 |
| Oleh: Defina Holistika* |
SEBAGAI pencetak kaum intelektual, pendidikan tinggi masih menjadi tumpuan harapan
untuk memperbaiki kondisi bangsa. Namun dalam perjalanannya, pendidikan
tinggi, baik lembaga maupun para penggeraknya terus didera dengan berbagai
permasalahan. Di era 80-an banyak akademisi yang dinilai hidup di menara
gading (ivory tower). Istilah ini merupakan sebuah sindiran bagi kalangan
akademisi yang mengasingkan diri dari masyarakat dan bersikap apatis. Mereka
lupa akan perannya untuk melindungi dan memajukan masyarakat dengan keilmuwan
yang mereka miliki. Sebaliknya, mereka justru turut mendukung kebijakan
pemerintah yang tidak pro-rakyat dengan mengeluarkan agumen-argumen yang
meyakinkan.
Saat ini pun hujan kritik bagi kalangan akademisi
masih terus berlanjut. Sejumlah kalangan menilai bahwa penyakit banalitas
intelektual (latin: banalita intellettuale) tengah menjangkiti pendidikan
tinggi Indonesia. Fenomena ini ditandai pendangkalan tanpa disadari disertai
menurunnya kualitas akademik dan merosotnya komitmen terhadap bidang ilmu
yang digelutinya. Para akdemisi cenderung mementingkan nilai pragmatis dari
pada nilai-nilai ilmu pengetahuan.
Tidak heran pabila saat ini pengkhianatan akademik
menjadi fenomena yang banyak terjadi. Nilai-nilai keilmuwan telah tergeser
oleh nilai-nilai pragmatis. Sehingga pendapatan dipandang jauh lebih penting
dibandingkan pengabdian. Orientasi materi membuat para dosen memilih
aktivitas di luar yang lebih menguntungkan. Akibatnya, tidak ada lagi
totalitas dalam mengajar dan membagikan ilmu kepada mahasiswa.
Media pun turut berperan dalam memperparah keadaan
ini. Seringkali sejumlah dosen muncul di televisi dan dalam waktu singkat
telah mendapat predikat “pakar”, tanpa perlu melakukan penilitian yang
berarti dan penuh perjuangan. Keadaan inilah yang seringkali membuat para
akademisi terlena dengan popularitas yang diraih. Argument yang kritis dan
membangun tak lagi diperhatikan, sehingga mereka hanya menjadi intelektual
pamer (intellectual of spectacle). Tak ada lagi semangat intelektual untuk
lebih produktif memberikan sumbangan bagi pembangunan bangsa.
Kegiatan akademik yang diselenggarakan pun menjadi
cenderung involutif. Pihak kampus seringkali ramai-ramai mengadakan seminar,
penelitian, serta diskusi. Namun, hingga saat ini belum didapati dampak yang
signifikan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu pula dengan
aktivitas akademisi kampus dalam mengajar, meneliti, dan mengabdi, sayangnya
keterkaitan antara ketiga kegiatan akademis ini belum berhasil ditemukan.
Sehingga kegiatan ini terlihat hanya sebagai formalitas.
Banyak pula ditemui kalangan akademisi yang lebih
tertarik dengan birokrasi kampus hingga melupakan kampus yang hakikatnya
adalah lembaga akademik. Jabatan sebagai rektor, dekan, serta jajarannya
menjadi lebih menarik dibandingkan mengadakan penelitian untuk mengembangkan
pengetahaun dan menyelesaiakan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Tak
heran apabila kualitas intelektual kampus semakin mengalami degradasi. Sebab,
para akademisi kampus pun telah kehilangan orientasi.
Kalangan akademisi saat ini terjebak dalam krisis
semangat kerja dan militansi sebagai ilmuwan. Akibatnya, penelitian yang
seringkali dilakukan hanya sebatas formalitas. Tidak ada lagi semangat untuk
menghasilkan sebuah terobosan yang kelak berguna bagi masyarakat. Bahkan,
banyak penelitian yang dilakukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan administrasi
semata.
Untuk kemajuan pendidikan Indonesia, keadaan ini
tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Oleh sebab itu, seluruh pihak yang
terlibat harus bersedia bekerjasama dengan baik. Terutama pihak kampus, harus
mampu membangun kembali kultur akademik untuk mendorong etos kerja seluruh
civitas akademika. Hal ini dapat diwujudkan melalui penyediaan fasilitas atau
kelembagaan untuk berbagai aktivitas kampus serta lebih memperhatikan
kesejahteraan kalangan akademisi kampus sesuai dengan taraf internasional.
Sehingga, popularitas dan harta tidak lagi menjadi godaan yang menggiurkan.(**)
*Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Radar Bangka Senin, 30 Maret 2015 05:09 WIB
|