Oleh: Dr. Mohammad
Nasih
Pengajar di Program
Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Pendiri Rumah Perkaderan Monash
Institute.
Pendahuluan
Al-Qur’an menegaskan
dirinya sendiri sebagai wahyu yang berasal dari Tuhan (al-Zumar: 1-2, Ghafir:
2, Fushshilat: 2). Penjelasan tentang diri sendiri inilah yang kemudian sering
menimbulkan permasalahan. Bagi orang-orang yang telah meyakininya, penegasan
tersebut tentu tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang belum
meyakininya, tentu penegasan al-Qur’an itu bisa dipandang sebagai klaim sepihak
dan karena itu sangat memerlukan uji kebenaran.
Pengakuan kepada
kebenaran al-Qur’an sebagai firman Tuhan adalah sebuah sikap yang sangat
penting. Sebab, pengakuan tersebut adalah satu langkah untuk menerimanya sebagai
petunjuk bagi seluruh umat manusia (hudan li al-nâs). Sebagai panduan,
al-Qur’an harus diimplementasikan dalam seluruh aspek kehidupan.
Kebenaran al-Qur’an
sebagai kalam Tuhan bisa dilihat dari berbagai fakta yang tersaji dalam
al-Qur’an sendiri. Setidaknya, ada tiga hal yang menjadi bukti nyata tentang
kebenaran al-Qur’an sebagai firman Tuhan, yaitu: aspek ketinggian bahasa sastra
yang tidak tertandingi, Nabi Muhammad adalah seorang ummi ketika menerima
wahyu, dan kebenaran pernyataan-pernyataan dan prediksi-prediksi al-Qur’an.
Aspek Ketinggian
Bahasa
Setiap rasul diutus
dengan bahasa kaumnya. Bahasa dalam konteks ini bisa dipahami dengan pengertian
yang luas, termasuk juga tingkat pemikiran dan cara berpikir mereka. Di antara
para rasul tersebut diutus dalam konteks masyarakat yang membangga-banggakan
sesuatu tertentu yang ada pada mereka. Misalnya, Nabi Isa datang kepada
masyarakat yang mempunyai kemampuan tinggi dalam masalah ketabiban. Profesi
sebagai seorang tabib adalah profesi yang sangat prestisius dalam masyarakat
kala itu. Maka, Nabi Isa, diberikan mu’jizat berupa kemampuan untuk
menyembuhkan orang buta bawaan, lepra, dan bahkan menghidupkan kembali orang
yang sudah mati. Demikian pula Nabi Musa. Ia diutus kepada masyarakat yang
memuja-muja sihir. Maka oleh Tuhan, Nabi Musa diberi mu’jizat yang melebihi
kemampuan tukang-tukang sihir Fir’aun. Tukang-tukang sihir Fir’aun mampu
“mengubah” tali-tali yang ada di hadapan mereka menjadi ular. Nabi Musa lebih
dari itu, mampu mengubah tongkatnya menjadi ular yang lebih besar dan memakan
semua ular hasil rekaan tukang-tukang sihir Fir’aun.
Nabi Muhammad datang dalam konteks masyarakat yang memuja para
penyair dan produk sya’ir mereka. Karena itu, Allah memberikan mu’jizat
kepadanya berupa kitab suci, al-Qur’an, yang mempunyai kandungan dan nilai
sastra yang sangat tinggi yang jauh melampaui ketinggian hasil karya sastra
para pujangga Arab Pagan.
Uraian Ibnu al-Mandhur dalam magnum opusnya, Lisân al-‘Arab
memberikan penjelasan tentang konteks yang berkaitan dengan kata-kata syi’r.
Toshihiko Izutsu, seorang pakar linguistik dari Jepang, dalam kajian
semantiknya juga menjelaskan kondisi sosio-historis masyarakat waktu itu. Di
dalam masyarakat Arab Pagan, penyair mempunyai kedudukan yang sangat tinggi,
karena dianggap sebagai kekayaan dan sekaligus kekuatan suku. Penyair juga
dianggap mempunyai kemampuan-kemampuan lebih yang oleh karena itu dijadikan
sebagai pemimpin suku pada masa damai dan masa perang. Ucapan-ucapannya
dipercayai mempunyai kekuatan melebihi serdadu dengan senjata dan tombak,
karena mempunyai kekuatan magis yang dapat mengalahkan musuh.
Bahkan lebih dari itu, ketika seorang penyair dari suku
tertentu diserang dengan menggunakan sya’ir oleh penyair dari suku yang lain,
maka ia harus membalasnya. Sebab, kalau itu tidak dilakukan, tidak hanya dia
yang dianggap kalah, akan tetapi sukunya pun ikut merasa dan dianggap kalah dan
terhinakan.
Mereka berkepercayaan bahwa para penyair dan juga tukang
tenung adalah tipe orang-orang yang setiap saat dapat dimasuki kekuatan
supranatural yang tak terlihat yang memberikan inspirasi kepada mereka.
Kekuatan supranatural ini biasa disebut dengan jin. Jadi, sya'ir yang dibuat
oleh para penyair pada waktu itu dipandang sebagai hasil komunikasi antara sang
penyair dengan kekuatan supranatural itu, yang oleh masyarakat Arab diyakini
bahwa kekuatan supranatural itu melayang-layang di udara. Demikian juga
kata-kata yang keluar dari tukang tenung yang dipercaya sebagai orang yang bisa
meramal, adalah juga kata-kata yang berasal dari jin yang memberikan informasi
kepadanya.
Dalam pandangan mereka juga, jin tidak merasuk kepada
sembarang orang, tetapi memilih orang-orang tertentu yang disukainya. Apabila
orang yang disukai itu ditemukan, jin merasuk ke dalam diri orang tersebut dan
menjadikannya sebagai penyambung lidahnya. Orang seperti inilah yang dimaksud
dengan "penyair" dalam pengertian semantik yang paling awal, yakni
orang yang mempunyai pengetahuan supranatural, karena mendapatkan informasi
dari jin. Kata sya'ir sendiri menurut Ibn al-Mandhur berasal dari kata sya'ara atau sya'ura, artinya adalah memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang
tidak diketahui oleh orang kebanyakan.
Dalam pandangan masyarakat Arab Pagan, setiap penyair
mempunyai jin sendiri-sendiri dan dianggap sebagai teman akrab. Sebab itu,
ketika seorang penyair tidak mampu mengucapkan sya'ir balasan ketika mendapat
serangan dari penyair lain, maka ia akan mengatakan bahwa yang menyebabkannya
tidak mampu bukanlah kebodohannya, akan tetapi karena "teman
akrab"nya tidak mengucapkan kata-kata kepadanya.
Dalam konteks masyarakat seperti inilah Nabi Muhammad diutus.
Karena itu, orang-orang yang tidak mempercayai kerasulan dan kenabiannya,
menganggap Nabi Muhammad tak ubahnya penyair-penyair Arab Pagan lainnya. Ketika
Nabi Muhammad mewartakan kebenaran kepada mereka yang kebenaran itu berbeda
dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada sebelumnya yang diberikan oleh para
pujangga Arab Pagan, maka mereka mencela dan mengejek Nabi Muhammad bahkan
menentangnya dengan tentangan yang keras.
Mereka yang ingkar kepada Nabi Muhammad berkata: "Dia
adalah penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaannya" (al-Thûr: 30),
"Wahai orang yang diturunkan Alquran kepadanya, sesungguhnya kamu adalah
orang yang majnûn." (al-Hijr:
6), dan "Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena
seorang penyair majnûn ini?"
(al-Shâffât: 36).
Al-Qur’an berusaha meyakinkan bahwa Nabi Muhammad bukanlah
seorang penyair yang dirasuki jin,. “Berkat rahmat Tuhanmu, engkau (Muhammad)
sekali-kali bukanlah orang yang majnûn (dirasuki jin)”, (Nûn: 3). Apa
yang diucapkan oleh Nabi Muhammad tersebut sesungguhnya bukan berasal dari
kekuatan supranatural atau jin, melainkan berasal dari Allah, Tuhan segala
alam. "Dan al-Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali
kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan seorang tukang tenung. Sedikit
sekali kamu beriman kepadanya." (al-Hâqqah: 41-42).
Dari uraian di atas, persoalannya menjadi jelas bahwa sesungguhnya yang
ingin ditegaskan oleh al-Qur’an adalah bahwa Nabi Muhammad dan al-Qur’an
tidaklah sama dengan pujangga-pujangga Arab dan produk-produk sya’ir mereka.
Dan dengan demikian, ketinggian aspek kebahasaan al-Qur’an harus diakui sebagai
sebuah kenyataan yang itu hanya bias terjadi, karena Allah Swt..
Al-Qur’an adalah
mu’jizat yang diturunkan kepada masyarakat yang memiliki keunggulan di bidang
sastra. Dari segi
kebahasaan, al-Qur’an memiliki ketinggian bahasa yang sampai hari ini dan
sampai kapan pun tidak ada yang bisa menandingi. Ketinggian bahasa al-Qur’an
merupakan sebuah mu’jizat untuk mengalahkan kehebatan para pujangga Arab
jahiliyah dalam membuat karya-karya sastra yang dikenal mengagumkan. Allah
memberikan mu’jizat ini kepada Nabi Muhammad sesuai dengan konteks
masyarakatnya, sebagaimana Allah memberikan mu’jizat kepada Nabi Isa berupa
kemampuan menyembuhkan dengan seketika orang yang memiliki penyakit-penyakit
yang dikenal tak tersembuhkan, bahkan dapat menghidupkan orang yang telah mati.
Juga sebagaimana Allah memberikan tongkat yang dapat mengubah berbagai macam
benda sesuai dengan keinginannya untuk mengalahkan para tukang sihir.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, karena keindahan bahasa
al-Qur’an itu, Nabi Muhammad pernah dituduh sebagai seorang majnun.
Dalam konteks ini, terdapat kekeliruan dalam mengartikan majnun dalam
al-Qur’an terjemahan kita. Kata tersebut diartikan dengan gila. Terjemahan
tersebut keliru karena kurang tepat dalam menangkap latar belakang budaya
sastra masyarakat Arab jahiliyah. Masyarakat Arab jahiliyah memiliki
kepercayaan bahwa para pujangga (syâ’ir, syu’ara’) adalah orang yang
memiliki kemampuan mengeluarkan kalimah-kalimat keindahan sastra tinggi atau
sangat puitis. Dan dalam pandangan masyarakat Arab jahiliyah, mereka memiliki
kemampuan itu karena mendapatkan bantuan jin yang merasuk dalam diri mereka.
Karena itu, Nabi Muhammad sebagai penyampai al-Qur’an yang memiliki keindahan
bahasa tinggi itu disamakan dengan para pujangga Arab yang majnun (kerasukan
jin) itu. Tuduhan bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang yang kerasukan jin
dibantah di berbagai ayat (di antaranya QS. al-Shâffât: 36, al-Qalam: 2,
juga al-Syu’ara: 224-227) sembari menegaskan bahwa al-Qur’an berasal dari
Allah.
Bahwa al-Qur’an tak akan tertandingi,
al-Qur’an menegaskan dengan menyatakan bahwa walaupun para penentang al-Qur’an
mengumpulkan semua pihak yang dianggap mampu, maka tak akan mampu mendatangkan
yang semisalnya.
وَإِنْ
كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ
وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (البقرة: 23)
Dan jika kamu
(tetap) dalam keraguan tentang al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami
(Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur'an itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS. al-Baqarah:
23)
Tantangan itu mendapat jawaban dari beberapa tokoh yang
sebelumnya dianggap sebagai pujangga, di antaranya adalah Musailamah Bin Habib
yang kemudian mengaku sebagai nabi yang juga mendapatkan wahyu dari Allah. Ia
membuat gubahan-gubahan yang dimaksudkan untuk menandingi al-Qur’an. Untuk menandingi
surat al-Fîl, dia membuat gubahan berikut ini:
الفيل- ما الفيل- وما أدراك ما الفيل- له ذنب وَبِيل - وخرطوم طويل
Gajah. Apa itu gajah? Tahukah engkau apa itu gajah? Ia mempunyai ekor yang buruk; dan belalai yang
panjang.
Musailamah juga membuat gubahan dengan maksud menandingi surat
al-Ashr: 1-3.
يا وبر يا وبر- إنما أنت أذنان وصدر- وسائرك حفر نقر
Hai kelinci, hai
kelinci. Sesungguhnya kamu memiliki dua telinga dan satu dada. Dan semua
jenismu suka membuat galian dan lubang.
Gubahan lain yang dibuatnya adalah:
يَا ضَفْدَع بِنْتَ ضَفْدَعَيْنَ نَقَى مَاتَنْقَيْنَ أَعْلاَكَ فِيْ المَاءِ وَأَسْفَلُكَ
فِيْ الطِّيْنِ
Wahai kodok anak
dua kodok, berkuaklah sesukamu. Atasmu di air dan bawahmu di tanah”.
Bersamaan dengan
keindahan bahasanya, al-Qur’an menyampaikan berbagai ajaran substansial yang
sangat menggugah dan menggetarkan.
Kesalahan pandangan bahwa al-Qur’an bernilai sastra tinggi
tersebut terjadi karena kesalahan dalam memahami dua kata kunci, yakni majnûn
dan syi’r (dan kata-kata turunan-turunannya) yang terdapat
dalam beberapa ayat al-Qur’an. Kesalahan pengertian ini di antaranya terjadi
dalam al-Qur’an terjemahan Departemen Agara RI yang menerjemahkan majnûn ke
dalam bahasa Indonesia dengan “gila”. Kemudian, para mufassir (penafsir
al-Qur’an) terutama yang menggunakan metode ijmali (global) tidak memberikan
pengertian yang cukup tentang makna syi’r dan majnûn dengan
menguraikan latar belakang sosio-historis masyarakat Arab pagam kaitannya dengan
kegilaan mereka terhadap karya sastra.
Nabi Muhammad Seorang Ummi
Sebelum menjadi
rasul, Muhammad dikenal oleh masyarakat Arab sebagai al-amin, yakni orang yang
bisa dipercaya, karena sepanjang hidupnya tidak pernah berdusta. Apa saja
informasi yang bersumber darinya adalah kebenaran. Namun, keberadaan al-Qur’an
kemudian menyebabkan sebagian besar masyarakat Arab yang sebelumnya
mempercayainya kemudian mendustakannya. Salah satu pendustaan yang dilakukan
oleh para penentang Nabi Muhammad adalah mendelegitimasi al-Qur’an sebagai
kalam Tuhan. Mereka menuduh bahwa Nabi Muhammad telah menyalin
informasi-informasi yang ada sebelumnya yang kemudian dikompilasinya menjadi
al-Qur’an.
وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا
فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الفرقان: 5)
Dan mereka berkata:
"Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan,
maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang. (al-Furqân: 5)
Tuduhan para penentang kerasulan Muhammad ini disangggah oleh
al-Qur’an bahwa Muhammad tidak pernah membaca maupun menulis isi kitab-kitab
yang ada sebelumnya. Sanggahan al-Qur’an ini menolak pandangan para
penentangnya yang sebagiannya adalah pengikut Yahudi dan Kristen bahwa Nabi
Muhammad hanya menyadur informasi-informasi yang ada dalam Kitab Taurat dan
Injil.
وَمَا كُنتَ تَتۡلُواْ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَـٰبٍ۬ وَلَا تَخُطُّهُ ۥ بِيَمِينِكَۖ إِذً۬ا لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ (العنكبوت:
٤٨)
Dan kamu tidak
pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) satu Kitab pun dan kamu tidak (pernah)
menulisnya dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis),
benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (al-Ankabût: 48).
Al-Qur’an memperkuat penolakan tersebut dengan menyatakan
bahwa Nabi Muhammad adalah seorang ummi, yakni orang yang tidak bisa menulis
dan membaca.
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ
مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ
وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ
الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي
أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (الأعراف: 157)
”(Yaitu) orang-orang
yang mengikuti seorang Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati
tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh
mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang
mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi
mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan
belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman
kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang
diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’râf: 157).
Kebenaran Prediksi
dalam al-Qur’an
Al-Qur’an tidak
hanya berbicara tentang kejadian-kejadian masa lalu yang bisa dijadikan sebagai
i’tibar (‘ibrah), tetapi juga berbicara mengenai masa depan, bahkan
kehidupan setelah dunia (akhirat). Prediksi mengenai masa depan merupakan
sebuah tindakan berisiko, karena jika prediksi tersebut salah, maka pemberi
informasi akan mengalami delegitimasi. Namun, al-Qur’an melakukannya dan
ternyata prediksi tersebut benar. Al-Qur’an juga memberikan informasi mengenai
berbagai hal yang kebenaran faktualnya belum bisa disaksikan dan kemudian bisa
disaksikan.
Prediksi al-Qur’an
yang paling monumental adalah kemenangan Romawi atas Persia. Padahal, secara
kalkulatif, dalam kondisi Romawi yang sangat hancur karena kekalahan oleh
Persia, seolah mustahil hanya dalam beberapa tahun saja Romawi dapat
mengalahkan Persia. Namun, prediksi al-Qur’an tersebut menjadi kenyataan.[1][1]
الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (٢)فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ
سَيَغْلِبُونَ (٣)فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ
يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (٤) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ
وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5) وَعْدَ اللهِ لاَيُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ
أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ (6)
“Alif Lâm Mîm.
Telah dikalahkan bangsa Rumawi. Di negeri yang terendah[2][2] (terdekat) dan mereka sesudah
dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan
sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu
bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong
siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
(Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi
janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Rum: 1-6)
Al-Qur’an menyatakan bahwa Romawi akan menang setelah
mengalami kekakalahan tersebut dalam “bidl’i sinîn”. Dalam bahasa Arab,
kata bidl’i digunakan untuk menunjuk bilangan antara 3-9. Artinya, hanya
beberapa tahun saja yang dimiliki oleh Romawi untuk mengalahkan Persia.
Sedangkan dalam kondisi yang porak-poranda, perkiraan itu mengundang cemoohan
orang-orang kafir.
Namun, prediksi al-Qur’an tersebut terbukti benar. Peperangan
antara Persia dengan Romawi yang di daerah antara Adhra’at dan Basra, dekat
Laut Mati berlangsung pada tahun 619M dan berakhir dengan kemenangan Persia.
Namun, ketika terjadi peperangan lagi pada tahun 627M, Bizantium berhasil
memaksa Persia untuk menandatangani perjanjian yang berisi tentang pengembalian
daerah-daerah yang sebelumnya diduduki oleh Persia. Sebelum delapan tahun,
prediksi al-Qur’an tersebut telah terbukti.
Temuan-temuan Modern
Dalam konteks penemuan-penemuan modern, banyak fakta
mencengangkan yang telah diisyaratkan atau sesungguhnya bahkan diinformasikan
dengan jelas oleh al-Qur’an. Di antara penemuan modern yang mencengangkan itu
adalah:
Pertama, mengenai lokasi terjadinya pertempuran antara Romawi
dan Persia, fakta kemudian menunjukkan bahwa lokasi tersebut adalah lokasi
terendah di permukaan bumi karena lokasi tersebut berada pada -300 m di bawah
permukaan air laut. Padahal pada saat al-Qur’an diturunkan, belum ada teknologi
yang bisa melakukan pengukuran secara akurat mengenai posisi tersebut.
Kedua, temuan mengenai adanya serangga berukuran mikroskopik
di atas setiap nyamuk. Informasi ini sesungguhnya sudah cukup jelas terdapat
dalam al-Baqarah: 26.
إن الله لا يستحيي أن يضرب مثلا ما بعوضة فما فوقها
Artinya: "Sesungguhnya
Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil
dari itu.”
Frase famâ fawqahâ dalam terjemahan-terjemahan
konvensional diartikan “atau yang lebih kecil dari itu”. Padahal
kata “fawqa” berarti “di atas”. Jadi, arti literalnya adalah “atau
apa yang ada di atasnya”. Terjemahan konvensional tersebut secara logis
bisa diterima, karena apa yang ada di atas nyamuk tentu saja adalah benda yang
tidak lebih besar daripada nyamuk itu sendiri. Namun, sesungguhnya pemaknaan
frase tersebut kurang lengkap. Dan yang melengkapi makna frase tersebut adalah
penemuan kontemporer bahwa terdapat serangga yang berukuran mikroskopik yang
ada di atas setiap nyamuk.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, dapat diambil
kesimpulan yang sangat jelas bahwa al-Qur’an bukanlah sekedar buku yang ditulis
oleh manusia. Ia adalah wahyu dari Allah Yang Maha Tahu, sehingga memiliki
keunikan yang tak mungkin dijangkau oleh manusia di samping juga mampu
memberikan informasi-informasi yang sangat akurat mengenai kejadian-kejadian di
masa lalu maupun di masa yang akan datang, termasuk juga kehidupan lain setelah
kehidupan di dunia ini. Karena itu, ajaran-ajarannya sudah seharusnya dijadikan
sebagai panduan dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam bi al-shawab.
[1][1] Prediksi al-Qur’an ini
sesungguhnya juga merupakan informasi penghibur kepada kaum beriman yang
bersedih hati karena bangsa Romawi yang monoteis kalah oleh para penyembah
berhala.
[2][2] Fakta bahwa
daerah dekat Laut Mati tersebut adalah
dataran bumi terendah, yakni berada pada 395 meter di bawah permukaan air laut,
terpotret oleh satelit di kemudian hari.

