Monash-Media.com, Semarang - Disciples Monash Institute
ramaikan diskusi kepemudaan, Sabtu (2/2). Kegiatan tersebut
diselenggarakan di Taman Dakwah, Kampus III, UIN Walisongo. Diskusi yang
diadakan oleh Komisariat Dakwah HMI Korkom Walisongo menghadirkan pembicara Kumaruddin.
Menurut Kumar, pemuda itu memiliki idealisme
yang berharga. Ia harus menjaga idealisme tersebut agar tidak mudah
digadaikan, sebab kalau sudah demikian, maka pemuda tidak lagi kritis.
"Pemuda itu perlu memperhatikan isu-isu
masyarakat, membuat nilai-nilai, dan menekan pemerintah atau demonstrasi pemuda
elite harus terdidik," jelas Kumar.
Ia juga menambahkan, mekanisme kerja politik
itu mulai dari input, lalu proses, kemudian menjadi output.
"Input itu berupa interest group, dan
pressure group. Interest group merupakan kelompok yang berkepentingan,
baik secara praktis, maupun ideologis. Sedangkan pressure group merupakan
kelompok yang membuat tuntutan untuk kebijakan pemerintah, baik secara
langsung, maupun tidak langsung. Adapun output yang dihasilkan bisa berupa
kebijakan seperti peraturan perundang-undangan," tutur mahasiswa
pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah tersebut.
Selain itu, ia juga menjelaskan
suprastruktur dan infrastruktur politik. Suprastruktur politik
meliputi Trias Politika, sedangkan infrastruktur politik meliputi pihak-pihak
yang tidak terlibat secara langsung atau tidak memiliki wewenang untuk
membuat kebijakan, misalnya seperti partai politik, Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), dan pers.
"Kita harus memahami posisi pemuda saat
ini," pungkasnya. (Red. Atikah)