![]() |
Oleh : Tri Rahayu*
|
Memberantas
kemiskinan merupakan grand goal (baca: pekerjaan rumah/ PR) pemerintah
yang tak kunjung terselesaikan. Pasalnya, sejumlah program pengentasan
kemiskinan telah dilaksanakan, tetapi lagi-lagi berujung gagal, tak pernah
mendapat jawaban pasti, dan tidak ‘benar-benar’ berhasil dituntaskan. Ihwal
satu ini menjadi parameter tingkat kemakmuran suatu negara. Pantas disebut makmur,
apabila berhasil mengentaskan kemiskinan masyarakat pada suatu negara tersebut.
Terlepas
dari pernyataan di atas, dewasa ini terdapat satu fenomena yang upaya untuk mengatasinya,
tidak cukup hanya melalui program pengentasan kemiskinan saja. Fenomena tersebut
ialah poverty mentality alias ‘mentalitas miskin’. Fenomena yang
belakangan tengah mencandu dan mengurat syaraf dalam pusaran publik. (redaksi).
Pada
sebagian negara berkembang, justru mentalitas miskin inilah virus yang sangat
cepat merebak. Virus Mentalitas miskin atau kemiskinan mental tidak hanya
terjadi pada kalangan masyarakat strata bawah saja. Bahkan, pada strata
masyarakat menengah ke atas hingga kaum elite, virus ini lebih ganas menyerang
dan tumbuh subur.
Jika
sebelumnya miskin merupakan sebuah aib, kini miskin dianggap ada gunanya juga. Alhasil,
tidak sedikit di antara mereka berlomba melenyapkan rasa malu dengan memproklamirkan
diri sebagai orang miskin.
Pesta Memiskinkan Diri
Mentalitas
miskin atau ‘memiskinkan diri’ teridentifikasi dari besarnya jumlah masyarakat
yang mengaku miskin. Salah satu wujud kemiskinan mental seseorang secara
kentara dapat dilihat dari berbagai tindak korupsi yang semakin merajalela.
Para
penyandang gelar koruptor jelas merupakan penderita penyakit mental miskin
kronis yang sangat sulit disembuhkan. Bagaimana tidak, mereka memanfaatkan
momen-momen berharga saat berhasil menduduki suatu otoritas tertentu, guna melancarkan
aksi menyunat uang-uang amanat rakyat dan meraup uang tambahan
sebesar-besarnya. Rupanya, gaji yang mereka dapatkan dirasa belum cukup
memenuhi kebutuhannya. Kalangan ini tidak kalah miskinnya dengan pengemis yang
bermental peminta-minta. Mental miskin, yang merasa selalu belum berkecukupan
dan layak diberi ‘santunan’.
Pesta
memiskinkan diri juga acap kali terjadi ketika pemerintah menentukan kebijakan
pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada 2005 dan 2009 silam, yang pada 2013
lalu beralih nama menjadi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Kebijakan
ini turut berkontribusi menciptakan masyarakat-masyarakat yang bermental
miskin. Pasalnya, kerap terjadi kericuhan yang luar biasa hebat dalam lautan
pengantre, karena banyak yang merasa pantas dan layak menerima bantuan
tersebut.
Demikian pula saat
ada pembagian beras miskin alias raskin maupun zakat. Dengan berbekal
memanipulasi data ‘miskin’, berduyun-duyun mereka berdatangan dan rela antre
berjam-jam karena tidak mau kalah serta merasa patut mendapatkannya. Bahkan,
rela mati terinjak-injak dalam antrean tersebut.
Tidak berhenti sampai
di situ, dalam tataran pendidikan pun siswa mau aktif hanya ketika ada
‘embel-embel’ nilai atau skor. Tanpa embel-embel tersebut, mereka tidak akan
belajar secara serius dan mandiri. Padahal justru dengan belajar giat, reward
yang mereka terima adalah peningkatan kompetensi diri.
Satu lagi yang lebih
parah, salah satu lembaga penegak hukum tindak pidana korupsi yakni Komisi
Pemberantas Korupsi (KPK) pun hanya sibuk menangani korupsi di level
pemerintahan saja. KPK tidak pernah menangani delik tersembunyi pada kasus
korupsi dalam pelayanan publik, seperti pembuatan e-KTP, Paspor, SIM, dll.
Dapat ditarik benang
merah, bahwa budaya masyarakat, kebijakan pemerintah, kegagalan edukasi, maupun
alam yang memiliki potensi yang berlimpah turut andil membentuk jiwa-jiwa
pemalas dan mentalitas miskin. Tanpa harus bersusah payah, hanya dengan mengaku
miskin semua keinginan bisa didapatkan. Memang, mentalitas miskin menjuruskan manusia untuk
terjerumus ke lembah kemiskinan yang lebih dalam.
Menginstal Ulang Pikiran (Mindset) Kita
Semua
fenomena-fenomena di atas terjadi karena kurangnya rasa mensyukuri segala
nikmat yang diberikan Tuhan atas kehidupan yang lebih berkecukupan, sehingga
bertindak serakah mengabaikan rasio dan moral.
Sejatinya,
Indonesia telah dikonsep menjadi negara yang merdeka oleh founding father kita.
Bukan hanya sekadar ‘katanya’ merdeka saja, tetapi benar-benar merdeka. Sebut
saja salah satu istana kepresidenan kita. Mengapa disebut Istana Merdeka? Lalu,
mengapa masjid terbesar umat muslim di Asia Tenggara –yang terletak di ibukota
Jakarta- diberi nama Masjid Istiqlal (Istiqlal, dalam bahasa arab berarti
merdeka/ independen)? Bukan tanpa alasan, nama tersebut membuktikan bahwa
Indonesia sejak dahulu memang telah dikonsep menjadi negara yang merdeka.
Islam pun
tidak pernah mengajarkan umatnya untuk bersikap layaknya pengemis yang selalu meminta-minta.
Seseorang sangat dibolehkan dan halal untuk meminta-minta bila memang
kondisinya menyebutkan bahwa ia benar-benar dalam posisi kekurangan dan butuh
sekali bantuan. Sebaliknya, jika memang kondisi seseorang tergolong mampu,
perbuatan ini menjadi sangat amoral lagi hina. Ia tidak hanya terhinakan di
hadapan jutaan pasang mata manusia. Justru di akhirat kelak, ia tampak lebih
hina di hadapan Sang Khalik, Allah Swt.
Dan Islam selalu mendorong manusia untuk berusaha dan tidak
menganjurkan hidup dari belas kasihan orang lain. Allah akan membuka pintu kemiskinan atas diri sesorang yang kerap meminta-minta.
Bahkan secara jelas suatu hadits mengatakan
bahwa tangan di atas jauh lebih mulia dari pada tangan di bawah (HR Muslim
No 1715-1718). Ini menunjukkan kita lebih dianjurkan untuk menjadi insan
yang suka berbagi terhadap sesama daripada menjadi insan peminta-minta yang
bisanya hanya nadong saja, tanpa berusaha. Akan lebih tercela lagi hina
bahkan, apabila seseorang yang sebetulnya mampu tetapi mengaku berstatus
miskin.
Seperti
yang telah hemat penulis paparkan di atas, upaya mengatasi mentalitas miskin
ini tidak cukup hanya dengan program pengentasan kemiskinan saja. Akan tetapi, perlu
adanya kesadaran diri dan pendidikan yang lebih manusiawi dan sadar
posisi, baik didapat dari lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Andaikata
upaya-upaya tersebut tak kunjung memberi efek yang berarti, maka langkah baru
perlu dipersiapkan yakni dengan menginstal ulang pikiran (mindset) kita.
Konon, dari beberapa penelitian psikologis mengatakan bahwa semua yang kita
lakukan bergantung dari apa yang alam bawah sadar kita instruksikan. Hal ini sering
disebut dengan istilah LoA (Law of Attraction / Hukum tarik menarik). Ketika
si alam bawah sadar menginstruksikan “A” maka secara otomatis kita akan
melakukan hal “A” tersebut pula. Begitu pun sebaliknya.
Oleh
sebab itu, upaya menginstal ulang mindset kita dari mentalitas miskin tersebut
bisa dilakukan mulai saat ini juga. Dengan mengingat bahwa masih banyak orang
yang jauh lebih membutuhkan bantuan daripada kita. Kita layak disebut sebagai
manusia sejati bila mampu memanusiakan manusia. Ubahlah mindset yang
awalnya ‘meminta-minta’ menjadi memberi. Bebaskan mentalitas miskin kita,
instal mentalitas kaya sekarang juga. Wallahu a’lamu bi al-Shawab.
*Ketua Bidang Pendidikan dan Penyuluhan Himpunan Penyalur Inspirasi Mahasiswa (HimPIMa) UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Harian Suara Karya, 2 Maret 2015

