![]() |
| Oleh: Misbahul Ulum* |
Anggapan
bahwa politik itu kotor seringkali didasarkan pada realitas perpolitikan yang
selalu menampilkan wajah buram dan penuh tipu daya. Anggapan ini tidak serta
merta dibenarkan begitu saja. Karena hakekat politik yang sesungguhnya adalah
untuk perbaikan bangsa bukan untuk merusak.
Jika
realitas yang terjadi menunjukkan bahwa politik itu kejam, maka sesungguhnya
yang kejam bukanlah hakekat politik, melainkan aktor-aktor (politisi) didalamnya
yang bertindak kejam dan kotor. Praktik-praktik kotor para politisi itu hampir
setiap hari dapat dilihat melalui berbagi media dengan mudah. Sudahmenjadi
rahasia umum pula, setiap pesta demokrasi digelar, praktik kotor politik uang
pasti ada.
Realitas
perpolitikan yang kotor ini, disebabkan karena kesalahan dalam memahami hakekat
politik. Oleh karena itu, pengertian tentang hakekat politik yang benar, harus
segera disosialisasikan dan ditekankan kepada masyarakat luas agar
kesalahpahaman tentang hakekat politik bisa segera diluruskan.
Hakekat
Politik
Kata
“politik” berasal dari bahasa Yunani “polis” yang berarti “kota”. Yang
dimaksud kota disini adalah negara. Kemudian di dalam teori ilmu politik
dikenal istilah city-state (negara kota). Dari sinilah muncul
pengertian awal tentang hakekat politik, yaitu seni untuk menata dan mengatur
negara guna menciptakan kebaikan bersama warga kota (negara) tersebut.
Selain
itu, kata politik juga bisa dihubungkan dengan kata “polite” yang
berarti kesopanan atau kesantunan. Politik yang sesungguhnya adalah aktivitas
yang bepegang teguh pada etika kesopanan dan sesantunan, dan bukan politik
namanya, jika tidak menggunakan etika kesopanan.
Dalam
Islam, terminologi Politik juga dikenal dengan nama siyasah, yang
bermakna mengurusi. Orang yang terjun didalamnya dan melakukan pengurusan
disebut siyasiy (politisi). Dari sini terlihat bahwa politik
berkaitan erat dengan kegiatan pengaturan, pengurusan, dan pemeliharan berbagai
urusan kemasyarakatan. Bila mengacu pada pengertian ini, jelas sekali politik
adalah kegiatan yang mulia bukan aktivitas kotor.
Dari
tiga pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa, politik adalah aktivitas yang
dilakukan dengan landasan etika kesopanan guna mengatur berbagai urusan
kemasyarakat serta memiliki tujuan terciptanya kebaikan bersama.
Salah
Orientasi
Politik,
selama ini hanya dimaknai sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan (power) saja.
Maka tidak heran jika perilaku politik yang nampak adalah kenyataan bahwa
segala sesuatu menjadi “halal” untuk merebut, menggunakan dan mempertahankan
kekuasaan.
Hans
J Morgenthau, dalam Political Among Nations mengungkapkan
bahwa politik merupakan perjuangan menuju kekuasaan. Dalam definisi yang lain
juga disebutkan bahwa politik adalah seni meraih kekuasaan. Pemaknaan politik
seperti ini jelas menyesatkan. Karena, segala sesuatu hanya diarahkan kepada
kekuasaan saja (power oriented).
Kesalahan
orientasi ini sudah menjangkit hampi ke semua lapisan politisi, dari yang tua
sampai yang muda. Sekarang ini sangat sulit untuk membedakan antara politisi
yang benar dan yang berpura-pura benar. Hampir tidak ada politisi yang tidak
mengorientasikan aktivitas politiknya untuk merebut kekuasaan.
Power
Oriented jelas sekali
membuat seseorang gelap mata. Ia rela melakukan segala hal agar kekuasaan itu
dapat diraih. Tidak peduli harus ditempuh dengan cara apapun. Jika seluruh
politisi bertindak demikian, maka sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah
berpolitik, melainkan saling rebut kekuasaan.
Pendidikan
Politik
Agar
hakekat politik yang bertujuan mengatur kehidupan masyarakat tidak kehilangan
makna, maka perlu dilakukan penyadaran kepada seluruh masyarkat sekaligus
penyadaran kepada politisi lewat pendidikan politik. Dalam hal ini partai
politik lah yang harus betanggungjawab untuk menjalankan fungsinya, yaitu
menyelenggarakan pendidikan politik kepada masyarakat.
Pendidikan
politik nantinya harus mampu menciptakan paradigma baru tentang politik yang
lebih segar dan komprehensif. Sehingga anggapan masyarakat tentang politik itu
kotor akan tertepis dengan sendirinya.
Lewat
pendidikan politik ini, diharapkan muncul politisi yang baik, bermoral luhur,
serta memiliki keberanian yang tinggi dalam memperjuangkan dan mewujudkan
ide-ide bagi terciptanya kebaikan masyarakat.
Untuk
itulah dibutuhkan orang-orang baik untuk terjun dalam dunia politik. Dengan
harapan orang-orang baik itu mampu mengimbangi kekuatan-keuatan orang jahat
yang selama ini berkuasa di dunia politik. Akan tetapi, jika kaum yang
bermoral justru menjauhi dunia politik dan ikut-ikutan menyatakan bahwa politik
itu kotor, maka orang-orang jahat akan semakin bahagia, karena dengan leluasa
mereka bisa melakukan berbagai tindak kejahatan.
Anggapan
bahwa politik itu kotor disebabkan oleh kenyataan di dunia politik yang
dipenuhi oleh orang-orang jahat yang berpolapikir kotor. Namun, pada hakekatnya
politik itu adalah sebuah aktivitas yang luhur. Oleh sebab itu, untuk
menjernihkan hakekat politik, orang-orang yang baik harus disadarkan dan
dimobilisir untuk masuk kedalam dunia politik. Keberadaanya harus bisa menjadi
kompetitor bagi orang –orang jahat. Wallahu a’lam bi al-shawab.
*Penulis
adalah Peneliti di Monash Institute Semarang, Ketua Kajian Ilmu
Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
(Tulisan ini dimuat pada Koran Wawasan,
22 September 2011)

