![]() |
| Oleh: Khalilatul ‘Azizah* |
Pemuda merupakan elemen vital dalam
pembangunan peradaban suatu bangsa. Hampir dalam setiap pergerakan, pemudalah
yang menjadi motor penggeraknya. Perlu diketahui bahwa, berbagai potensi, bakat
serta kecenderungan, baik yang mengarah pada kebaikan maupun keburukan,
mengalir kuat ketika masa muda. Sehingga, proses tersebut berdampak cukup
signifikan bagi pembentukan karakter serta kematangan kepribadian seseorang di
masa tuanya. Itulah sebabnya, masa transisi menuju dewasa ini merupakan periode
keemasan bagi setiap insan.
Dewasa ini, di tengah derasnya arus
globalisasi yang melanda dunia, tak terkecuali Indonesia, menimbulkan berbagai
dampak dalam berbagai aspek, terutama pengaruh bagi kawula muda dalam proses
pembentukan karakter mereka. Dekadensi moral, merupakan pemandangan yang sudah
tidak asing lagi pada generasi penerus negeri ini. Namun, terasa aneh karena
dilema-dilema terkait moral justru marak terjadi di negara yang mayoritas
berpenduduk muslim seperti Indonesia ini. Tata aturan serta nilai berkehidupan
yang sebelumnya telah terbentuk nampaknya telah tergeser dari porosnya. Pemuda
seakan kehilangan ruh dan jati diri kepemudaan mereka, sehingga mereka salah
kaprah dalam mengekspresikan hakikat jiwa mudanya. Lebih dari itu, tugas yang
diembankan pada mereka tidak dapat terealisasi dengan baik, karena mereka
tersesat jauh dari fungsi utama mereka sebagai tiang kehidupan umat dan bangsa.
Sangat disayangkan, realitas dekadensi moral pemuda bangsa ini justru terjadi
di era globalisasi yang serba maju seperti ini. Pemuda cenderung gagu dalam
memfilter arus globalisasi. Dalam hal ini, tidaklah bijak jika kita begitu saja
menyalahkan proses globalisasi atas apa yang terjadi pada pemuda sekarang.
Karena, globalisasi merupakan suatu rangkaian historis yang tidak dapat
terlepas dari peningkatan kemampuan pemberdayaan akal manusia.
Apabila kita telisik lebih dalam, mental
pemuda jaman sekarang cenderung berkiblat pada budaya barat, yang begitu
lantang menyuarakan kebebasan akan hak individu. Bukti kebobrokan mental mereka
pun sudah nyata adanya. Jadi, secara tidak langsung generasi ini sedang
mengalami internalisasi liberalisme. Padahal, budaya Indonesia sangatlah
bertolak belakang dengan budaya barat, terlebih bagi kita selaku umat Islam
yang memiliki aturan sedemikian rupa dalam setiap sendi kehidupan. Peran media,
baik cetak maupun elektronik sangatlah massif dalam penyebarluasan tontonan
serta suguhan informasi yang kurang mendidik dan jauh dari nilai norma yang
berlaku.
Coba perhatikan tayangan yang disajikan
di televisi yang mengangkat tema tentang sekolah, namun, sama sekali tidak
menggambarkan kegiatan belajar mengajar yang ideal, sebaliknya, justru lebih
menonjolkan pada aspek pacaran, bermewah-mewahan, hidup bebas serta hura-hura.
Bahkan tanpa kita sadari, terkadang media tersebut digunakan secara terstruktur
oleh pihak-pihak tertentu untuk melancarkan misinya. Karena, sudah menjadi
rahasia umum bahwa. media kita memiliki kecenderungan untuk menayangkan sesuatu
yang lebih berpihak pada kepentingan si pemilik media. Dan bukan tidak mungkin,
jika misi pihak-pihak tertentu itu mengandung unsur destruktif bagi moralitas
generasi muda.
Kerusakan moral dan jati diri umat serta
bangsa ini, tidak lepas dari upaya jahat pihak luar yang menginginkan bangunan
atas nama -Islam dan Indonesia ini- hancur perlahan-lahan. Sementara itu, upaya
pembendungan mobilisasi dari upaya penjajahan karakter ini sangatlah lemah,
bahkan hampir tidak ada. Keadaan ini diperparah dengan lemahnya peran instrumen
penegak hukum serta terbatasnya ulama’ dan tokoh masyarakat yang dapat
diharapkan. Sebagai generasi muda, kita harus peka, bahwa musuh kita sekarang
bukanlah lagi meriam, tank, granat, dan senjata api lainnya. Namun, musuh kita
sekarang adalah racun yang dibungkus dengan ribuan kenikmatan semu, termasuk di
dalamnya adalah ideologi liberalisme yang mengajarkan kita pada kebebasan
mutlak. Di samping itu, pengaruh teknologi saat ini yang sudah sangat mengurat
syaraf, terutama di kalangan remaja, menimbulkan dampak gaya hidup instan,
bermalas-malasan, serta mengurangi rasa empati terhadap sesama, karena penikmat
akut dari teknologi dapat dikatakan memiliki dunianya sendiri. Keadaan mental
dan moral pemuda yang semakin rapuh karena dampak negatif yang tak terelakkan
ini, disebabkan karena semakin berkurangnya generasi muda Islam khususnya, yang
masih mau menginternalisasikan nilai-nlai substansi Al Qur’an di dalam dirinya,
sehingga mereka lupa bahwa mereka adalah pemimpin dan harapan umat.
Pemuda, Harapan Umat dan Bangsa
Pemuda, Harapan Umat dan Bangsa
Dari Abu Barzah Al Islami, berkata:
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan beranjak kaki seorang hamba pada hari
kiamat dari hadapan Allah sampai ia ditanya mengenai empat hal, yaitu tentang
umurnya untuk apa ia menghabiskannya, tentang jasadnya (masa mudanya) bagaimana
ia menggunakannya, tentang ilmunya bagaimana ia mengamalkannya, dan mengenai hartanya
dari mana ia memerolehnya serta kemana ia mentashorrufkannya”. (HR.
Turmudzi). Dari hadist tersebut, terlihat bahwa Islam menaruh perhatian cukup
besar terhadap eksistensi dan peran pemuda sebagai pewaris tahta peradaban
suatu umat dan bangsa. Tidak salah jika dikatakan bahwa kemajuan bangsa
terletak pada kemajuan pemudanya. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa
pemuda merupakan simbol serta tolak ukur kemajuan umat dan bangsa. Dalam
pernyataan lain, Imam Syafi’I secara jelas menyatakan bahwa, “Syubbanul yaumi
Rijaalul Ghod”, pemuda hari ini adalah pemimpin di keesokan hari.
Sudah sepatutnya pemuda menyadari, bahwa
mereka adalah bagian dari keberlangsungan peradaban umat dan bangsa, kontribusi
mereka sangat menentukan kemana arah bahtera suatu bangsa akan tertuju. Maka,
setidaknya ada empat hal penting yang harus diperhatikan sebagai upaya
perbaikan karakter umat dan bangsa, yaitu kepribadian, intelektualitas,
moralitas, serta sosiabilitas, yang mana kesemua aspek tersebut harus bersandar
pada Al Qur’an dan As Sunnah. Aspek-aspek tersebut bersifat integral, yakni
saling terkait satu sama lain, jadi, tidak dibenarkan jika meninggalkannya
walaupun hanya satu aspek saja. Sehingga, dengan modal tersebut, diharapkan
pemuda mampu membaca permasalahan secara objektif dan komprehensif. Di samping
itu, pengetahuan terkait dengan sejarah teladan kepemudaan dianggap perlu untuk
sekedar refleksi dan kontemplasi, sudahkah kita mengalami kemajuan atau justru
dekadensi yang terjadi. Wallahu a’lam bi al-Showaab.
*Disciple Monash Institute 2015 dan Peraih Beasiswa BLU FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan
ini pernah dimuat di Koran Bhirawa edisi Rabu, 17 Juni 2015.

