Demonstrasi; Antara Jalan Keluar dan Buntu

Admin
0
Oleh : Tika Mutiani*
Aksi demonstrasi dalam suatu negara yang menganut sistem demokrasi seperti halnya Indonesia, adalah menjadi suatu fenomena yang biasa bagi masyarakat Indonesia.Sebab, demonstrasi merupakan suatu cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat  untuk menyampaikan aspirasi mereka baik berupa penolakan, kritik, saran,ketidaksetujuan, atau usulan kepada para penguasa terhadap suatu kebijakan yang dianggap kurang sesuai. Namun sekarang ini, aksi lebih banyak membawa madarat daripada manfaatnya. Tergantung dari sudut pandang mana kita memandang.
Sering kita mendengar,melihat di media, atau bahkan melihat secara langsung aksi demonstrasi. Biasanya aksi ini dilakukan oleh para buruh, masyakat umum, dan para mahasiswa. Mereka biasa berbicara,berteriak,dan menyampaikan aspirasi mereka di depan gedung-gedung pemerintahan. Dengan tujuan agar aspirasi mereka dapat didengar oleh para penguasa.Bahkan tidak jarang kita jumpai demo yang anarkis sampai menimbulkan korban luka hingga korban jiwa.
Salah satu contoh riil adalah ketika ribuan elemen mahasiswa yang terdiri dari HMI, IMM, UBK, Stebank Islam sudah memadati Jalan Merdeka Selatan-Jakarta , Rabu(20/5/2015). Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh ribuan elemen mahasiswa di depan Istana Negara itu lagi-lagi nyaris berujung ricuh. Ribuan elemen  mahasiswa dan aparat keamanan sempat terlibat saling dorong ketika massa mencoba menarik kawat berduri dan membakar  ban bekas. Untuk mengatasi aksi ini, dikerahkan 2500 personil polisi serta satu buah water canon dan dua buah kendaraan taktis.
Sungguh anarkisme! Itulah sebutan yang tepat untuk  para demonstran yang biasa mengambil jalan pintas untuk menggugah kepedulian para penguasa atas aspirasi yang telah mereka perjuangkan. Bahkan mereka tak lagi menghiraukan anggapan orang lain terhadap aksi yang telah mereka lakukan. Mereka justru beranggapan bahwa kini nilai-nilai demokrasi sudah mulai tidak difungsikan.
Demokrasi seharusnya menjadi jalan keluar yang mudah untuk mengatasi konflik dan anarkisme. Demokrasi memberikan keluasan kepada rakyatnya untuk menyampaikan aspirasi mereka baik berupa,  penolakan ,kritik ,saran,ketidasetujuan,atau usulan terhadap suatu kebijakan. Tinggal bagaimana pelaksanaan terhadap keluasan yang telah diberikan. Sehingga demokrasi dapat memberikan solusi atas segala madarat yang telah dirasakan oleh rakyat.
Sisi Baik        
Namun patut diakui, bahwa dari salah satu sisi, demonstrasi merupakan suatu bentuk penyampaian aspirasi yang efektif. Saat diskusi sudah mulai sulit dilakukan,  lembaga perwakilan rakyat yang hanya bungkam dan pura-pura tuli, serta militer yang hanya sebagai kelengkapan negara ,maka demonstrasilah yang menjadi andalan untuk beraspirasi.
Tapi demonstrasi bagaimanakah yang dianggap baik?  Ada yang beranggapan demonstrasi yang sering kali berhasil adalah demonstrasi yang banyak massanya. Karena banyak media yang tertarik untuk meliput,memunculkan ketakutan atau bahkan kekaguman dari berbagai masyarakat.Namun jika hanya kuantitas yang menjadi tolok ukur berhasilnya suatu demonstrasi  maka akan dapat membuka peluang manfaat-manfaat atasnya. Karena hal ini berkaitan dengan terbentuknya public  opinion dari isu-isu yang telah diambil. Karena itu, demonstrasi masih dianggap suatu cara efektif untuk menarik dukungan dari publik lewat penguasaan public opinion.
Pujian Pembelaan
Dari aksi-aksi yang sering dilakukan oleh para mahasiswa ,hal itu memunculkan persepsi-persepsi dari berbagai pihak. Aksi demonstrasi akan menuai kecaman bagi pihak yang tak menyetujuinya. Dan dari pihak yang menyetujui akan mengungkapkan pembelaan terhadap persepsi tersebut.
Ketika ada pihak yang berpendapat bahwa demonstrasi  itu : membuat macet, rugi, membuang-buang waktu, menghalangi aktivitas.
            Maka sebagai pihak yang menyetujuinya akan mengungkapkan pembelaannya. Membuat macet,  padahal tanpa ada demo kemacetan itu tetap ada dimana-mana bahkan terkadang kita juga penyebab kemacetan tersebut. Rugi, iya, memang mereka rugi karena mereka tahu arti berkorban. Mereka bukan tipe-tipe orang yang hanya duduk di depan TV dan  berkata “kasihan” kepada masyarakat miskin. Bukan juga orang-orang yang hanya tahu “sukses itu sama dengan berguna”, mereka empati dan berusaha untuk berguna melalui aksi.Membuang-buang waktu,anggapan tersebut dianganggap tidak benar. Karena mereka bukan membuang waktu justru mereka malah menyumbangkan waktunya untuk tetap memperjuangkan rakyat. Selanjutnya anggapan menghalangi aktivitas ,justru mereka hanya menjalankan fungsinya untuk mengontrol pemerintahan yang mereka tahu tujuan pemerintah memang baik tapi caranya mungkin kurang tepat agar tidak menambah kesusahan orang susah di negeri ini. Gangguan terhadap aktivitas kita beberapa hari saja tidak sebanding dengan gangguan jiwa,mental & fisik mereka yg berada di bawah kita. Mereka melihat kaum lemah, kita masih buta akan hal itu. Mereka peduli, kita yang tak menyetujuinnyalah yang dianggap egois.
Re-Demonstrasi
Dari argumen-argumen diatas ,ternyata ada banyak anggapan mengenai demonstrasi. Ada yang beranggapan aksi itu hanya menuai kecaman dengan alasan umum dinilai anarkis dan mengganggu ketertiban umum, termasuk memacetkan sejumlah ruas jalan. Ada pula yang memuji dengan alasan perjuangan dan membela rakyat.
Demonstrasi itu juga perlu dilakukan untuk menyampaikan aspirasi terhadap suatu kebijakan. Kita dinegara yang menganut paham demokrasi,kita sebagai warga negara berhak menyampaikan aspirasinya,namun harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku.
Tujuan dari demokrasi itu sendiri adalah untuk perubahan yang lebih baik. Sebaiknya sebelum kita melakukan aksi persiapkan argument dan strategi dengan baik,rapi dan terstruktur. Bukan sekedar  suara, spanduk,dan emosi. Perlu dipersiapkan agar tidak mengganggu kepentingan umum.
Dan  perlu kita ingat bahwa setiap tindakan pasti ada dua effect yang dihasilkan, positif dan tidak selalu memandang sesuatu dari sisi negatif. Demonstrasi dapat menghasilkan sisi positif untuk sebuah kemajuan. Bisa juga membawa dampak negatif  kalau dilakukan dengan cara tidak benar. Tergantung dari sudut pandang mana kita memandang. (Tulisan ini pernah tayang di Koran Rakyat Jateng Edisi 04 Juni 2015)

 *Kandidat disciples Monash Institute 2015

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default