Menangkal Degradasi Moral Remaja

Monash Media
0
Oleh Erna Maliatul Izza
Peran remaja sebagai pilar utama suatu pembangunan telah tergerus arus globalisasi. Hantaman modernitas yang kurang pantas telah melekat pada tatanan masyarakat. Remaja sebagai sosok yang mudah terpengaruh, semakin teracuni ide-ide kebebasan yang begitu kuat diusung negara-negara asing. Moral yang seharusnya menjadi tameng pembenteng pengaruh global justru terjangkiti lebih dini. Sikap menerima tanpa memfilter terlebih dahulu budaya luar yang masuk, menjadi implikasi kuat penyebab kemerosotan moral remaja.
Modernitas menjadi hal yang tidak terpisahkan dari globalisasi. Salah satu permasalahan yang dibawa dalam kedok modernitas adalah teknologi. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi memberi sumbangsih besar dalam tatanan kehidupan. Namun, di samping itu teknologi juga telah merenggut makna moral yang sesungguhnya. Misalnya, remaja yang kebanyakan adalah para pelajar maupun mahasiswa, saat ini seolah terlalu mengagung-agungkan gadget.
Para remaja kita, khususnya di perkotaan saat ini seakan tidak bisa terpisahkan dari gadget masing-masing. Berbagai kesibukan harian yang mereka lakukan, tidak pernah jauh dari kata ‘gadget’. Bahkan, ketika mereka terlibat dalam suatu komunikasi tidak jarang koneksi yang ada hanya sebatas suara, sedangkan pandangan dan perhatian mereka fokus di balik layar masing-masing pihak. Pernyataan tentang gadget yang bisa ‘mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat’ telah terindikasi dengan jelas. Hubungan sosial pun nyata terpengaruh kesenangan layar dunia maya (internet).
Di sisi lain, pergaulan bebas bisa menjadi ancaman di kalangan remaja kita akibat pengaruh tersebut. Di sinilah peran orangtua sangat penting untuk mengawasi anak-anaknya, khususnya yang sudah menginjak usia remaja agar tidak terjerambab dalam aktivitas pergaulan bebas.
Apalagi, sikap orangtua yang merasa khawatir ketika mendapati anaknya yang sudah baligh tetapi tidak kunjung memiliki kekasih (pacar). Sikap macam ini harus dijauhkan. Selain itu, munculnya situs, film, dan iklan di internet serta novel-novel berbau pernografi turut serta berkontribusi, mempengaruhi perkembangan anak. Oleh sebab itu, orangtua dituntut aktif mengarahkan anak-anak mereka ke aktivitas yang lebih baik.
Derasnya arus globalisasi sejak beberapa dekade silam menimbulkan banyak gejolak di kalangan remaja. Ide-ide kebebasan (liberalisme) yang telah mengakar pada diri remaja, tentunya akibat sangat minimnya peran agama dalam mengatur tatanan kehidupan. Agama tidak lagi dijadikan landasan berpikir maupun dalam berperilaku sehingga hidup mereka seakan tanpa arah.
Tatanan kehidupan remaja sekarang sangatlah berbeda dengan remaja Islam, beberapa masa silam. Sebelum pengaruh globalisasi masuk ke dalam sendi-sendi masyarakat, remaja Islam, terutama yang berada di kampung, selalu menyempatkan diri pergi ke surau (mushola) terdekat ketika seruan adzan maghrib berkumandang. Mereka melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Di lain sisi, shalat berjamaah juga akan mempererat hubungan silaturahim antarumat.
Selepas waktu shalat Isa’ berjamaah, para remaja kembali ke rumah masing-masing untuk belajar. Walaupun hanya ditemani dengan lampu minyak atau penerangan seadanya, mereka bersemangat untuk tetap belajar. Ironisnya, semua itu ada di masa silam. Di era sekarang, kondisinya sudah jauh berbeda.
Suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an sehabis maghrib, sekarang telah tergantikan dengan suara bising televisi. Remaja sekarang cenderung lebih menyukai tontonan yang kebanyakan less moral education sambil bermain gadget. Ironisnya, kondisi ini tidak saja terjadi di kota-kota besar, tetapi juga telah merambah memasuki daerah perkampungan dan bahkan pedesaan.
Terlepas dari berbagai permasalahan tersebut, remaja seharusnya bisa lebih ‘mawas diri’ dalam menggunakan berbagai piranti teknologi. Mereka diharapkan mampu menggunakannya sesuai kebutuhan, bukan sekadar untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Akhirnya, sekarang ini, yang diperlukan adalah revitalisasi moral secara besar-besaran untuk mengembalikan remaja kepada khittahnya. Perilaku menyimpang dalam tatanan kehidupan para remaja perlu direvisi ulang dan diluruskan agar tercipta remaja-remaja yang bermoral dalam menjalani kehidupan untuk masa depan mereka. ***

Penulis adalah mahasiswa UIN Walisongo, Ketua Umum Aliansi Santri Intelektual Organik (ASIO) Semarang.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default