![]() |
Oleh: Muhamad Abdul Rozaq
(Pengajar di Pondok Pesantren Al-Ittihadul Islamy Banjarnegara)
|
Ayo
sedulur jo nglaleake # Wajibe ngaji sa'pranatane, Nggo ngandelake
iman tauhide # Baguse sangu mulyo matine. Petikan syair Tanpo Waton karya
Alm. Abdurrahman bin Wahid (Gus Dur) tersebut, memberikan pesan untuk selalu
menyuburkan budaya mengaji sebagai langkah memperkuat benteng iman tauhid
seseorang. Sebab tanpa adanya konsistensi dalam membentengi keimanan, manusia akan
terjerumus dalam kebutaan hati dan kemerosotan nilai yang luhur.
Pola pikir yang berkembang di
masyarakat, mengaji sering diihwalkan sebagai kegiatan bertadarus (belajar dan
mengajar) al-Qur’an dan ceramah keagamaan yang membahas beberapa materi pilihan
dari referensi kitab-kitab klasik para ulama. Suguhan indah dan menyejukkan
dari ramainya bilik-bilik rumah atau surau oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an
menjadi pemandangan nyentrik yang terus mengucurkan keberkahan untuk
negeri ini.
Situasi berbeda justru terjadi
dalam beberapa kurun waktu ini. Misal, masuknya paham hedonisme dengan
mementingkan kesenangan hawa nafsu semata, membuat minat masyarakat untuk
menghias diri dengan kemuliaan kitab suci Al-Qur’an dan karamah ilmu
para ulama menjadi hal yang langka. Alhasil, banyak majelis pengajian menjadi sepi
karena tidak adanya regenerasi ustad. Implikasinya sangat ironis: tak jarang ustad
yang masih minim pengalaman dan pengetahuan menggantikan peran mengajar
masyarakat.
Beberapa sumber data menyatakan
bahwa jumlah guru ngaji di Indonesia tiap tahun mengalami penurunan kualitas. Hal
ini yang kemudian disoroti oleh Muhammad Nasih, Pendiri sekaligus pembina
Asrama Mahasantri Monash Institute. Beliau memaparkan bahwa, jumlah guru ngaji
di berbagai desa maupun kota-kota besar yang ada di nusantara mengalami
degradasi spiritualitas dan intelektualitas. Sehingga, hal tersebut dianggapnya
telah “menyesatkan” pola pikir masyarakat.
Sebuah ironi yang kini
berbanding lurus dengan keprihatinan tingkah laku generasi muslim. Praktik
pelanggaran norma dan pidana mulai menjerat dan menggerogoti sendi-sendi pemealluk
agama yang luhur ini. Jika situasi kritis tersebut dibiarkan terus terjadi, maka
kucuran rahmat Tuhan semakin menjauh dan akan tergantikan oleh kekacauan dan
bencana negeri yang tak kunjung tuntas.
Oleh karenanya, peran dari
semua pihak dibutuhkan dalam membumikan kembali adat yang penuh berkah ini di kalangan
masyarakat. Kementrian Agama (KEMENAG) selaku divisi pemerintahan yang
mengurusi urusan keberagamaan negeri, setidaknya mampu meninjau ulang
kaderisasi para ustad dan memperketat ujian sertifikasi guru ngaji yang sudah
ada di masyarakat.
Sehingga kualitas keilmuan
agama masyarakat dapat teridentifikasi dengan baik.
Para ustad juga sudah
semestinya berbenah diri dalam membimbing masyarakat. Mengajarkan ilmu sesuai
ajaran oleh rasulullah dan para pewaris ilmunya dengan ikhlas dan istiqomah
serta memenuhi standarisasi yang telah ditentukan oleh negara.
Sabda Nabi mengatakan, di akhir
zaman Allah SWT
tidak akan mencabut ilmu dari muka bumi ini dengan melepaskannya dari seorang
'alim. Akan tetapi, Allah SWT mengembalikan mereka ke sisi-Nya sampai tidak
akan tersisa 'alim satupun dimuka bumi ini. Akhirnya, manusia akan menjadikan
orang bodoh sebagai para pemimpin atau panutan. Ketik ditanya tentang sesuatu
hal, mereka menjawab tanpa didasari dengan ilmu. Mereka itulah orang yang sesat
lagi menyesatkan. Na’udubillahi min dzalik.
Dengan demikian,
hendaknya para ustad menjadi semakin mawas diri untuk memutuskan suatu
perkara agama. Tanpa adanya kualitas pengetahuan mumpuni dan dasar keilmuan
yang kuat, maka dikhawatirkan bukan sebuah tuntunan nabi yang nantinya didapat
oleh masyarakat. Melainkan, taqlid buta atau kesesatan dengan berdasar
pada penjagaan citra yang tidak ingin dianggap bodoh dihadapan khalayak umum.
Tak lupa kesadaran orang tua untuk membekali ilmu
ukhrawi kepada buah hati mereka, sebagai kebutuhan untuk rohani dan
pertanggung jawaban ketaatan kepada Tuhan. Apabila semuanya bisa bersinergi
dengan baik, maka keberkahan mengaji akan kembali menaungi negeri ini. Harapan
besarnya, Indonesia dapat menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun
Ghafur (Negeri yang subur dan makmur,
adil dan aman). Wallahu a’lam bissawab.
Dimuat di Jateng Pos, 28 April 2015
