepekaan itu bisa ditimbulkan dengan
cara membereskan diri.
“Kita tidak akan menegur orang lain, kalau diri kita belum
beres. Oleh karena itu, agar kita tidak dikatakan sebagai orang yang kaburamaqtan, maka kita harus memberikan
contoh. Misal, kita meminta seseorang untuk disiplin, ya kita harus disiplin
dulu,” jelas Presiden Kabinet Sapu Lidi.
Adapun pandangan tentang kepekaan menurut Uli Maghfiroh
yaitu, seorang pemimpin itu harus peka. Kepekaan itu dipahami oleh
masing-masing orang.
“Semakin tinggi kedudukan seseorang, maka ia akan semakin
tidak kelihatan kesempurnaannya,” pungkas Perdana Menteri Kabinet Persatuan.
(Red/ ANAF)

