![]() |
| Oleh: Fitriyatul Munawaroh, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Mahasantri Monash Institute Semarang |
Jepang menjajah Indonesia tidak
kurang dari tiga setengah tahun, tapi dampak yang ditinggalkan begitu
mengerikan. penjajahan jepang yang sangat tidak berperikemanusiaan terhadap
masyarakat Indonesia pada masa itu, memberikan trauma mendalam bagi masyarakat
dari masa ke masa. Dan mengakibatkan terbentuknya moral budak bagi sebagian
besar masyarakat Indonesia.
Tidak heran, jika saat itu para
pemuda Indonesia tidak gencar melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Mereka
menyaksikan dan mengalami sendiri hal yang sangat mengerikan, siapapun tidak
akan mau mengalami hal tersebut. Tapi, sebagai warga indonesia juga harus
berterima kasih kepada mereka. Jika Jepang tidak menjajah Indonesia saat itu,
mungkin sampai sekarang Indonesia masih dijajah oleh negara Belanda.
Ketika seorang penakut
merasakan ketakutan yang luar biasa, maka reflek dirinya akan bekerja dengan
baik.itulah yang dialami masyarakat
Indonesia saat itu. Setiap saat mereka merasakan ketakutan yang semakin
bertambah, rasa was-was seringkali menghinggapi benak mereka. Ketakutan seperti
itulah yang akhirnya membawa Indonesia pada kemerdekaan.
Jepang tidak hanya menyiksa dan
menjadikan masyarakat Indonesia sebagai budak mereka. Tetapi juga mengajarkan
kepada masyarakat kita cara mempertahankan diri, memberikan pendidikan yang
layak, dan pengetahuan untuk bangkit dari keterpurukan. Seperti contoh, saat
wilayah Nagasakhi dan Hiroshima dibom Atom oleh tentara sekutu, mereka
tidak tinggal diam dan hanya berpangku tangan saja. Mereka langsung bangkit
berdiri dan memperbaiki semuanya.
Orang Eropa yang mayoritas
berkulit putih, menganggap bahwa diri mereka adalah kera yang berevolusi secara
sempurna. Sehingga, mereka berfikir bahwa masyarakat kulit hitam adalah Kera
yang evolusinya tidak sempurna dan tidak pantas disebut sebagai manusia.
Padahaal sudah jelas diterangkan dalam al-qur’an bahwa manusia dan kera adalah
spesies yang berbeda.
Indonesia sudah lama merdeka,
genjatan senjata dari pihak asing sudah tidak ada lagi, saatnya mengisi
kemerdekaan dengan belajar dan belajar. Belajar dari masa lalu, belajar memberi
dan menerima, belajar mempertahankan diri, belajar meraih kemenangan, belajar
mempertahankan persatuan dan kesatuan, serta belajar memimpin negeri.
Saatnya untuk bangkit dan
menunjukan kepada Dunia, bahwa Indonesia bukanlah Negara yang lemah dan mudah
diinjak-injak harga dirinya. Indonesia merupakan Negara yang berdaulat dan bisa
mempertahankan diri untuk menjaga apa yang menjadi miliknya. Rakyat Indonesia
akan selalu menentang penindasan dan kekerasan yang semakin meningkat.
Para pahlawan menginginkan yang
terbaik untuk anak cucu mereka, mereka rela mengorbankan nyawa mereka untuk
masa depan yang lebih cerah. Namun, mereka harus kecewa dengan apa yang terjadi
saat ini, pemuda yang seharusnya menjadi pemimpin masa depan banyak melakukan
kekerasan, jadi pengangguran, merampok, minum-minuman keras, serta malas
belajar.
Apa jadinya Negara ini jika para pemudanya
seperti itu. Sebaliknya, para pemuda yang kreatif dan aktif malah dikucilkan
dan dicaci maki. Mereka dianggap sesat dan dianggap murtad, serta mengikuti
ajaran terlarang. Jika seperti itu siapakah yang benar dan siapakah yang salah
disini?, apa yang harus dilakukan oleh warga Negara ini, bila apa yang mereka
lakukan selalu salah didepan orang lain.
Banyak dari mahasiswa di Negara
ini yang hanya memikirkan diri mereka sendiri, mereka kurang perduli
dengan penderitaan yang dialami oleh masyarakat disekitar mereka. Mereka hanya
terpaku pada pendidikan saja, dan enggan untuk melakukan unjuk rasa demi
kepentingan masyarakat banyak. Mereka beranggapan bahwa aksi unjuk rasa
merupakan hal yang menyia-nyiakan waktu dan tidak ada gunanya.
Seakan lupa dengan tanggung jawab
yang harus ditanggung, mahasiswa sekarang seakan tidak peduli dan sering
berfikir sempit. Selama masih ada generasi tua, mereka menganggap bahwa
itu semua bukan tugas dan kewajiban mereka. Mereka belum bisa hidup mandiri dan
masih bergantung pada orang tua.
Karakter Mahasiswa indonesia tak
lebih baik dari pada karakter seorang budak, mereka tidak berfikir panjang saat
melakukan sesuatu. Tanpa pertimbangan yang matang usaha yang mereka lakukan
berakhir dengan sia-sia. Contohnya: pada tanggal 22 Oktober kemarin, untuk
pertama kalinya Indonesia memperingati hari Santri, seperti kita ketahui
bersama, walaupun tidak ada hari santri, semua orang yang menjadi santri di
Indonesia akan tetap dianggap sebagai santri, kalau sudah seperti itu untuk apa
diadakan perinngatan hari santri!.
Dari pada melakukan sesuatu
kebijakan yang tidak penting, alangkah lebih baiknya jika penerintah mencari
solusi untuk semua masalah yang sedang melanda Negara ini. Kabut asap yang
menimpa di daerah Sumatra dan sekitarnya. Walaupun sudah diciptakan alat
penetral asap, tetapi jika tidak ada campur tangan dari pemerintah, hal
itu akan sia-sia saja. Sudah banyak ilmuan Negeri ini yang tidak mendapatkan
apa yang mereka inginkan dari Negara ini, mereka dengan terpaksa menjual karya
mereka untuk Negara lain.
Mau sampai kapan Negera ini
menjual karya mereka?, Bagaimana Negara ini bisa maju jika semuanya tidak di
perbaiki secara menyeluruh, tidak hanya pemerintahnya saja yang harus di
perbaiki, tetapi warga negaranya juga harus diperbaiki. Baik moral mereka,
maupun pendidikan mereka. Serta memberikan pengetahuan kepada mereka untuk
menghadapi keras kehidupan di Dunia.
Seperti halnya Illuminati dan
Freemasonry yang mempengaruhi masyarakat Dunia dengan cara yang tidak mereka
sangka-sangka. Begitu juga yang terjadi saat ini, penjajahan yang dilakukan
tidak melalui genjatan senjata, akan tetapi melalui media-media yang menarik.
Seperti Film, Tingkah laku, Budaya, dan lain sebagainya.
Hal tersebut sangat berbahaya dan
merusak manusia secara perlahan-lahan, mereka tidak sadar dan saat mereka sadar
mereka sudah hancur. Mereka seakan tidak mau hanya untuk melihat hidup mereka
lagi, mereka semakin tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada mereka
selanjutnya. Itulah yang mereka inginkan untuk kehancuran Dunia ini. (*)

