| Dr. Mohammad Nasih, M.Si Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE |
POLITIK merupakan
“bisnis kepercayaan”. Dalam demokrasi, rakyat mempercayaakan kedaulatan mereka
kepada beberapa orang untuk menjadi penyelenggara negara, di berbagai rumpun
dan level kekuasaan. Di antara mekanisme proseduralnya adalah Pemilu.
Memilihnya
bisa melalui partai politik, bisa juga secara langsung. Kepercayaan itu mereka
berikan karena percaya bahwa para penyelenggara negara akan membuat
kebijakan-kebijakan untuk mewujudkan kebaikan bersama. Partisipasi rakyat
pemilih dalam Pemilu, minimal dengan memberikan hak suara, merupakan wujud
paling nyata adanya kepercayaan itu.
Dalam
sistem politik demokrasi, rakyat seharusnya sudah mengetahui ide tentang
kebaikan bersama yang ditawarkan oleh para calon sebelum Pemilu. Pengetahuan
itu bisa melalui proses interaksi secara langsung dalam kehidupan sehari-hari,
karena para calon dituntut untuk memiliki kemampuan bergaul yang baik secara
alamiah, sehingga di dalam proses pergaulan itu terlihat gagasan politik yang
mereka miliki.
Prosedur
demokrasi secara umum juga memasukkan masa kampanye sebagai masa khusus yang di
dalamnya para calon bisa menyampaikan gagasan-gagasan politik mereka. Namun,
dalam era digital ini, mereka juga bisa menyampaikan gagasan-gagasan politik
dalam ruang dan waktu yang tidak terbatas lagi. Bahkan orang yang tidak pernah
bertemu sama sekali, bisa mengakses dan menilai gagasan politik para calon.
Gagasan
politik dan konsistensi pelaksanaannya saat benar-benar berkuasa merupakan hal
penting untuk mempertahankan kepercayaan pemilih. Jika kepercayaan pemilih
tetap kuat, maka legitimasi politisi akan terjaga, bahkan bisa menjadi lebih
kuat.
Karena
itu, walaupun kebutuhan untuk dipilih oleh rakyat sangat besar, kejujuran
haruslah menjadi yang utama. Keselaraan antara janji dalam kampanye dengan
realiasi program ketika berkuasa sangat diperlukan agar tidak terjadi gejolak
protes oleh rakyat pemilih.
Jika
ada ketidakselarasan, maka politisi dianggap mengingkari janji alias khianat.
Jika protes terjadi, maka potensi terjadi kegaduhan menjadi tinggi. Dan jika
kegaduhan pada level tinggi benar-benar terjadi, situasi dan kondisi politik
akan menjadi tidak kondusif. Waktu dan energi akan teralokasikan untuk hal-hal
yang tidak produktif untuk membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang
baik.
Bahkan
tidak menutup kemungkinkan bisa menyebabkan konflik yang menimbulkan kecemasan,
bahkan benar-benar membahayakan kehidupan bersama yang harmonis dalam pesatuan.
Jika
para calon memiliki gagasan politik yang tidak sesuai dengan keinginan
mayoritas masyarakat, tetapi sesungguhnya itulah yang terbaik untuk masa depan
negara dan warganya, maka politisi harus sudah melakukan sosialisasi tentang
gagasan tersebut saat kampanye dengan memberikan argumen yang bisa mengubah
pandangan para pemilih. Tentu ini memerlukan kemampuan karena memerlukan seni
tersendiri untuk menghadapi banyak orang yang masih berbeda pandangan.
Keberhasilan
dalam melakukannya, akan membuat politik menjadi sarana untuk melakukan
pendidikan dan selanjutnya juga perubahan. Jika politisi hanya mengikuti apa
yang menjadi kemauan pemilih, sementara kebanyakan pemilih tentu saja
berpikiran konservatif, maka politik tidak berfungsi untuk melakukan perubahan.
Di antara implikasinya adalah negara akan mengalami ketertinggalan dibandingkan
negara-negara lain yang di dalamnya terdapat politisi yang cerdas, progresif,
dan futuristik.
Ide-ide
progresif dan futuristik sesungguhnya merupakan pembeda yang khas di antara
para calon yang memperebutkan kepercayaan pemilih. Karena itu, para calon sudah
semestinya memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan-gagasan politik yang
paling maju. Tingkat kesulitan dalam menyampaikan ide yang unik, dalam era
teknologi sekarang ini, bisa berkurang. Terlebih jika konstituen berasal dari
kalangan menengah dalam pendidikan.
Tentang
harga bahan bakar minyak (BBM) misalnya, yang merupakan di antara isu
strategis, karena seluruh warga negara membutuhkannya. Berbagai perspektif bisa
disampaikan kepada rakyat dalam menyampaikan masalah ini dalam rangka sama-sama
untuk memperoleh dukungan elektoral.
Jika
negara benar-benar dikendalikan dengan baik, sehingga mampu menjamin bahwa BBM
hanya digunakan oleh rakyat, terbebas dari permainan mafia yang menjualnya ke
luar negeri, dan dengan kalkulasi tertentu, memang bisa menjadi masuk akal jika
BBM berharga murah, lebih murah dibandingkan harga di negara-negara lain,
sehingga tidak diperlukan kebijakan menaikkan harganya. Dalam hal ini,
pemerintah tidak perlu “mencabut subsidi”.
Namun,
jika negara tidak memiliki mekanisme tertentu yang bisa mencegah permainan
mafia, maka mau tidak mau harga BBM harus mengikuti harga pasar dunia. Dengan
demikian, harga BBM pastilah mahal. Jika dalam kampanye seorang calon
mengatakan bahwa BBM tidak akan naik, maka politisi tersebut harus membuktikan
janjinya untuk membuat harga BBM tidak naik di satu sisi, tetapi di sisi lain
negara dan rakyat tidak dirugikan karena kebijakan tersebut.
Jika
tidak mampu melakukan itu, maka dari awal harus dikatakan dengan jujur bahwa
kenaikan harga BBM adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Namun, subsidinya
akan dialihkan kepada sektor lain yang tidak kalah bermanfaat atau bahkan lebih
besar manfaatnya.
Janji-janji
dalam kampanye yang tidak dipenuhi merupakan indikasi ketidakjujuran yang
sesungguhnya merupakan salah satu bentuk kecurangan dan pengkhianatan politisi.
Pengkhianatan itu sesungguhnya adalah penyebab legitimasi yang membuat seorang
penguasa kehilangan legitimasi. Jika pun petahana menang dalam Pemilu, sesungguhnya
tidak otomatis menjadi indikator bahwa mayoritas rakyat sesungguhnya
menginginkan petahana kembali berkuasa.
Sebab,
petahana memiliki segala sumber daya untuk mempertahankan kekuasaan. Terlebih,
dalam konteks mayoritas pemilih yang menginginkan praktik politik uang. Sebab,
yang memiliki sumber daya paling kuat untuk melakukannya adalah petahana.
Jika
praktik curang dalam Pemilu terjadi, yang dirugikan sesungguhnya adalah negara.
Sebab, Pemilu menjadi sangat tidak efisien. Uang untuk praktik politik uang
pastilah melibatkan banyak mafia yang membuat mereka memiliki akses untuk
menguasai proyek-proyek yang dibiayai negara (baca: APBN/D).
Demikian
pula, kecurangan pastilah dilakukan dengan biaya yang tidak kecil dengan
berbagai implikasi yang akan mengikuti dan pastilah juga menjadi penyebab utama
kerusakan negara menjadi semakin besar. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Sumber: RILIS.ID
Sumber: RILIS.ID

assalamualaikum wr, wb, saya IBU PUSPITA WATI saya Mengucapkan banyak2
BalasHapusTerima kasih kepada: AKI SOLEH
atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan "4D"
alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI
dan berkat bantuan AKI SOLEH saya bisa melunasi semua hutan2 saya yang ada di BANK BRI dan bukan hanya itu AKI alhamdulillah,
sekarang saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2
Itu semua berkat bantuan AKI SOLEH sekali lagi makasih banyak ya, AKI
yang ingin merubah nasib
seperti saya ! ! !
SILAHKAN CHAT/TLPN DI WHATSAPP AKI: 082~313~336~747
Sebelum Gabung Sama AKI Baca Duluh Kata2 Yang Dibawah Ini
Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini.!!
1: Di kejar2 tagihan hutang
2: Selaluh kalah dalam bermain togel
3: Barang berharga sudah
terjual buat judi togel
4: Sudah kemana2 tapi tidak
menghasilkan, solusi yang tepat.!!
5: Sudah banyak dukun ditempati minta angka ritual belum dapat juga,
satu jalan menyelesaikan masalah anda.!!
Dijamin anda akan berhasil
silahkan buktikan sendiri
Angka:Ritual Togel: Singapura
Angka:Ritual Togel: Hongkong
Angka:Ritual Togel: Toto Malaysia
Angka:Ritual Togel: Laos
Angka:Ritual Togel: Macau
Angka:Ritual Togel: Sidney
Angka:Ritual Togel: Brunei
Angka:Ritual Togel: Thailand
" ((((((((((( KLIK DISINI ))))))))))) "