Abdurahman Syafrianto
Problematika yang kini melanda umat
Islam adalah persoalan fanatisme yang berlebihan terhadap masing-masing aliran
yang ada di agama Islam sendiri, yang kemudian menyebabkan umat Islam terpecah
belah. Padahal, kita sering mendengar sebuah jargon yang berbuyi “Bersatu kita
teguh, bertikai kita berantakan”. Jargon ini sudah familiar di kalangan
masyarakat Indonesia. Akan tetapi, realitas yang terjadi di lapangan masih
banyak orang-orang yang bertikai, entah itu karena persoalan perbedaan pendapat
ataupun lain sebaiannya. Sebut saja, antara masyarakat dari kalangan Nahdatul Ulama
(NU) dengan masyarakat dari kalangan Muhammadiyah yang kerap kali menuai
‘pertikaian’. Dewasa ini, polemik antara NU dan Muhammadiyah tidak kunjung
selesai. Di berbagai lini kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,
dua ormas Islam ini selalu ‘berlawanan’.
Lebih aneh lagi, problematika yang
melanda umat Islam dalam ranah politik adalah polemik antara NU garis PKB
(Partai Kebangkitan Bangsa) dengan NU garis PPP (Partai Persatuan Pembangunan).
Kedua partai ini merupakan representasi partai Islam dari kalangan NU dan
masing-masing memiliki tokoh yang menjadi figurnya. Misalnya, Kyai Haji Maimun
Zubair, beliau adalah seorang ulama dan politikus serta menjadi Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan
Syuro PPP. Sedangkan di kalangan PKB yang menjadi figurnya adalah Kiyai Haji
Abdurrahman Wahid dan Kiyai Haji Kholil Bisri. Beliau berdua adalah sosok ulama
sekaligus politisi.
Baca Juga: Tik Tok dan Ancaman Dekadensi Moral Bangsa
Baca Juga: Tik Tok dan Ancaman Dekadensi Moral Bangsa
Dalam perkembangannya, dua partai
ini hampir seperti dua agama yang berbeda. Sebab, polemiknya sangat luar biasa.
Ini dibuktikan dengan realitas di lapangan, ketika pemilihan kepala desa di
Rembang, Jawa Tengah. Pada waktu itu, ada sebuah kunjungan Bupati yang
kemudian muncul isu bahwa seluruh masyarkat akan di PPP-kan, karena Bupati
tersebut berasal dari PPP. Lalu, sebagian masyarakat menyampaikan ungkapan yang
berbau kontroversi.
Selain itu, wujud dari ketidakakuran
antara NU garis PKB dengan NU garis PPP adalah pada pesta demokrasi yaitu pada
Pilkada (pemilih kepala daerah) Jawa Tengah 2018. Ada dua bakal pasangan calon
gubernur dan wakil gubernur yaitu: pertama,
Sudirman Said yang berpasangan dengan Ida Fauziyah yang didukung
oleh Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sosial
(PKS), dan PKB. Kedua,
Ganjar Pranowo yang berpasanagan dengan Taj Yasin Maimoen atau
akrab disapa Gus Yasin yang didukung oleh PDI Perjuangan, Partai Golkar, dan
PPP.
Berkaitan dengan kedua pasangan
Calon Gubernur dan Wakil Gubernur, banyak media menyoroti tentang Pertarungan head to head antara
calon yang didukung Gerindra dan PDI Perjuangan. Pertarungan semisal ini juga
pernah terjadi sebelumnya, pada Pilgub DKI Jakarta. Karena itu, banyak orang
khawatir jika Pilkada Jawa Tengah akan mengalami kejadian yang sama seperti
pesta demokrasi di Pilkada Jakarta yang menimbulkan masyarakat terpecah belah.
Yang menarik untuk diamati dalam hal ini, yaitu pertarungan Pilkada di Jawa
Tengah antara calon wakil gubernur yang didukung oleh PKB dan PPP yang
kulturnya sama-sama berasal dari NU.
PKB mengusung Ida Fauziyah sebagai
Cawagub pada Pilkada Jawa Tengah 2018. Ida Fauziyah adalah seorang politikus
perempuan yang kiprahnya diperhitungankan dalam kancah politik nasional,
karenda pengalaman dan dedikasinya di parlemen, tepatnya sebagai anggota DPR
Fraksi Partai Kebangkitan Nasional (PKB). Ia semakin naik daun, ketika dibaiat
sebagai ketua Muslimat Muslimat NU dan sekaligus sebagai ketua umum Pengurus
Pusat Fatayat NU 2010 – sekararang.
Sedangkan, PPP mengusung Gus Yasin
sebagai Cawagub pada Pilkada Jawa Tengah 2018. Gus Yasin adalah seorang
politikus PPP yang saat ini menduduki kursi DRPD Jawa Tengah dan sekaligus
sebagai Ketua GP ANSOR Jawa Tengah. Beliau adalah anak KH Maimun Zubair
yang merupakan salah satu ulama terkemuka di Jawa Tengah.
Baca Juga: Baju Baru; Identitas Lebaran?
Baca Juga: Baju Baru; Identitas Lebaran?
Setelah mengamati dinamika yang
terjadi pada pesta demokrasi Pilkada Jawa Tengah kali ini, sangat kentara
sekali bahwa umat Islam belum bisa bersatu, terutama dalam hal politik.
Persoalan demikianlah yang menyebabkan umat Islam belum mampu bangkit dari keterpurukan.
Umat Islam masih sibuk dengan ‘permusuhan’ internal agama Islam sendiri.
Padahal, musuh Islam bukan sesama umat Islam sendiri, melainkan di luar sana
ada orang-orang yang ingin menghancurkan Islam, itulah yang menjadi musuh Islam
sesungguhnya.
Berdasar problematika tersebut,
menunjukan bahwa inilah yang disebut potret jahiliyah
zaman now.
Sebab, mereka hanya memikirkan perut masing-masing. Belum memikirkan masyarakat
secara luas. Ini sekaligus menjadi pelajaran untuk mereka, hanya karena berbeda
organisasi, kepentingan ummat tidak didahulukan. Ini namanya melakukan hal yang
seharusnya tidak dilakukan. Harusnya mereka semua bisa bersatu, untuk
mewujudkan negara yang makmur sesuai al-Qur’an dan Hadits.
Di samping itu, mereka dan kita
semua harus mengetahui sejarah, dengan motif apa organisasi tersebut didirikan.
Organisasi NU dan Muhammadiyah misalnya. Pendiri NU (KH Hasyim Asy’ari) dan
pendiri Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan) memiliki kedakatan, dan dua kali pernah
belajar di guru yang sama yaitu KH Solih Darat di Semarang dan Syaikh Ahmad
Khatib Al-Minagkabau di Mekkah. Kedua organisasi tersebut didirikan tidak lain
untuk memperjuangkan ummat Islam, meskipun dengan cara dan melalui organisasi
berbeda. Kemudian partai dari organisasi mereka, mengapa tidak pernah akur?
Justru selalu bertentangan? Harusnya mereka mencontoh persaudaraan yang
dicontohkan oleh ulama terdahulu, agar tidak terpecah belah.

