![]() |
| Oleh: Maslihan* |
Keperawanan merupakan kesucian diri bagi seorang wanita yang
belum melakukan akad nikah. dikarenakan, kesucian tersebut sebagai tolok ukur
untuk memanjakan seorang suami di kala melakukan hubungan intim di malam
pertama. Singkat cerita, pada zaman dulu dari masyarakat Jawa ada yang
berpendapat bahwa saat hubungan suami istri di malam pertama, disaat itu juga
sang suami tahu bahwa istrinya sudah tidak perawan lagi sebelum menikah, maka hubungan akan kurang harmonis
dan berujung pada perceraian. Karena kemungkinan besar akan berpotensi risiko
dimana sang isteri mudah tergoda dan menimbulkan perselingkuhan. Kesakralan
keperawanan sangat perlu dijaga.
Akan tetapi, di era modernisasi sekarang dalam kaca mata
alam, sedikit sekali perempuan perawan yang benar-benar perawan. Karena dalam
waktu tahun ke tahun peningkatan ketidaksucian bagi para wanita di Indonesia
meningkat drastis. Kejadian itu dipicu nilai-nilai budaya dan moralitas bangsa anjlok
yang menyebabkan tingkat keperawanan sangat langka. Namun tingkat kelangkaan perawaan dianggap
tidak penting bagi sebagian orang yang
menginginkan “Surga dunia”. Tegasnya, moralitas pribadi sudah kalah dalam
melawan hawa nafsu. Terkait hal itu di buktikan adanya survei tentang presentasi ketidakperawanan wanita di Indonesia.
Pada tahun 2007, survei di 12 kota besar di
Indonesia yang dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak terkait
ketidakperawanan remaja di tingkat bangku sekolah. Mencengangkan sekali
bahwasanya pelajar di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) 62, 7% pernah
melakukan hubungan badan dan siswi SMA (Sekolah Menengah Atas) 21,2% pernah menggugurkan
kandungannya.
Selanjutnya, survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) tahun 2010 , di kota besar seperti Bandung tingkat presentase
ketidak perawanannya mencapai 47%, di Surabaya 54%, dan Medan 52%. Bahkan yang
paling mencengangkan di Ponorogo hasil acak dari KPPA (Kantor Pemberdayaan
Perempuan Dan perlindungan Anak) keditakperawanannya mencapai 80%. Sungguh
ironis bukan. Hasil itu jawaban dari responden sendiri. ini menunjukkan bahwa tingkat keperawanan
di Indonesia mengalami degradasi.
Semakin melonjaknya
ketidak perawanan di Indonesia, mengakibatkan bemacam-macam penyakit kelamin bertambah
setiap waktunya. HIV/AIDS merupakan penyakit kelamin mematikan yang belum ada
obatnya. Kalau hal ini dibiarkan, maka separuh lebih generasi penerus bangsa
ini terjangkit penyakit ini. Minim pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS,
merupakan sebab utama merajalelanya free sex dan memicu pertambahan
jumlah penderita. Namun, terkait hal itu remaja indonesia kurang bijak
menetukan suatu keputusan.
Akan tetapi, para remaja
pintar mencari solusi yang salah. Dimana banyak yang mengakali dalam hubungan
badan (belum nikah) menggunakan alat kontrasepsi agar tidak tertular penyakit
kelamin tersebut. Memang dalam hal ini penyakit HIV/AID dapat dibendung. Akan tetapi
praktik perzinahan semakin marak dilakukan dan dipertontonkan.
Dari permasalahan diatas,
delinkuensi ini berakar dari praktik berpacaran yang tidak sehat akibat
perhatian orang tua yang minim untuk mencegah dan memberikan bekal berupa ilmu agama.
Tidak luput juga lingkungan yang tidak mendukung dan media sosial yang tidak
terkontrol. Sehingga perzinahan dilakukan kapan saja dan dimana saja.
Dilihat dari realita
lapangan, bahwa anak-anak dari kalangan mahasiswa, SMA, SMP, bahkan SD sudah
mendarah daging yang namanya berpacaran. Hal ini harus ditindak tegasi karena semakin
wanita di Indonesia moralnya anjlok, maka negara juga akan bobrok. Tumpulnya ajaran
keagamaan merupakan pemicu delinkuensi. Yang perlu dipertanyakan, padahal
masyarakat Indonesia beragama Islam yang mana seharusnya menjaga moralitas. Hal
ini harus kita renungkan bersama dan ditindak tegasi agar presentasi ketidak
perawanan menurun.
Dalam al Qur’an telah
memaparkan bahwa tidak boleh mendekati zina karena itu perbuatan keji dan jalan
yang buruk yang tertuang dalam QS. al Isra’ ayat 32. Dari ayat
itu sebenarnya sudah jelas sekali intinya. Kalau dilogika, mendekati saja tidak
diperbolehkan apalagi melakukan. Mendekati zina tersebut berupa pacaran. Karena
dilihat dari relita, berpacaran lebih banyak madlaratnya dari pada
manfaatnya.
Dan dilanjut lagi dari
QS. Al Furqaan ayat 68-69 yang menjelaskan hukuman yang berat bagi
orang yang yang berzina. Di sebutkan akan dilipat gandakan azab untuknya kelak
di hari kiamat dan akal kekal didalamnya dalam keadaan terhina. Sudah jelas
sekali ancaman bagi orang yang melakukan zina.
Akan tetapi mengapa
remaja Indonesia yang otabene beragama islam banyak yang berpacaran yang
berimplikasi pada perzinahan? Sungguh ironis memang kedegradasian keperawanan perempuan Indonesia sekarang. Seharusnya
pemuda pemudi islam harus turun tangan untuk mengatasi problem ini. Jangan
sebaliknya, ikut andil dalam mengadopsi praktik dari budaya barat yang tidak
patut dicontoh tersebut.
Alternatif solusi
Semakin mendarah daging praktik
perzinahan di negeri ini, mengakibatkan pemuncakan ketidak perawanan. Hal ini
kalau di biarkan, mau di kemanakan harkat dan martabat bangsa ini. Pemerintah
harus tegas menindak lanjuti hal ini. Karena perbuatan mesum tersebut tidak
berperi kemanusiaan. Begitu juga betentangan dengan agama. Mengingat agama yang dianut adalah Islam.
Seperti halnya warung esek-esek yang di gunakan making
love para lelaki dan wanita hidung belang, pemerintah seharusnya tegas
untuk menindak lanjuti. Tindakan tersebut bisa berupa pembongkaran warung
tersebut agar praktik mesum tidak berkelanjutan. Namun terkait hal itu,
pemerintah harus memberi lapangan pekerjaan yang halal agar pengangguran dan prostitusi
tidak terjadi lagi. Sehingga, citra bangsa menjadi baik dan bermartabat.
Penyuluhan tentang sex
education perlu diadakan oleh BKKBN (Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasiona) agar memberi penyuluhan dan gambaran
mengenai bahaya free sex bagi kesehatan dan membuat spanduk yang
bertuliskan tentang hal itu. Tak lupa juga koordinasi dengan pemuka agama juga
sangat diperlukan guna membuat remaja berkarakter terutama para wanita. Selain
itu, juga bisa memantapkan keimanan dan
prespektif untuk menjauhi seks pra nikah yang menyebabkan Perawan Hampir Punah
(PHP) menjadi Perawan Belum Punah (PBP). Wallahu a’lam bissowab.
*Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Jateng Pos, 25 Maret 2015

