![]() |
| Oleh: Busrol Chabibi* |
Pepatah mengatakan “Jika
ingin mengenal dunia maka membacalah, jika ingin dikenal dunia maka menulislah.
Jika belum mampu menjadi penulis maka baca saja”. Hal ini dapat ditarik
kesimpulan bahwasannya dengan membaca kita dapat mengenal dunia secara
menyuluruh. Maka, membaca merupakan hal terpenting bagi masyarakat agar
berpengetahuan luas.
Tidak bisa dipungkiri bahwa membaca
merupakan salah satu hal yang sangat penting yang harus dikerjakan oleh semua
kalangan, dari anak-anak sampai orang tua. Sebab dengan membaca, kita dapat
mengetahui hal-hal baru yang selama ini belum diketahui. Apalagi bagi mahasiswa,
biasanya mahasiswa haus dengan pengetahuan.
Untuk menjadi mahasiswa yang
berpengetahuan luas atau berintelektual tinggi, maka dibutuhkan banyak bahan
yang dapat meningkatkan pengetahuannya. Membaca buku adalah salah satu cara
untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa. Dari buku, mahasiswa dapat menampung
segala macam ilmu. Baik ilmu teoritis maupun praktek.
Mahasiswa yang bacaan bukunya
banyak biasanya cepat dan tanggap dalam menerima informasi. Sehingga mahasiswa selalu
mengetahui hal-hal baru yang terus berkembang dan selalu siap menghadapi hal-hal
baru tersebut, terlebih di zaman yang selalu berubah-ubah. Mereka pasti dapat
menempatkan dirinya di era globalisasi ini.
Namun, yang jadi permasalahan
saat ini adalah banyak dari mahasiswa yang enggan membaca buku. Mereka
beranggapan bahwa kuliah hanyalah formalitas saja, dan merasa cukup dengan ilmu
yang sudah diberikan oleh dosen dalam mata kuliahnya. Hal inilah yang
menyebabkan mahasiswa sekarang kualitasnya menurun.
Mahasiswa yang seperti itu
dapat dilihat dari paradigmanya. Paradigma yang dibangun dalam diri mahasiswa
yang tidak suka membaca buku biasanya bersifat bertahan atau tidak ingin maju. Selain
itu, dapat dilihat dari cara berbicara mahasiswa. Mahasiswa yang tidak suka
membaca buku biasanya cara berbicaranya tidak runtut atau putar-putar sehingga sulit
dipahami.
Hal ini harus segera diatasi,
agar reputasi mahasiswa dapat terjaga dengan baik. Langkah yang paling tepat
saat ini adalah penyadaran bagi mahasiswa. Kita dapat melakukan penyadaran
tersebut melalui pengadaan seminar-seminar yang dapat menumbuhkan minat baca
mahasiswa menjadi meningkat.
Di sisi lain, kita bisa
merubah atau mendekorasi tempat-tempat baca bagi mahasiswa, seperti
perpustakaan dan taman-taman untuk dibentuk semenarik mungkin. Misalkan membuat
taman-taman yang sejuk dalam perpustakaan atau memberi patung-patung perjuangan
pada taman. Langkah yang unik ini selain meningkatkan baca mahasiswa sebetulnya
akan menumbuhkan nilai-nilai heroisme pada mahasiswa, karena mereka selalu
mengingat tokoh-tokoh pahlawan terdahulu sehingga mereka akan berusaha
memperjuangkan dirinya demi ketahanan dan kemajuan bangsa Indonesia.
*Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Sumber: Suara Mahasiswa Bali Post, 26 Januari 2015

