![]() |
| Oleh: DR. Mohammad Nasih* |
Kaum muda merupakan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Tentu kaum muda yang bisa menjadi harapan adalah kaum muda yang memiliki
kecerdasan tinggi yang dengan kecerdasan itu mereka merencanakan dan melakukan
perbaikan.
Mahasiswa sering diidentikkan dengan kaum muda dengan kecerdasan
tinggi itu. Pasalnya, mahasiswa merupakan satu entitas di dalam golongan kaum
muda yang memiliki kesempatan khusus untuk mengakses ilmu pengetahuan yang
lebih luas. Dengan kecerdasan itu, mereka bisa berimajinasi tingkat tinggi
tentang masa depan yang lebih gemilang. Kecerdasan pulalah yang bisa menguatkan
gerakan untuk merealisasikan imajinasi.
Karena membutuhkan imajinasi, yang diperlukan adalah kaum muda
yang memiliki independensi, bukan anak-anak muda yang diri mereka telah
tergadai, dan jiwa mereka telah terpasung. Jika independensi mereka telah
terjual, walaupun mereka masih mengembuskan napas, sesungguhnya mereka telah
mati. Mereka sudah tidak lagi diharapkan bisa memberikan arti sebab telah
kehilangan kekuatan terhebat, yakni kekuatan moral untuk bersuara, dan tentu
saja kekuatan untuk bertindak.
Moral mereka telah jatuh sedalamdalamnya dan sangat sulit untuk
diangkat kembali. Menurut Ibnu Khaldun, ada empat kategori generasi, yaitu generasi
pejuang, generasi penerus, generasi penikmat, dan generasi pemboros. Dalam
konteks yang berbeda dengan yang disampaikan oleh Ibnu Khaldun, generasi
pejuang merupakan generasi yang sangat diperhitungkan oleh penguasa.
Jika penguasa melakukan penyelewengan kekuasaan, generasi pejuang
akan melakukan perlawanan dengan sepenuh jiwa dan raga. Untuk melakukan itu,
mereka rela mengorbankan apa saja. Mereka tidak lagi memiliki rasa sakit dan
tidak takut sama sekali terhadap kematian. Mereka rela menjadi ”tumbal”, yang
mereka cita-cita tercapai. Terhadap generasi pejuang ini, penguasa akan selalu
mencari cara agar mereka bisa ditaklukkan dan dimatikan.
Tentu dengan cara yang berbeda- beda. Kejadian macam ini
senantiasa berulang dan bisa dikatakan menjadi satu hukum alam. Dalam hal ini,
Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa ”sejarah akan selalu berulang”. Tidak
sedikit peristiwa sekarang ini sesungguhnya merupakan pengulangan dari
peristiwa masa lalu. Nama, penampakan, cara, dan tempatnya saja yang berbeda. Namun,
substansinya sesungguhnya tetap sama.
Di antaranya kisah tentang seorang penguasa lalim yang di dalam
Alquran disebut dengan nama Firaun yang mendapatkan informasi dari para tukang
ramalnya, bahwa akan ada seorang anak lelaki berasal dari garis keturunan Bani
Israil akan menghancurkan kekuasaannya. Untuk mengantisipasi ramalan tersebut
terjadi, dia membunuh setiap anak lakilaki yang baru saja dilahirkan dari
kalangan Bani Israil.
Usaha tersebut dilakukan secara besar-besaran, karena Firaun
menganggap bahwa kerajaannya tidak boleh berpindah kepada orang lain. Karakter
Firaun ini dalam banyak penguasa bisa ditemukan. Mereka juga tidak ingin
kekuasaan yang berada di tangan mereka jatuh ke tangan pihak lain, apalagi pada
saat mereka masih dalam keadaan segar bugar.
Jika kekuasaan tersebut sudah tidak lagi dikuasai olehnya lagi,
orangorang terdekatnya lah yang harus menjadi pengendali pelanjut. Biasanya
orang yang dianggap terdekat itu adalah anak-anak sendiri, karena kurang
percaya kepada orang lain. Karena itu, orang-orang lain yang berusaha untuk
mengganggu keberlangsungan alih kekuasaan kepada orang-orang yang diinginkan
oleh penguasa tersebut harus dimusnahkan terlebih dahulu.
Belajar dari berbagai kasus di masa lalu, kaum muda harus
bertindak hati-hati. Jangan sampai mereka masuk ke dalam jebakan yang dibuat
oleh penguasa jahat yang ingin membunuh masa depan mereka. Bisa jadi, mereka
tidak dibunuh dalam arti dihilangkan nyawa mereka, tetapi bisa dimatikan
karakternya, bisa pula dipenjarakan untuk mematikan gerakan dan sekaligus
mematikan karakternya, sehingga menjadi orang-orang yang kehilangan integritas.
Dengan demikian, di masa depan, mereka tidak lagi bisa mendapatkan
kepercayaan dari banyak orang. Padahal sesungguhnya mereka memiliki potensi
yang sangat besar untuk menjadi pemimpin masa depan. Untuk membunuh lawan, ada
banyak cara bisa dilakukan. Di tempat yang berbeda, di zaman yang berbeda, cara
itu bisa berubah-ubah sesuai dengan cara pandang masyarakat.
Di Jawa misalnya, untuk membunuh lawan politik, tidak melulu harus
dengan cara keras dengan menggunakan benda-benda yang mematikan, tetapi bisa
dengan cara halus, bahkan sangat halus. Bahkan membunuhnya dengan cara yang
tidak lazim, yakni dengan cara meletakkannya pada posisi yang paling dekat.
Maka ada ungkapan Jawa ”dipangku, mati”.
Karena itu, kaum muda harus memiliki seni dalam menjaga jarak
dengan penguasa, terutama para penguasa yang memiliki kecenderungan jahat,
apalagi benar-benar jahat, agar selamat dari pembunuhan, terutama dalam bentuk
yang halus atau sangat halus, yang karena sulit dideteksi. Ibarat naik
kendaraan di jalan tol, jarak dengan kendaraan di depan tidak perlu terlalu
jauh, tetapi juga tidak boleh terlalu dekat.
Jika terlalu jauh, tentu akan ada waktu yang terbuang untuk bisa
cepat sampai tujuan. Namun, jika terlalu dekat, bisa terjadi kejadian yang
membahayakan dan sulit menghindarkan diri. Seni menjaga jarak inilah yang harus
dimiliki agar kaum muda bisa selamat dari segala upaya untuk menghentikan
idealisme mereka.
Jika gagal menjaga jarak aman, mereka akan dimasukkan ke dalam
jebakan yang membuat kaum muda yang sebelumnya memiliki kekuatan hebat, menjadi
ibarat sekadar singa ompong. Mereka bisa dijerat dengan umpan berbagai
kenikmatan yang bisa menyilaukan mata dan hati mereka. Dengan godaan itu, niat
untuk menjadi generasi pejuang, bisa berbelok menjadi generasi penikmat.
Cukup memprihatinkan, gerakan anak-anak muda yang beberapa lalu
bersuara lantang hendak mengkritisi pemerintah, tetapi kemudian mereka berbalik
arah. Mereka belum pernah melakukan perjuangan sama sekali, tetapi sudah
langsung menikmati makan malam yang karenanya mereka kehilangan semangat untuk
melakukan perjuangan.
Karena itu, sekali lagi, kaum muda, kalangan aktivis mahasiswa
harus bisa memperkirakan ”jarak aman” untuk mempertahankan idealisme mereka
tetap terjaga, dan mereka tetap berada pada garis perjuangan untuk membela
rakyat dan senanti berusaha untuk memperbaiki negara. Wallahu alam bi
al-shawab. (Tulisan ini Pernah Tayang di Koran Sindo Edisi Senin, 25 Mei 2015)
*Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan Monash Institute

