MENILIK gaya bahasa dan iramanya, tidak bisa diingkari Alquran
adalah puisi. Dan ketinggian bahasa sastranya melebihi puisi-puisi yang
diciptakan oleh para pujangga Arab kala itu. Bahkan Alquran mampu memberikan
nuansa tersendiri yang menyentuh kepada pembaca dan pendengarnya - yang tidak
mengerti artinya sekali pun - ketika ia dibaca sesuai dengan aturan bacaan yang
benar (tajwid-nya).
Seperti beberapa nabi lain yang diutus Tuhan dengan keistimewaan
berupa mukjizat, yang salah satu hikmahnya untuk menandingi kecongkakan
kaum-kaum yang merasa hebat dengan apa yang ada pada mereka, Nabi Muhammad
diutus dan diberikan mukjizat pula untuk itu.
Misalnya Nabi Musa diberi mukjizat berupa tongkat sebagai
tandingan kepada tukang-tukang sihir, karena tongkat Nabi Musa bisa berubah
menjadi ular yang lebih besar dan menelan semua ular yang diciptakan oleh
tukang-tukang sihir tadi.
Nabi Isa diberi mukjizat dapat menyembuhkan orang buta bawaan,
lepra dan bahkan menghidupkan orang mati di tengah masyarakat yang mempunyai
pengetahuan dan keahlian medik yang tinggi.
Karena Nabi Muhammad diutus di tengah masyarakat yang mempunyai
tradisi kesusastraan yang tinggi, ia diberi mukjizat berupa kitab yang
mempunyai kandungan pesan dan nilai sastra yang sangat tinggi karena keindahan
susunan bahasanya yang luar biasa.
Dan karena ketinggian itu, Alquran sendiri mengatakan bahwa tidak
ada dan tidak akan pernah ada yang mampu membuat dan menandingi ketinggian mutu
Alquran dari segala aspek, termasuk di dalamnya nilai sastranya tadi.
Akan tetapi sebagian besar umat Islam salah paham terhadap
persoalan ini dan menolak kenyataan bahwa Alquran adalah puisi, hanya karena
ada ayat Alquran yang mengatakan, "Dan Alquran itu bukanlah perkataan
seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula
perkataan seorang tukang tenung. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya."
(Al Haaqqah: 41-42).
Ayat ini sebenarnya adalah counter terhadap tuduhan dan ejekan
orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran yang dibawa Alquran dan
mengatakan, "Dia adalah penyair yang kami tunggu-tunggu
kecelakaannya" (Al Thuur: 30), "Wahai orang yang diturunkan Alquran
kepadanya, sesungguhnya kamu adalah orang yang majnun." (Al Hijr: 6), dan
"Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang
penyair majnun ini?" (Al Shaaffaat: 36).
Kesalahpahaman yang dimaksudkan terjadi karena kesalahan dalam
memahami arti majnun dalam dua ayat yang disebut terakhir yang biasanya
diartikan "gila". Akibatnya terjadi kesalahan dalam memahami ayat
dalam Surat Al Haaqqah: 41 di atas.
Harus Diyakini
Memang benar dan ini yang harus diyakini, Alquran bukan tenung
sesuai dengan pernyataan Alquran sendiri bahwa ia "bukan perkataan seorang
tukang tenung". Akan tetapi, berdasarkan fakta empirik dari susunan bahasa
Alquran, adalah tidak benar kalau dikatakan kitab tersebut bukan puisi (syi'r)
dengan berdasar pada pernyataan Alquran bahwa, "Alquran bukanlah perkataan
seorang penyair."
Jadi, singkatnya Alquran adalah puisi tetapi ia bukanlah perkataan
yang keluar dari mulut penyair. Ini bukan pula berarti alquran bukan perkataan Nabi
Muhammad SAW.
Kesulitan untuk memahami kenyataan ini akan hilang apabila melihat
latar belakang sosio-historis sebelum sampai pada saat Alquran diturunkan. Pada
saat itu masyarakat Arab jahiliyah memandang syair sebagai segala-galanya.
Karena itu kedudukan penyair dalam masyarakat Arab begitu tinggi
karena dia dianggap sebagai kekayaan dan kekuatan suku. Dan karena dianggap
mempunyai kekuatan lebih, seorang penyair dijadikan sebagai pemimpin suku pada
masa damai maupun masa perang. Ucapan-ucapannya dipercayai mempunyai kekuatan
melebihi serdadu dengan senjata dan tombak karena mempunyai kekuatan magis yang
dapat mengalahkan musuh.
Bahkan lebih dari itu, ketika seorang penyair dari suku tertentu
diserang dengan menggunakan syair oleh penyair dari suku yang lain, maka ia
harus membalasnya. Kalau itu tidak dilakukan, tidak hanya dia yang dianggap
kalah, akan tetapi sukunya pun ikut merasa dan dianggap kalah dan terhinakan.
Mereka berkepercayaan bahwa para penyair dan juga tukang tenung
adalah tipe orang-orang yang setiap saat dapat dimasuki kekuatan supranatural
yang tak terlihat yang memberikan inspirasi kepada mereka. Kekuatan
supranatural ini biasa disebut dengan jin. Jadi, syi'ir yang dibuat oleh para
penyair pada waktu itu adalah hasil komunikasi dengan kekuatan supranatural
itu, yang diyakini mereka melayang-layang di udara. Demikian juga kata-kata
yang keluar dari tukang tenung yang dipercaya sebagai orang yang bisa meramal,
adalah juga kata-kata yang berasal dari jin yang memberikan informasi
kepadanya.
Bukan Kata Penyair
Masih menurut pandangan mereka, jin tidak merasuk kepada sembarang
orang, tetapi memilih orang-orang tertentu yang disukainya. Apabila orang yang
disukai itu ditemukan, jin tersebut merasuk ke dalam diri orang tersebut dan
menjadikan orang tersebut sebagai penyambung lidahnya. Orang seperti inilah
yang dimaksud dengan "penyair" dalam pengertian semantik yang paling
awal, yakni orang yang mempunyai pengetahuan supranatural. Kata sya'ir sendiri
yang berasal dari kata sya'ara atau sya'ura artinya adalah memiliki pengetahuan
tentang sesuatu yang tidak diketahui oleh orang kebanyakan.
Dalam pandangan masyarakat Arab Pagan, setiap penyair mempunyai
jin sendiri-sendiri dan dianggap sebagai teman akrab. Makanya, ketika seorang
penyair tidak mampu mengucapkan syi'ir balasan ketika mendapat serangan dari
penyair lain, ia akan mengatakan bahwa yang menyebabkannya tidak mampu bukanlah
kebodohannya, akan tetapi karena "teman akrab"nya tidak mengucapkan
kata-kata kepadanya.
Jadi, yang dimaksud dengan majnun sebagaimana dituduhkan oleh
penentang-penentang Nabi Muhammad SAW adalah "kerasukan jin atau
kesurupan", bukan "gila" seperti yang dipahami oleh sebagian
besar umat Islam, termasuk juga para ulama dan mufasirnya. Walaupun berdasarkan
fakta Nabi Muhammad SAW memang bukanlah seorang yang gila, akan tetapi maksud
alquran bukan itu, karena lepas dari konteks yang sebenarnya. Terjemahan
Alquran oleh Departemen Agama RI, dalam hal ini, nampaknya cukup layak ditinjau
kembali karena masih mengartikan majnun dalam beberapa ayat dengan
"gila".
Dalam hal ini, kesalahan penentang-penentang Nabi Muhammad kala
itu, minimal ada dua. Pertama, mereka tidak mampu membedakan alias menyamakan
antara Tuhan sebagai Dzat Yang Maha Tinggi dengan jin, padahal jin adalah
makhluk ciptaan-Nya. Kesalahan kedua adalah konsekuensi dari kesalahan pertama,
yakni mereka menyamakan antara utusan Tuhan (rasul) yang mendapatkan inspirasi
dari Tuhan dan penyair-penyair kebanyakan yang mendapatkan inspirasi dari jin.
Kerangka pikir seperti inilah yang dapat mengantarkan pada
pemahaman bahwa tidak ada masalah jika Alquran dikatakan sebagai (berirama)
puisi (syair yang dikembangkan dan diperhalus ke dalam bentuk seni), karena
kenyataannya memang demikian. Akan tetapi yang penting dan harus dicatat bahwa
Alquran bukan kata-kata seorang penyair yang dirasuki jin seperti konsepsi
masyarakat Arab Pagan.(33)
-Mohammad Nasih, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Direktur
Freedom College Semarang.
Sumber: Suara Merdeka, 22 November 2002

