![]() |
| Mokhamad Abdul Aziz |
ERA digital menuntut manusia lebih bijak dalam menyikapi
segala hal. Apalagi setelah media sosial (medsos) menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan generasi milenial, akhlak menjadi sangat mahal
harganya. Banyak ujaran tidak bertanggung jawab mencuat di sana. Saling sindir,
saling bully (merisak), saling hujat,
saling menghina, dan saling menjatuhkan, semua itu menjadi fenomena yang sangat
memprihatinkan. Lebih miris lagi, seakan tidak ada batasan yang jelas antara
satu orang dengan orang lainnya, tidak jarang kita jumpai seorang guru, ustadz,
atau bahkan kiai besar dihujat dan dihina dengan membabi buta tanpa
mempertimbangkan dampaknya. Tidak hanya kepada sesama pengguna medsos (dunia
maya), virus ini juga menyebar ke kehidupan nyata.
Tidak dapat dipungkiri, semua itu adalah akibat ketiaadaan
akhlak dalam diri seseorang. Padahal akhlak menjadi puncak dari segala ilmu
yang telah dipelajarinya. Karena itu, penanaman akhak mesti dilakukan sejak
dini. Apalagi di zaman edan seperti
sekarang ini, seorang pemuda harus mampu membawa diri dengan karakternya yang
khas, agar tetap survive dengan
peran maksimal untuk umat dan bangsa. Mengenai urgensi ahklak ini, Kiai
Bisri Mustofa Rembang menulis kitab berisi syair-syair berjudul Mitra Sejati. Kitab ini merupakan
lanjutan dari Syair Ngudi Susilo, sebuahkitab
yang juga berisi tentang akhlak dan budi luhur. Jika kitab Ngudi Susiloini biasanya menjadi
pegangan di madrasah diniyah kelas basic, maka Mitra Sejati adalah “kakak
kelasnya”.
Dalam kitab yang ditulis dengan Arab Pegon itu, Kiai Bisri
menekankan pentingnya budi pekerti Jawa untuk diinternalisasikan dan selalu
diaktualisasikan bagi generasi kecil kita. Menurutnya, banyak yang tidak malu
kehilangan budaya timur dan keblablasan tertular virus budaya Barat. Salah satu
nilai yang mulai hilang dan urgen untuk segera “dikembalikan” saat ini adalah
akhlak menghormati guru. Sejak banyak orang melek media internet, yang di
dalamnya dapat ditemukan segala informasi dan ilmu pengetahuan, peran guru
dianggap menjadi tidak penting. Karena tanpa guru, seseorang sudah dapat
mengakses ilmu yang dia kehendaki. Cara berpikir semacam ini mempengaruhi
pandangan seorang terhadap para gurunya, yang tentu saja berakibat kapada
akhlaknya.
Belajar mandiri melalui internet berbeda dengan belajar
kepada seorang guru. Internet tidak punya rasa, sementara guru memiliki kontrol
atas hal yang dilihat dan didegar. Berlajar bersama guru menuntut adanya
interaksi, sehingga secara langsung akan berdampak kepada akhlak seorang murid.
Ada saatnya, kapan dia harus benar-benar mendengarkan dan kapan dia harus
berbicara menyampaikan pendapatnya. Bagaimana pandangan mata dan posisi kepala
saat proses belajr mengajar itu juga menjadi perhatian. Interaksi secara terus
menerus (continous) itulah yang akan
membentuk akhlak seorang murid.
Peran guru sesungguhnya tetaplah penting sebagai penujuk
jalan (mursyid) sekaligus pengontrol
atas paradigma dan perilaku murid-muridnya. Harus
dipahami bahwa semua kemajuan teknologi tersebut memang untuk memudahkan
manusia dan dalam konteks murid adalah memudahkan dan mempercepat dia dalam
belajar. Terlebih jika seorang murid telah balighdan
dewasa, tentu ia bisa belajar banyak hal secara individu melalui internet. Jika
dia hanya mengandalkan guru, serapan ilmunya mungkin akan terbatas. Akan tetapi
kemampuan belajar mandiri ini tidak kemudian membuat seorang murid meniadakan
peran guru, apalagi sampai tidak lagi hormat kepadanya.
Logikanya sangat sederhana. Untuk bisa menjadi orang yang
dapat belajar mandiri itu, sebelumnya tentu ada peran seorang guru, baik guru
itu di sekolah formal, non formal, maupun informal. Kiai Bisri menulis syair
dalam kitabnya: “Sebab guru sira, bodo dadi
pinter # Siro asor dadi pangkat kanthi bener.” Ini menunjukkan
bahwa peran guru, selain transfer ilmu (knowlege), juga
transfer nilai (values). Dalam
konteks Islam, yang melaukan hal tersebut tentu guru-guru ngaji yang telah
mengajarkan nilai-nilai luhur Islam sejak anak usia dini. Kiai Bisri menulis: Mula sira kudu hormat marang guru # Luweh-luweh
guru ngaji kang ditiru.
Semua
guru memang mengajarkan ilmu Allah swt (baca: unity
of sciences). Namun, guru ngaji itu istimewa. Dialah guru yang
paling ikhlas. Mengajar bukan karena mengharap bayaran. Lebih dari itu, ia
berharap mendapatkan ridla dan keberkahan dari Allah swt, karena turut serta
mengajarkan sebagian ilmu-ilmu Allah swt. Sebagian besar mereka tidak mencari
makan dari aktivitas mengajar itu, tetapi dari sumber lain yang memang
dikondisikan untuk menopang kehidupan keluarganya. Inilah kenapa seorang guru
ngaji perlu mendapatkan prioritas kehormatan. Tentu saja yang dimaksud di sini
adalah guru ngaji yang bener, yang
bisa ditiru, sebagaimana pesan Kiai Bisri di atas.
Pesan tersebut seharusnya juga memotivasi para guru agar
senantiasa memperbaiki diri, sehingga mereka menjadi sosok yang patut untuk digugu dan ditiru. Manusia
memang tidak ada yang sempurna, termasuk seorang guru. Seandainya di antara
kita ada yang merasa sempurna, sesungguhnya kesempurnaan itu tidak terlepas
dari peran guru-guru kita yang tidak sempurna itu. Siapapun guru kita, di
tingkat pendidikan apapun, baik dia dipanggil bapak-ibu guru, bapak-ibu dosen,
ustadz-ustadzah, mentor-tentor, kiai dan bu nyai maupun panggilan-panggilan
lainnya, mereka harus dihormati. Sebab, karena jasa merekalah, seseorang dapat
menemukan kesuksesannya.
Pada akhirnya, pesan-pesan Kiai Bisri Musthofa itu
menyadarkan kita untuk mengingat jasa para guru kita, agar menjadi orang yang
senantiasa hormat kepada siapapun dan di manapun guru berada. Dengan demikian,
kita akan terhindar dari sikap sombong. Wallahu a’lam
bi al-shawaab.
(Mokhamad Abdul Aziz, Kepala Sekolah SMP Alam Planet Nufo, Mlagen-Rembang
& Dosen Fakultas Dakwah IAIN Salatiga, Alumnus Pondok Pesantren Al-Barkah
Sulang Rembang)

