Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Cukup beralasan jika dikatakan bahwa tak ada yang memiliki
implikasi sedahsyat politik. Sebab, politik dapat mempengaruhi seluruh aspek
kehidupan manusia saat ini. Kebijakan-kebijakan politik yang diklaim sebagai
kehendak umum, walaupun sesungguhnya dibuat oleh hanya beberapa gelintir orang
saja, memiliki kekuatan yang mengikat seluruh warga negara dalam lingkup yang
sangat luas. Kebijakan politik yang baik, akan mengarahkan negara dan
masyarakat kepada kebaikan. Demikian pula sebaliknya. Itu disebabkan politik
berkait sangat erat dengan kekuasaan.
Dalam konteks ini, kekuasaan bisa dikatakan berada dalam ruang
yang bebas nilai. Ideologi yang mewarnai kekuasaanah yang sarat nilai karena
dapat mewarnai kekuasaan negara. Ideologi yang berhasil mendominasi ruang
kekuasaan itulah yang kemudian menjadi karakter negara. Ideologi menunjukkan
orientasi politik orang-orang yang memperjuangkannya. Karena itu, penilaian
baik dan jahat terhadap seorang aktor politik dapat diukur salah satunya dengan
melihat ideologi yang dianut. Tentu saja ini sangat terbuka untuk
diperdebatkan.
Baik atau buruk politik tergantung kepada siapa yang menjadi
aktor-aktor dalam politik. Politik tidak lebih dari sekedar alat. Dan ia
merupakan alat yang sangat efektif untuk menginstitusionalisasikan nilai yang
diyakini oleh aktor-aktornya. Dengan ibarat yang sangat sederhana, politik
bagaikan pisau dapur. Pisau dapur bisa digunakan untuk membantu kerja-kerja
rumah tangga. Tapi juga bisa digunakan oleh para perampok untuk membunuh orang.
Karena itu, politik memerlukan orang-orang baik. Politisi yang
baik sangat diperlukan karena karena politik lebih sering dilekati oleh stigma
negatif, seperti politik itu kotor, jahat, kejam, dan stigma lain yang semacam
itu. Stigma tersebut muncul sesungguhnya karena hanya berdasar kepada
kasus-kasus negatif yang muncul sebagai bentuk-bentuk penyelewengan kekuasaan
politik. Karena kasus-kasus itu, dalam beberapa bagian buku Politics and
Morality (2009), Susan Mendus, guru besar Filsafat Politik di Universitas York,
Inggris, memberikan deskripsi yang menegaskan bahwa politisi memiliki
integritas moral yang rendah. Mereka melakukan banyak hal buruk, termasuk
berbohong, untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri (hal. 2). Dalam
konteks ini, Susan Mendus melihat bahwa terdapat ketegangan antara moralitas
dengan politik.
Landasan Moral
Dalam karyanya yang lain berjudul Impartiality in Moral and
Political Philosophy (2002),Susan Mendus menyebutkan bahwa politik bisa menjadi
baik apabila ia memiliki landasan moral yang kuat. Dalam konteks inilah politik
memerlukan orang-orang yang baik. Negara bisa menjadi baik apabila
penyelenggaranya baik.
Sebenarnya jumlah orang baik tidak kurang untuk mengisi
struktur-struktur politik kenegaraan yang ada. Akan tetapi, seringkali
orang-orang baik itu tidak berani membuktikan diri bahwa kebaikan mereka tahan
uji. Kebaikan seseorang bisa dinilai dari dua hal. Pertama, orang bisa dinilai
benar-benar baik ketika tahan menghadapi godaan yang menggiurkan. Kucing yang
tenang ketika di hadapannya tidak ada ikan asin, tentu sangat wajar, sehingga
kucing tersebut tidak bisa dinilai sebagai kucing yang baik karena terlihat
tidak (suka) mencuri. Namun, ketika kucing itu tetap tenang ketika ada ikan
asin yang sangat disukainya terhidang di meja makan dan si tuan sedang lengah,
maka kucing itu baru bisa dianggap sebagai kucing yang jinak dan layak
dipelihara sebagai hiasan atau penjaga rumah untuk memburu tikus yang kalau
dibiarkan akan terus beranak-pinak.
Kedua, kebaikan seseorang sesungguhnya baru bernilai ketika telah
terwujud secara fungsional. Banyak orang yang merasa dan bahkan mengaku sebagai
pribadi yang baik dan bersih. Namun, pada saat yang bersamaan mereka membiarkan
kejahatan merajalela di depan mata mereka. Bahkan ketika kejahatan itu menjalar
ke mana-mana tetap dibiarkan saja. Padahal setiap individu memiliki kewajiban
untuk mencegah kejahatan terjadi. Orang yang mampu mencegahnya adalah orang
yang mendapat nilai paling tinggi. Sedangkan orang yang hanya diam saja melihat
kejahatan terjadi, nilai yang didapatkannya adalah nilai terendah. Agama
menyebut orang seperti itu adalah orang dengan keimanan dalam derajat terendah.
Orang-orang baik yang tidak mau mengisi struktur-struktur politik
atau bahkan anti politik, sesungguhnya telah membiarkan orang-orang jahat
dengan mudah menguasainya dan kemudian dengan mudah dan sangat leluasa
menggunakannya untuk memenuhi kepentingan-kepentingan jahat mereka. Jika banyak
orang baik yang mendedikasikan diri untuk politik, maka tidak akan ada cerita
tentang politik uang dan kecurangan dalam penghitungan suara dalam Pemilu.
Seluruh keburukan itu terjadi karena masing-masing pihak berusaha sekuat tenaga
untuk memenangkan kompetisi dengan menghalalkan segala macam cara. Sedangkan
prinsip kejujuran diabaikan sama sekali.
Orang-orang yang tidak jujur tidak perlu terikat kepada aturan
moral dan etika. Dalam kondisi terdapat banyak politisi baik yang menjadi
kompetitor politisi buruk, politisi buruk secara kalkulatif tetap lebih
berpotensi besar. Sebab, politisi buruk bisa menggunakan segala macam cara.
Apalagi jika tidak ada orang baik yang terjun ke dalam politik dan berniat
serius untuk menghalangi politisi buruk yang machiavelian. Karena itu,
dibutuhkan orang-orang baik dalam jumlah yang lebih besar untuk mencegah agar
jangan sampai orang-orang jahat menguasai medan politik. Dan para orang baik
tersebut harus melakukan sinergi agar jangan sampai ada celah sedikit pun yang
dapat dimasuki oleh orang-orang yang berniat jahat, karena jika mereka berhasil
masuk ke dalamnya, maka mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk
melakukan pembusukan dari dalam.
Orang-orang baiklah yang diharapkan dapat mewujudkan kebaikan
bersama. Karena itu, kekuasaan seharusnya dipegang oleh orang-orang yang
memiliki rasa cinta kepada orang lain, bukan rasa cinta kepada diri sendiri.
Karena cinta kepada diri sendiri akan mengantarkan kepada kesenangan kepada
materi. Kesenangan kepada materi dapat dipastikan akan mendorong politisi untuk
menggunakan kekuasaan yang ada untuk mengakumulasi materi guna menyenangkan
diri sendiri, tak peduli walaupun terdapat orang lain mengalami kesengsaraan
hidup. Kalaupun ada kepedulian kepada orang lain, porsi kepedulian tersebut
sangatlah minim dan hanya dijadikan untuk membangun persepsi publik bahwa
mereka memiliki kepedulian untuk mengemis dukungan dalam proses kompetisi
Pemilu.


obat ampuh untuk penyakit sipilis
BalasHapusobat sipilis paling manjur
obat sifilis paling ampuh
obat ampuh penyakit sipilis
obat paling ampuh untuk sipilis