Untuk
apa hidup di negeri ini
Bila
kalian hanya membuat kami menangis
Untuk
apa kami memilih pemimpin
Bila
sang pemimpim tak memimpin
Kami
bagai makanan yang hanya kau lahap waktu lapar
Kenyangkah
kalian sekarang dengan uang kami
Kau
makan harta kami
Kau
renggut sejahtera
Rakyat
jelata hanya berbaring di atas kasur tua
Sedang
kau mimpi indah dipembaringan mewah
Rakyat
jelata kini duduk tak bisa bersuara
Jiwa
mereka meronta tanpa bertindak
Mahasiswa
berdiri di hadapan kalian
Mewakili
mereka yang sedang istirahat, lalu mencari nafkah
Sesuap
nasi hasil keringat
Kini
beban mereka bertambah karena kalian
BBM kau
naikkan,
Ah,
pembohonglah kalian
Berjanji
pada kami
Namun,
kau hancurkan kemudian
Negeri
dan pemimpin dusta
![]() |
| Oleh: Irfan Jamalullail* |
Puisi
yang berjudul Negeri dan Pemimpin Dusta karangan pujangga aceh, Rahmatsyah
(12/04/2012). Puisi sederhana, akan tetapi sudah bisa menggambarkan fakta
sosial yang terjadi di negeri ini tentang ketimpangan antara orang-orang yang
memimpin dan yang dipimpin. Dengan lugas serta mudah dipahami, Rahmatsyah
menggambarkan rasa putus asa rakyat jelata, jeritan, serta ketidak percayaan mereka
akan para pemimpinnya yang pendusta. Sebuah penggambaran yang penulis rasa cukup
memberi tonjokan sikologi bagi para mereka, pedasi yang sedang santai di atas
kursi (pejabat).
Diawali
dengan sebuah steatment ketidakpuasan hidup di negeri ini.
Menggambarkan sudah mencapai kulminasi penderitaan yang dirasakan oleh
orang-orang yang melarat. Betapa tidak, di zaman yang penuh dengan persaingan
dan hukum rimba, mencari sesuap nasi pun seperti mencari jarum di lumbung
padi. Akhirnya, mereka hanya bisa
menangis dan kemudian menangis berharap orang yang dahulu mereka pilih
setidaknya dapat mengangkat mereka dari jurang kemiskinan.
Sudah
tidak dapat dipungkiri, bagaimana pola hidup sebagian besar pemimpin-pemimpin
negeri ini. Sikap hedonisme, praktis, dan pragmatis menjadi sifat yang melekat
pada diri mereka. Pajak yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan dan
kesejahteraan rakyat, malah diperebutkan hanya untuk kepentingan pribadi, atau
kelompoknya. Tarik menarik proyek menjadi hal yang lumrah sebagai akses untuk
mencuri uang rakyat tersebut. Padahal, jika mereka melihat sejenak ke bawah,
melihat bagaimana konstelasi masyarakat sang penyumbang dana pajak, pasti hati
kecil mereka terketuk malu melakukan hal kotor tersebut.
Kemudian
mereka pun menarik kesimpulan sederhana atas apa yang terjadi atas diri mereka.
Ya, untuk apa memilih pemimpin yang hanya bisa membuat kami menangis, Pemimpin
dusta dengan seribu janji tanpa bukti. (*)
* Peneliti di Lembaga International Research and Islamic Studies
(IRIS) UIN Walisongo Semarang

