![]() |
| Oleh : Alfiatur Rohmaniyah
(Peraih Beasiswa Unggulan
Monash Institute tahun 2015)
|
Krisis
kepemimpinan di Indonesia sepertinya telah menjadi polemik yang tidak kunjung
berakhir. Hal itu terjadi karena mayoritas pemimpin saat ini, sama sekali tidak
layak disebut sebagai seorang pemimpin. Sebab, dilihat dari tindakannya yang
masih kurang mampu mengatur strategi dalam memimpin. Sehingga, rakyat menjadi
tidak teratur seperti sekarang ini.
Untuk
menganalisis genealogi intelektual seorang pemimpin yang berkaitan dengan persoalan- persoalan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini bisa dilihat.
Bagaimana kapasitas dan kualitas
pemimpin yang ada di negara ini. Saat ini, pemimpin yang ada sama sekali jauh
dari harapan rakyat. Tidak hanya dari kualitas seorang pemimpin, akan tetapi banyak permasalahan-permasalahan yang
terlihat oleh mata secara jelas.
Seperti
halnya, banyak masyarakat yang menderita akibat kemampuan seorang pemimpin yang
keliru dalam menjalankan struktur kepemimpinan, mengelola dan wawasannya. Semua
masih jauh dari yang diharapkan. Hal seperti ini yang menjadikan pemimpin di Indonesia tidak seperti yang
diharapkan.Tindakan seorang pemimpin yang seharusnya bisa menjadi kunci utama untuk kemajuan suatu negara dan mensejahterakan masyarakatnya, dalam
keseharian seorang pemimpin harus bisa menjalankan roda pemerintahan dengan
berlandaskan atas konstitusi yang telah
ditetapkan.
Sejatinya,
pemimpin merupakan sosok yang menjadi pengayom, pelindung, pembela dan pelayan
untuk rakayatnya. Selain itu, pemimpin juga mampu menjadi tauladan, menjadi
orang yang lebih dari orang yang dipimpin. Namun buka n lantas ia merasa lebih
dan menganggap rendah orang yng dipimpin,
pemimpin harus bisa lebih bijaksana. Pemimpin seperti inilah yang masih
jarang bahkan langka untuk ditemukan. Khususnya di Indonesia, pemimpin di
Indonesia sama sekali tidak memiliki jiwa kepemimpinan, terutama dalam urusan
mengambil kebijakan dan hukuman.
Sementara
itu, Kebijakan seorang pemimpin sangatlah berpengaruh besar bagi bangsa dan
negara. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban seorang pemimpin agar memiliki
kapasitas dan kapabalitas dalam memimpin. Namun, sangatlah disayangkan,
pemimpin yang diharapkan rakyat kini berbanding terbalik. Pemimpin sekarang
sama sekali belum bisa menjalankan apa
yang seharusnya menjadi kewajiban dan tangungjawabnya.
Banyak bualan-bualan yang telah disampaikan,
tapi tak ada satupun yang terlaksana. Inilah penyakit yang menggerogoti bangsa
Indonesia tercinta ini. Kepemimpinan yang penuh dengan imitasi. Sebenarnya,
rakyat tak butuh janji namun bukti. Rakyat tidak mau menerima pemimpin harus
diperbaharui dan diperbaiki.
Rakyat
Indonesia menginginkan dan membutuhkan jiwa pemimpin yang handal dan
profesional dalam menjalankan tugasnya. Akan tetapi semua itu tidak mudah untuk
dilakukan dan didapatkan. Butuh perjuangan dan kerja keras untuk melahirkan
pemimpin dengan kualitas yang baik. Maka dari itu pembinaan karakter seorang pemimpin sangat
perlu dibina sejak dini. Semakin lama dibiarkan kepribadian dan mental
seseorang akan semakin memburuk seperti
terjadi sekarang ini.
Sosok
pemimpin yang memperjuangkan nasib rakyat sangatlah dirindukan oleh masyarakat
yang sedang terkampar lemah ini. Pemimpin yang membawa misi rakyat, yang dipilih oleh rakyat karena kapalitas dan
kapabilitasnya yang selama ini sudah begitu deras dikumandangkan namun baru
sebatas manisnya lidah yang tak bertulang.
Untuk
menciptakan pemimpin yang mempunyai kualitas yang baik, mulai sejak dini para
generasi muda harus dijaga lebih ketat. Dalam pemberian pembekalan seperti
halnya menambah wawasan keilmuan dan mental yang kuat yang harus diberikan
dengan benar. Jangan sampai kondisi pemimpin yang terjadi sekarang ini terulang
kembali.
Melihat
kondisi yang sekarang, pemimpin yang selalu kita damba-damdakan kini sangatlah
minim akan kesadaran dalam menjalankan berbagai tugasnya sebagai pengemban
amanat rakyat. Tidak lain halnya di Indonesia yang pada hakikatnya seorang
pemimpin harus menjalankan amanahnya
dengan alhasil seorang pemimpin harus bisa mencerdaskan seluruh rakyat
Indonesia seperti dalam kesejahteraan ekonomi, politik, dll.
Sebaliknya,
jika tindakan seorang pemimpin keliru dalam menjalankan struktur
kepemimpinannya, maka akan berdampak yang luar biasa terhadap kondisi
masyarakatnya. Oleh sebab itu, di zaman modern ini pemimpin haruslah
profesional dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.
Sebagai pemimpin, tuntutan pertama yang harus
dimilikinya adalah mempunyai visi yang kemana organisasi itu harus dibawa dan
bagaimana strategi serta implementasinya. Dengan visi itu akan mencerminkan
kedalaman dan keluasan pemahaman yang memungkinkan untuk mendeteksi dan
membentangkan pola-pola dan kecenderungan-kecenderungan di masa depan yang
membimbing pemimpin untuk membawa organisasinya yang memasuki masa depan. Tanpa mempunyai visi, suatu organisasi akan lenyap. Dan akhirnya
masyarakatlah yang menjadi korbannya.
Untuk
menjadi pemimpin yang diharapkan, seorang pemimpin harus mampu membuat
strategi, yaitu dengan menguasai mendan, memiliki wawasan yang luas dan dapat
berpikir cerdas, kreatif dan inovatif, serta mampu melihat masalah secara
komprehensif, menyusun skala prioritas dan mampu memprediksi masa depan,
memiliki moral yang tinggi. Sebab moralitas merupakan modal dasar dari seorang
pemimpin yang berkualitas.
Seorang pemimpin merupakan figur secara moral
yang dapat dipertanggung-jawabkan. Serta mampu menjadi mediator secara optimal.
Karena dengan begitu, pemimpin akan mampu berfikir secara positif, dan setiap
ada masalah mampu berada di tengah, yang memiliki masalah melobi serta mampu
mendudukkan masalah secara profesional. Jika sudah mempunyai kriteria-kriteria
sebagaimana disebutkan di atas, maka baru bisa dikatakan sebagai pemimpin yang
profesional.
Oleh
sebab itu, mulai dari sekarang lah para pemimpin harus mulai merubah pola pikirnya, yang secara profesional mampu
membedakan mana kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat. Bagi Anwar,
pemimpin harus bertanggungjawab untuk membentuk kehidupan yang lebih bermakna
dan adil. Pemimpin yang profesional harus bisa menghadapi berbagai masalah yang
timbul dalam pemerintahannya.
Dalam menghadapinya, diperlukan suatu dasar
pendekatan antara pemimpin dan masyarakat untuk mengklasifikasi sumber daya
manusia, utamanya. Seperti apa yang dikatakan Anwar Ibrahim, bahwa suatu
kepemimpinan haruslah peka dan prihatin terhadap suara dan aspirasi rakyat
serta dapat merumuskannya. Di samping itu, seorang pemimpin juga dituntut untuk
bisa menciptakan ide-ide kreatif. Sebab, dengan ide-ide tersebut bisa
menjaminkan kesejahteraan rakyat.
Wallahu
a'lam bi al-Shawaf.

