Jokowi dan Keteladanan Muhammad SAW

Admin
0

Oleh: Ibnu Anshori*
Dalam kacamata kebanyakan masyarakat, Joko Widodo yang kerap disebut Jokowi merupakan sosok jujur, sederhana, dan merakyat. Dan hal itu dirasa benar karena masyarakat umum belum mengetahui trick politik Jokowi. Sebut saja dalam hal ini kelincahannya dalam “mempermainkan” harga bahan bakar minyak (BBM). Akhir november 2014 lalu, Jokowi menaikkan harga BBM, kemudian selang bulan, tepatnya tanggal 18 januari 2015 malam atau tanggal 19 januari, Jokowi kembali menurunkan harga BBM.
Nah, terjadinya fluktuasi harga BBM ini, disadari atau tidak, sangat merugikan masyarakat. Sekalipun menurut penuturam Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, bahwa kebijakan tersebut sebagai wujud respon merosotnya harga minyak mentah Indonesia (Indoneisa Crude Price/ICP). Alasannya sederhana, pasca kenaikan harga BBM, tentu harga barang lainnya juga melonjak, termasuk harga sembako sekalipun. Kalau boleh dibahasakan, BBM merupakan kausa prima kestabilan harga barang pokok lainnya. Jika harga BBM sudah terlanjur naik, tentu tarif hidup masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya juga naik. Kendatipun harga BBM kembali turun, atau bahkan dua kali sekalipun, harga sembako dan kebutuhan lainnya tetap melangit alias tidak ikut turun.
Dalam konteks ini, dapat ditarik benang merahnya, bahwa turunnya harga BBM tidaklah memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Katakanlah, sederhananya harga sembako dan harga transportasi. Sudah tentu, dalam kondisi seperti ini sangat mencekik masyarakat karena terpaksa harus memenuhi kebutuhannya agar dapat bertahan hidup. Dan hal ini sangat disayangkan. Jokowi yang diasumsikan sebagai “Satria Piningit” oleh masyarakat Jawa khususnya, tidak jauh berbeda dengan pemimpin sebelumnya yang belum memberikan perubahan.
Kebijakan pemerintah yang kurang menguntungkan bagi masyarakat dapat dikatakan sebagai akibat karena mereka (pemerintah) tidak memiliki karakter kepemimpinan yang baik. Dan hal ini dapat dinilai oleh Nur Cholis Madjid sebagai kebijakan atau sistem yang jahiliyah. Karena munurutnya, kebijakan yang dzalim dapat disebut dengan nilai jahiliyah. Kendati istilah jahiliyah semula dimaksudkan secara khusus kepada keadaan Jazirah Arabia sebelum Islam masuk.
Pemimpin berkarakter adalah pemimpin yang konsisten antara kata dan laku hidupnya, yang inklusif dalam wawasan dan pergaulannya, inspiratif dalam ide dan gagasannya, dan asketik dalam hidup kesehariannya. Pemimpin berkarakter juga merupakan pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah tanpa memunculkan masalah baru yang mudharatnya lebih besar, mampu bersikap siap, sergap, tegas, dan bijak dalam mengatasi problema sosial. Pemimpin bukanlah “delman” yang siap dikendalikan dan dikendarai untuk mengantar penumpang.
Mengutip istilah John Emerich Edward Dalberg Acton atau yang kerap disebut Lord Acton, menegaskan“Great man almost always bad”, yaitu (orang besar hampir selalu buruk). Buruk yang dimaksud adalah bersifat positif. Misalnya, nekad menetapkan kebijakan dan berani melawan arus. Sebab, dengan adanya keberanian tersebut, pemimpin tidak akan mudah diberdayakan oleh pihak manapun. Pemimpin seperti inilah yang didambakan oleh segenap bangsa Indonesia.
Meneladani Muhammad Saw
Merajut konteks kepemimpinan, tentu yang diharapkan bangsa Indonesia pemimpin yang mendengarkan jeritan masyarakat, dan peka terhadap kesengsaraan yang dihadapi masyarakat, bukan pemimpin boneka yang dikendalikan oleh oknum tertentu. Sehingga menyalahgunakan kebijakan, yang pada akhirnya berimplikasi pada kesenjangan sosial.
Seorang pemimpin (leader) haruslah memiliki independensi tinggi agar tidak dapat diperbudak oleh siapapun, baik independensi etis maupun organisatoris. Independensi etis merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Fitrah ini yang membuat manusia selalu berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanief). Sebagaimana fitrah manusia sebagai seoarang wakil Tuhan di bumi (QS. Al-Baqarah: 30).
Independensi organisatoris juga sangat diperlukan seorang pemimpin dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Independensi ini merupakan sifat ketidakberpihakan seorang pemimpin kepada pihak manapun. Apalagi pemimpin hanyalah sebatas underbrow dari partai atau oknum tertentu. Sungguh sangat disayangkan, karena kebijakan mutlak berada ditangan pemimpin. Jika pemimpin dapat dikendalikan, ia tidak lebih dari seorang budak. Dan tentunya, kebijakan yang ditetapkan adalah untuk kepentingan oknum semata, bukan kebijakan sesuai dengan hati nuraninya.
Dalam konteks kepemimpinan Islam misalnya, sosok Nabi Muhammad Saw dapat dijadikan figur atau bahan replika kepemimpinan Indonesia saat ini. Katakanlah, ditengah kerumunan masyarakat jahiliyyah, yang notabene adalah masyarakat penyembah berhala, beliau mampu menghanguskan kebiadaban dan mampu menciptakan peradaban. Beliau juga mampu menyatukan banyak kabilah (Muslim-non Muslim) dengan satu perundang-undangan tertulis, yaitu “Piagam Madinah” tanpa ada perpecahan sedikitpun.
Selain itu, beliau juga mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat dengan kepribadian yang santun, ramah, tegas dan bijaksana, misalnya saat beliau menjadi seorang saudagar, beliau bersikap jujur, sederhana, bahkan beliau membagi-bagikan harta yang dimiliki kepada fakir miskin, dan di saat beliau menjadi pengembala, beliau tidak pernah merasa malu dengan ejekan masyarakat sekitar. Jadi, tidak mengherankan jika Nabi Muhammad Saw di sebut sebagai pemimpin nomor satu yang sangat berpengaruh di dunia. (Michael H. Hart: 2009).
Menyelisik lebih dalam contoh diatas, yang menjadi sorotan adalah bagaimana pemimpin Indonesia, Joko Widodo meneladani kepemimpinan Nabi Muhmammad Saw sebagai revolusioner sejati dunia. Mengutip Prof. Dr. Matthias Lutz Bachmann, bahwa pemimpin harus menciptakan keramahtamahan universal(cosmopolitan right). Artinya, segala kesenjangan sosial (kemiskinan, penindasan, kekerasan, dll) harus segera diselesaikan, yakni dengan cara perbaikan karakter pemimpin, keteladanan, dan juga memantaskan diri sebagai “Nabi” (dalam bahasa Arab), atau “Satria Piningit” (dalam bahsa Jawa) untuk Indonesia, agar tercipta kemaslahatan bersama antar masyarakat dalam wadah Negara.
Karena jika mengingat perjalanan Jokowi sebagai pemimpin negara, sejauh ini harus diakui bahwa kepemimpinannya masih jauh dari hakikat kepemimpinan berkarakter. Hal ini tercermin dengan  tidak adanya perubahan dan pembaruan yang signifikan. Bahkan, visi dan misi Jokowi dapat dikatakan nonsen. Sebagai contoh, maraknya tindak kriminal seperti tawuran, narkotika, minuman keras, sexsual, dan lingkar setan korupsi yang belum bisa terentaskan.
Oleh karena itu, langkah awal untuk menciptakan peradaban di Negara demokrasi ini, sudah sepantasnya Jokowi meneladani kepemimpinan pofetik ala Nabi Muhammad SAW. Dan tentunya dengan syarat sikap benar (siddiq), cerdas (fathanah), menyampaikan (amanah), dan menyampaikan (tabligh). Dengan begitu, kesejahteraan, kenyamanan, ketentraman serta kemaslahatan akan lebih menjanjikan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Wallahua’lam bi al-shawab. (Tulisan ini pernah dimuat di koran Muria, edisi  27 Mei 2015)

*Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Walisongo Semarang dan Pegiat kajian ilmu politik di Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme Semarang

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default