Monash.Media.com, Semarang - Tiga
pasangan calon akan meramaikan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Monash
Institute yang akan berlangsung bebrapa hari lagi. Masing-masing pasangan calon
pun sudang mengantongi nomor urut.
Ketiga pasangan itu adalah Lida Nasrul-Sri Mulyawati yang
diusung Partai Masyumi, PIK mendapat nomor urut satu. Pasangan Moch.
Rosyad-Endah Fitrianingsih yang diusung Partai Gangster dan PMK mendapat nomor
urut dua. Terakhir pasangann Irsad Satria-Kurnia Intan yang diusung Partai PADI
dan Nahtumi mendapat nomor urut tiga.
Sudahkah para pemilih mengena profil pasangan calon
masing-masing. Berikut ini, Tim Monash.Media.com akan menguraikan profil
singkat masing-masing calon agar menjadi pertimbangan pemilih Monash Institute
dalam menetukan pilihannya.
1. Lida Nasrul-Sri Mulyawati
Pasangan nomor urut satu ini merupakan alumni pesantren modern
al-Mutawally Kuningan. Keduanya berasal dari partai yang sama, yakni Partai
MasyuMI. Saat ini, Lida Nasrul menjabat sebagai Ketua Umum Partai MasyuMI.
Sementara Sri Mulyawati menjabat sebagai Sekretaris Umum Partai MasyuMI.
Lida Nasrul lahir di Bandung, 07 Juli 1999. Lida memiliki pengalaman
yang baik di pemerintahan MI. Lida pernah menjabat sebagai Menteri Sarana dan
Prasarana Kabinet Persatuan dan Menteri Kebersihan dan Kesehatan Kabinet Sapu
Lidi.
Tidak hanya aktif berorganisasi di Monash, Lida juga aktif di
organisasi ekstra. Di HMI, misalnya. Lida telah menyelesaikan jenjang
perkaderan LK 1, LKK, LK 2, dan SC. Sampai saat ini, Lida masih aktif mengelola
perkaderan HMI Cabang Semarang.
Sementara Sri Mulyawati lahir di Musirawas, 31 Maret 1999. Srimul
(sapaan akrabnya) juga memiliki pengalaman yang baik di pemerintahan Monash
Institute. Sekarang di Kabinet Sapu Lidi, Srimul diberi amanah untuk menjadi
Mentri Ekonomi dan Keungan . Sebelum itu juga, Srimul pernah menjabat sebagai
Menteri Pertanian dan Perkebenuan pada Kabinet Persatuan.
2. Moch. Rosyad-Endah Fitrianingsih
“Pasangan Bahagia” begitu sebutan Tim Sukses Rosyad-Endah untuk
pasangan capres dan cawapres nomor urut dua. Moch. Rosyad, Ketua Umum Partai
Gangster, lahir di Pati, 23 September 1999.
Sedangkan Endah Fitrianingsih yang berasal dari Partai PMK lahir di Demak, 21
Februari 1999.
Pasangan Rosyad-Endah merupakan capres dan cawapres dengan jumlah
hafalan terbanyak dari pada calon yang lain. Tercatat Rosyad dengan jumlah
hafalan 27 juz dan Endah dengan jumlah hafalan 8 juz. Ini pun dibuktikan dengan
dipilihnya Rosyad sebagai mentor tahfidz Monash Institute.
Bicara tentang pengalaman di pemerintahan, keduanya pernah merasakan
sebagai lembaga eksekutif pemerintah. Rosyad pernah menjadi Menteri Pertanian
dan Perkebunan saat Kabinet Persatuan dan Menteri Sarana. Sementara saat ini,
Rosyad menjabat sebagai Menteri Sarana dan Prasarana sedangkan Endah sebagai
Menteri Kebersihan dan Kesehatan.
3. Irsad Satria-Kurnia Intan
Koalisi besar-besaran. Masing ketua partai bergabung untuk mencalonkan
sebagai presidan dan wakil presiden Monash Institute. Irsad Satria, Ketua
Partai PADI, sebagai calon presiden dan Kurnia Intan, Ketua Partai Nahtumi,
sebagai calon wakil presiden nomor urut tiga.
Trek record pasangan nomor urut
tiga liuar biasa. Tiga kali berturut-turur pergantian kekuasaan, Irsad dan
Intan selalu dipanggil untuk terlibat dalam jajaran pemerintahan, mulai dari
Kabinet Gotong Royong, Persatuan, dan Sapu Lida.
Irsad Satria lahir di Kuningan, 16 November 1997. Berdasarkan urutan
kabinet di atas, Irsad pernah menjabat sebagai Menteri Pemuda Aksi dan
Olahraga, Menteri Peribadatan dan Pembangunan Karakter, dan Menteri Pendidikan.
Sementara Kurnia Intan lahir di Sukoharjo, 03 Januari 1998. Dari
Kabinet di atas, Intan selalu diamanahkan sebagai menteri yang dikatakan sangan
penting di Monash Institute. Intan pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan,
Menteri Kedisiplinan, Hukum, dan Keamanan, dan Mentri Bahasa (sampai saat ini).
Tak kenal, maka
kenalan. Profil singkat masing-masing pasangan calon ini didapatkan dari CV Ca pres dan Cawapres yang ada di KPU. Kami harap dengan
adanya informasi setiap kandidat dapat dijadikan referensi untuk disciples
memilih. (Red. Faqih)

