Pudarnya Eksistensi Guru

Monash Media
0
Oleh : Lintang Mustika
Guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang dalam istilah Jawa adalah seseorang yang digugu lan ditiru. Profesi guru banyak disebut-sebut oleh masyrakat sebagai suatu profesi yang sangat mulia. Ditangan  guru, anak menjadi terdidik, terbentu akhlak dan karakternya, juga kecerdasannya. Oleh karena itu, guru dapat disebut orang tua kedua bagi anak setelah orang tua kandungnya.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, ada tiga tahapan sekolah yang diampu oleh seorang guru. Yaitu tahapan dasar, atau Sekolah Dasar, menengah pertama (SMP) dan menengah atas atau kejuruan. Dalam hal ini, peran seorang guru yang paling penting adalah peran guru SD (sekolah dasar). Karena sekolah dasar merupakan pijakan pertama seorang anak dalam dunia pendidikan formal setelah PAUD dan TK.
Guru SD sangat berpengaruh besar bagi murid. Guru SD banyak memberikan pengetahuan dasar yang dibutuhkan para murid untuk bekal pendidikan selanjutnya. Murid SD pun telah terbiasa ‘menuhankan’ gurunya karena selalu menganggap gurunya adalah seseorang yang paling benar bahkan lebih benar dari orangtuanya. Dan seolah sudah menjadi tradisi, anak kerapkali menjadikan perkataan gurunya sebagai sebuah dalil.
Menganggap guru sebagai seseorang yang maksum –bebas dari kesalahan- pun tak lepas dari tradisi masyarakat. Seorang guru terlanjur dipandang baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Guru, atau dalam Bahasa Jawa adalah singkatan dari digugu lan ditiru. Kata ini bukan hanya sekedar singkatan dari orang Jawa belaka. Namun tentu ada filosofi di dalamnya. Digugu, atau dalam bahasa Indonesia adalah dipercaya, diandalkan. Bahwa setiap apa yang keluar dari lisannya, segala tindak tanduknya, dapat diandalkan dan dapat menjadi pedoman  oleh seluruh murid dan bahkan orang tua dari murid. 
Kemudian setelah digugu adalah ditiru. Artinya, setiap ucapan dan tindakan seorang guru selalu ditiru dan diikuti oleh muridnya. Ini bukan hal yang mustahil, karena sejatinya dalam dunia psikologi peniru paling hebat adalah seorang anak. Maka dari itu, guru benar-benar dituntut untuk dapat menjaga setiap ucapan dan tindak tanduknya, karena sekali saja guru berbuat kesalahan, itu akan berakibat buruk bukan hanya kepada dirinya tetapi kepada murid yang diajarnya.
Lalu benarkah seorang guru tidak boleh melakukan sebuah kesalahan? Sejatinya guru adalah guru, bukan nabi yang maksum dan tanpa celah dosa. Memang, guru adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, akan tetapi menjadi kurang etis jika seorang guru melakukan sebuah kesalahan yang tergolong kejahatan. Karena sekali lagi, guru telah terlanjur dianggap sebagai pahlawan tanda jasa oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.
Seperti kasus yang diberitakan akhir-akhir ini, yaitu kasus guru yang tega menghukum delapan muridnya dengan memaksa kedelapan murid itu untuk melepas pakaiannya di depan kelas lantaran murid tidak mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Sang guru ini berdalih bahwa ia menghukum kedelapan muridnya dengan tujuan memberikan efek jera karena tidak mengerjakan tugas yang diberikannya. Ironisnya, dua dari delapan murid ini adalah perempuan. Hal ini tak pelak membuat hati para orang tua murid geram dan merasa kecewa karena anaknya telah diperlakukan dengan tindakan amoral seperti itu.
Dari segi psikologi, jelas hukuman seperti ini tidak layak diberikan kepada murid. Bukan saja karena tidak efektif, tapi karena hukuman semacam ini terbukti telah membunuh mental para murid. Hukuman yang  awalnya bertujuan untuk memberikan efek jera ternyata malah memberikan efek buruk pada psikis anak. Walaupun masih dalam tingkatan Sekolah Dasar, tetapi anak sudah mengerti betapa malunya jika harus dipaksa untuk melepas pakainnya di depan teman-temannya. Akibatnya, anak pun enggan untuk berangkat kembali ke sekolah karena rasa malu yang ditanggungnya.
Kasus ini pun tidak lepas menuai kontroversi dari masyarakat. Bagaimana mungkin seorang guru dapat melakukan hal sekejam ini kepada muridnya? Bukankah seorang guru harusnya menjadi sosok yang diandalkan dan ditiru tindak tanduknya? Dalam kasus ini, guru mungkin sedang lupa akan tugas dan tanggungjawabnya  untuk mendidik. Mendidik bukan hanya sebatas memberikan materi di depan kelas tetapi juga bagaimana guru itu berperan penting dalam pembentukan karakter anak.
Tugas seorang guru memang mulia, terlebih guru sekolah dasar. Karena dengan guru, anak diperkenalkan dengan dunia pendidikan dasar, dunia tulis menulis, berhitung, dan berimajinasi. Guru tidak hanya dituntuk untuk menjadi pendidik saja, tetapi juga dalam hal kedekatan emosional dengan para muridnya. Dan yang terpenting yang harus diketahui oleh seorang guru adalah bahwa kemampuan dirinya dengan anak didiknya tentu berbeda. Jadi dalam hal ini seorang guru tidak bisa memaksakan muridnya untuk mengikuti kehendaknya, misalnya mengerjakan PR sedemikian banyaknya hingga memberatkan para murid.

Dalam memberikan hukuman pun guru tidak boleh asal-asalan begitu saja. Daripada memberikan hukuman yang membunuh mental para murid, bukankah akan lebih baik jika murid diberikan hukuman yang edukatif? Yang sekiranya tidak hanya memberikan efek jera melainkan juga memberikan pemahaman akan tanggungjawabnya untuk belajar dan mengerjakan tugas. Teruntuk para pahlawan tanpa tanda jasa, sayangilah anak didikmu, karena mereka adalah ladang ibadahmu untuk mengamalkan ilmu, bukan ladang untuk pelampiasan emosi pribadi. 
Penulis adalah Mahasiswi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default