KRISIS kepemimpinan semakin hari kian terasa. Banyak
mereka yang sebenarnya tidak memiliki kualifikasi sebagai pemimpin tetapi
menduduki posisi pemimpin. Mereka terpilih menjadi pemimpin bukan karena
kualitas dan integritasnya, melainkan faktor lain yang cenderung negatif. Di
antaranya karena uang atau karena keturunan pemimpin sehingga akhirnya dipilih,
meski tidak punya kualifikasi atau bahkan hanya karena pencirtraan. Krisis
kepemimpinan harus segera diatasi, supaya negara ini bisa segera keluar dari
keterpurukan.
Beberapa waktu lalu rakyat Indonesia dikejutkan sikap
Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang terkesan dilema sehingga lama mengambil
keputusan terkait konflik KPK dan Polri. Hal ini membuat sebagian rakyat
berang, bahkan ada yang mengatakan presiden tidak punya karakter kepemimpinan
kuat.
Tentu saja vonis tersebut terlalu dini, namun harus
disadari jabatan presiden bukanlah arena untuk melatih kepemimpinan, karena apa
pun keputusan presiden akan menentukan hajat hidup orang banyak.
Karena itulah, apa pun yang dilakukan seorang pemimpin
harus berdasarkan karakter kepemimpinan positif yang akan membawa kemaslahatan
bagi umat dan bangsa. Karakter kepemimpinan tercermin dari perkataan, sikap dan
perilaku pemimpin dalam memutuskan sesuatu atau menetapkan kebijakan. Sebab,
kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk
mencapai tujuan yang diinginkan (Shared Goal, Hemhiel & Coons). Sedangkan,
Mohammad Nasih menjelaskan, karakter itu sama dengan akhlak.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, kata
"akhlak" tentu sudah tidak asing lagi karena telah diserap menjadi
bahasa Indonesia dari bahasa Arab. Menurut al-Ghazali, akhlak adalah suatu
sikap mengakar di dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah
dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.
Jika dari sikap itu lahir perbuatan terpuji, baik
menurut akal sehat maupun syara', maka ia disebut akhlak terpuji (akhlak
mahmudah). Jika yang lahir perbuatan tercela, ia disebut akhlak tercela (akhlak
madzmumah). Definisi ini sangat compatible dengan persoalan pemimpin saat ini
yang dalam memutuskan segala persoalan cenderung berlarut-larut dan tidak
jarang menghasilkan keputusan tidak tepat.
Revolusi Akhlak Kepemimpinan
Dengan uraian tersebut, menjadi tidak berlebihan jika
penulis menganggap banyak di antara pemimpin Indonesia saat ini yang tidak
memiliki karakter. Dengan kata lain, para pemimpin di Indonesia saat ini sedang
mengalami krisis karakter. Kondisi ini jika dibiarkan akan menyengserakan
rakyat yang dipimpinnya.
Dalam konteks Jokowi saat ini, tentu juga sama.
Bahkan, bukan tidak mungkin pernyataan Jusuf Kalla - sekarang wakil presiden -
saat sebelum pilpres lalu, "jika dipimpin Jokowi, bisa hancur negeri
ini" akan menjadi kenyataan.
Tentu rakyat tidak rela Indonesia hancur, apalagi para
founding fathers yang telah mati-matian menidirikan negara ini. Mereka tentu
akan sangat marah, bahkan mengutuk tindakan orang-orang yang dipercaya sebagai
pemimpin tapi tidak menjalankan kepememimpinannya dengan karakter positif.
Problematika kepemimpinan Jokowi saat ini sangat
bertolak belakang dengan slogan yang dia jual saat kampanye Pilpres 2014.
Apalagi kalau bukan slogan fenomenalnya; Revolusi Mental? Mungkin terlalu
kasar, jika rakyat Indonesia saat ini meminta Jokowi dan jajaran
pemerintahannya merevolusi mentalnya. Namun, apa boleh buat. Inilah suara
rakyat.
Revolusi mental memang harus dilakukan dari atas.
Presiden Jokowi harus memulai revolusi mental yang telah digagasanya di jajaran
pemerintahnya. Sebab, salah satu sifat masyarakat Indonesia, menurut Mochtar
Lubis, adalah berbudaya feodal, sehingga apa yang dilakukan pemimpin sangat
mudah diikuti rakyatnya. Jika pemimpin memiliki perangai yang baik, perbaikan
akan relatif mudah dilakukan. Namun, apabila mereka berperilaku buruk, perilaku
itu pulalah yang akan membudaya di masyarakat. Sepertinya mudah, jika
dibayangkan. Akan tetapi, dengan kondisi perpolitikan yang tidak terkendali
seperti saat ini, rakyat perlu bergerak untuk mengingatkan pemimpinnya agar
kembali ke jalan yang benar.
Memilih Jalan Sunyi
Ada pepatah Jawa yang berbunyi, "Watuk iku so
diobati, nek watak angel ditambani (Batuk itu bisa diobati, kalau watak atau
karakter itu sulit diubah)". Pepatah tersebut menggambarkan betapa sulit
mengubah karakter seseorang.
Penulis teringat pelajaran akhlak dalam kitab
"Akhlaq li al-Banin" ketika masih duduk di bangku madrasah diniyah,
bahwa membangun karakter ibarat membentuk sebuah pohon. Ketika pohon itu masih
kecil, akan lebih mudah dibentuk sesuai keinginan pembentuknya. Namun, lain
lagi jikalau pohon sudah besar dan kuat, yang ada adalah sangat sulit
membentuknya.
Katakan, pohon yang sudah besar dan kuat itu ternyata
bengkok, untuk meluruskannya tentu sangat sulit, bahkan kemungkinan justru akan
patah. Analogi ini sangat sesuai dengan kondisi saat ini. Para pemimpin yang
sedang berjuang memperbaiki negara tentu memiliki karakter masing-masing. Yang
menjadi permasalahan adalah, apakah karakter itu cenderung kepada hal positif
atau justru sebaliknya.
Jika positif, itulah yang kita harapkan. Namun, kalau
ternyata negatif, apa yang bisa dilakukan? Apalagi kalau yang bertirak hanya
rakyat kecil. Kembali kepada analogi pohon di atas, justru yang terjadi adalah
pohon akan patah. Ini persoalan serius dan tidak mudah diselesaikan. Karakter-karakter
kepemimpinan yang meliputi kredibilitas, integritas, kejujuran, kebijaksanaan,
keberanian, pengorbanan, kesederhanaan, dedikasi, ketahanan berjuang dan
sebagainya, tidak mungkin dibangun dalam waktu singkat. Butuh persiapan matang
dan sistematis untuk pembangunan akhlak tersebut. Tentu saja dengan konsep
pembinaan super intensif dan berparadigma jauh ke depan.
Rumah Perkaderan Monash Institute Semarang
(monashmudaindonesia.org) telah memulai upaya pembangunan karakter kepemimpinan
bangsa sejak 2010. Perbaikan dari pinggir ini diharapkan bisa dilakukan seluruh
masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kemajuan bangsa ini ke depan.
Gerakan kutural pembentukan karakter sejak dini ini
telah dilakukan para aktivis Muslim di Turki dengan sangat gigih. Hasilnya,
para pemimpin AKP (Partai Persatuan dan Pembangunan) yang kini memimpin
menjadikan Turki sebagai negara disegani. Inilah contoh revolusi karakter
kepemimpinan bangsa. Siapa lagi kalau bukan kita yang melakukan, meski lewat
jalan sunyi. Jangan biarkan negeri ini.
Dimuat di Harian Medan Bisnis, 30 Maret 2015
Sumber:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/03/30/155133/membangun-karakter-kepemimpinan-bangsa/#.VRkMO3-1-00

