 |
| Disciples Putri Bersama Bu Chusnul Mar'iyah |
Monash-Media.com, Semarang - Monash Institute Semarang
mengadakan kegiatan diskusi tentang pemilu di Aula 1 Darul Qolam, Sabtu
(02/02). Diskusi yang diadakan bakda ashar itu tidak hanya dihadiri oleh
disciple aktif MI, ada juga teman-teman diskusi yang datang dari luar.
Ketua Mentri Pendidikan Monash Institute
Atikah Nur Azzah mengatakan bahwa latar belakang kegiatan ini tidak terlepas
dari trilogi Monash Institute ketiga yakni berkuasa (siyasah al-mulk wa
al-malaa’). Apalagi melihat disciple MI aktif adalah pemilh-pemilih
pemula di tahun ini, Mentri Pendidikan akan melakukan segala cara agar golpus
benar-benar hilang dalam benak disciples
“Sesuai trilogi Monash Institute yang ketiga,
yakni berkuasa. Disciples MI didik agar melek politik Tidak ada dalam kamus
discples untuk golput. Untuk menciptakan paradigma itu dan melihat disciple
aktif MI merupakan pemilih-pemilih pemula, kami tergerak untuk memfasilitasi
forum diskusi tentang politik,” ujar perempuan asal pekalongan itu.
Tidak tanggung-tanggung, demi melahirkan
pemahaman maksimal pentingya politik, Kementrian Pendidikan mendatangkan
pemateri besar, Guru Besar Ilmu Politik Pascasarjan UI Bu Chusnul Mar’iyah.
Dalam diskusi tersebut, Bu Chusnul Mar’iyah
mencoba menarik disciples untuk kembali melihat sejarah. Telah tercatat bahwa
pemuda-pemuda Indonesia telah berjuang penuh untuk membuat Indonesia merdeka.
“28 Oktober 1928 merupakan peristiwa
bersejarah bagi Indonesia. Semua pemuda pemudi menyakatan bahwa mereka berada
dalam kesatuan tanah, bangsa, dan bahasa Indonesia. Pemuda saat ini dimana? Apa
kontribusinya? Tidur!,” tutur Bu Chusnul
Atas dasar itu, aktivis perempuan ini ingin
memantik disciples agar melek terhadap politik. Selalu mengkritisi
kebijakan-kebijakan penguasa. Apalagi untuk agenda terdekat ini, 19 April 2019,
pemuda-pemuda tidak boleh golput, atau salah memilih pemimpin.
“Jangan sampai
tanggal 19 April 2019 ada yang golput. Pemuda yang melek politik harus
benar-benar mensortir pasangan terbaik yang cocok sebagai pemimpin Indonesia.
Sebab, pemimpin adalah nahkoda. Dia yang akan membawa negara ini ke arah mana,”
pungkasnya. (Red. Srimul)