Panggil ia Qodrat. Lengkapnya Muhammad Qodrat. Entah
sekarang dimana ia. Dulu, saya pernah sekamar di pesantren itu.
Tiga tahun bersama, saya tak pernah berjabat tangan.
Ya, karena sejak lahir Tuhan lupa memberinya tangan. Barangkali. Menurutnya, ia
masih beruntung, karena masih dibekali mulut. Kedua bibir serta gigi-gigi
kuatnya mampu ia gunakan untuk beraktivitas, meski orang lain menyebutnya tak
normal.
Harus sabar menemani Qodrat jalan-jalan. Saya harus
bersedia menjadi tangan kanan sekaligus berperan laiknya tangan. Bagi saya, dia
cerdas menggunakan anggota tubuh. Dia suka makan di warung. Tapi harus ada
sendok. Jari-jari di kaki digunakan untuk memasukkan makanan itu. Jenius ia.
Saya mencoba meniru, hingga sekarang tak mampu. Dia juga menggunakan jari kaki
untuk menyulut rokok. Dia memang perokok. Tapi Anda tak akan melihatnya
menyulut rokok sambil jalan. Seperti bersemedi, ketika menyulut korek api dan
merokok, Qodrat selalu melakoninya dengan duduk, tenang.
Tak pernah ada perintah tolong kepada saya untuk
menyucikan pakaian. Di pesantren itu, kaki Qodat terlihat kuat ketika menimba
se-ember air jernih, penuh. Cuciannya juga bersih. Qodrat punya sikat pembersih
baju sendiri. Selalu dengan kaki ia malakoni. Tapi kali ini sambil berdiri. Tak
pernah saya melihat ia mencuci dalam posisi jongkok. Yang tak pernah dia
lakukan sendirian adalah mengenakan pakaian dan sarung. Habis mandi, selalu ada
salah satu kawan yang menawarkan bantuan.
Tak ada banyak orang yang tahu bagaimana cara Qodrat
buang hajat. Logika umum, tidak mungkin membersihkan kotoran tanpa tangan. Yang
pasti, tak pernah tercium bau tak sedap dari arah belakangnya. Dia bisa
bersuci. Qodrat sering jama’ah shalat di Masjid Menara Kudus, karena di sana,
dia bebas membasah dan membasuh kaki, bersuci, dengan menceburkan ke kolam air
wudlu.
Qodrat terobsesi menjadi penghafal al-Qur’an.
Hari-harinya habis untuk membaca kitab suci. Itu yang membuat dia hidup di
pesantren. Al-Qur’an bagi dia, meski suci, tapi bukan sakral. Yang belum tahu
akan menilai dia menghina agama ketika melihat cara ia membuka al-Qur’an dengan
kaki. Komat-kamit mulutnya menghafal ayat demi ayat, tapi kitab berbahasa Arab
itu ada di kaki. Dia hanya bisa memutar halaman dengan kaki, sesekali dengan
mulut. Tangannya adalah kaki, mulut, dan kawan-kawan pesantren.
Qodrat adalah Kodrat Tuhan. Tapi kehendak (iradah)nya
adalah adalah kehendak Qodrat sendiri. Ingin pulang ke kampung halaman sebagai
hafidz al-Qur’an. Qodrat harus menjalani hidup dengan kodrat tanpa tangan. Tapi
tak mau menyerah, karena dia punya iradah, kehendak. Pesantren itu ternyata
bukan yang pertama disambangi Qodrat. Ia berkelana ke beberapa tempat semedi
ilmu untuk mencapai impian, sesuai kehendak dan motifnya. Qodrat serakah dalam
upaya mencapai terang masa depan.
Pandangan berbalik, banyak orang sempurna anggota
tubuhnya, namun tak banyak tahu bagaimana cara mencapai kehendak dengan benar.
Meski dunia dirubah dengan goresan tangan, namun karena tangan pula, banyak
muncul kekisruhan: perkelahian, pencurian, perampokan dan penggarongan uang
rakyat. Tanpa tangan, tak mungkin para pejabat membubuhkan tanda tangan, untuk
menumpuk kekayaan. Tangan menjadi penanda kekuatan mencapai gengsi sosial.
Tanda, tangan.
Kekuasaan adalah tanda kekuatan sosial. Banyak yang
kemudian serakah memiliki tangan-tangan kuasa. Tak ada penguasa yang mau
kehilangan tangan kuasanya. Sekuat apapun, tangan bilogisnya akan digunakan
untuk mempertahankan tangan kuasanya. Meski dengan melukai atau korupsi. Tangan
menjadi simbol kepemilikan dan gengsi. Kodrat kepemilikan tangan tak berbanding
lurus dengan kehendak kemanusiaan. Justru dari tangan, reduksi nilai-nilai kemanusiaan
terjadi. Tak apa kehilangan martabat dan kemuliaan, asal kuasa masih ada di
genggaman tangan. Begitu persepsi kuasa yang berlaku.
Tangan menjadi sarana memenuhi keserakahan. Apa yang
ada di luar kepemilikan kodrat tubuh, dicarikan pembenaran kepemilikan dengan
tangan sebagai komandan aksi. Hati mungkin berkata tidak, tapi di saat
terdesak, tangan akan bertindak, mengabil yang bukan milik, memukul obyek bukan
hak atau memenuhi ruang lain tak semestinya. Gerak tangan menjadi hidup di saat
suara nurani mulai redup.
Sirnanya kepemilikan eksternal, begitu berat
diratapi. Tapi tidak dalam kasus lenyapnya kepemilikan kejujuran dan amanat.
Qodrat yang terkodrat tanpa tangan, menciptakan tangan-tangan lain untuk
memenuhi keserakahan terang masa depan menjadi penghapal kitab suci. Di lain
dunia, ada yang berkodrat punya tangan, namun justru untuk menghilangkan
tangan-tangan lain, orang lain, bahkan tangan kuasa Tuhan; nyawa, harta,
keturunan, kehormatan, agama dan lingkungan.
Gus Nadlir, Direktur Monash Institute.


assalamualaikum wr, wb, saya IBU PUSPITA WATI saya Mengucapkan banyak2
BalasHapusTerima kasih kepada: AKI SOLEH
atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan "4D"
alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI
dan berkat bantuan AKI SOLEH saya bisa melunasi semua hutan2 saya yang ada di BANK BRI dan bukan hanya itu AKI alhamdulillah,
sekarang saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2
Itu semua berkat bantuan AKI SOLEH sekali lagi makasih banyak ya, AKI
yang ingin merubah nasib
seperti saya ! ! !
SILAHKAN CHAT/TLPN DI WHATSAPP AKI: 082~313~336~747
Sebelum Gabung Sama AKI Baca Duluh Kata2 Yang Dibawah Ini
Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini.!!
1: Di kejar2 tagihan hutang
2: Selaluh kalah dalam bermain togel
3: Barang berharga sudah
terjual buat judi togel
4: Sudah kemana2 tapi tidak
menghasilkan, solusi yang tepat.!!
5: Sudah banyak dukun ditempati minta angka ritual belum dapat juga,
satu jalan menyelesaikan masalah anda.!!
Dijamin anda akan berhasil
silahkan buktikan sendiri
Angka:Ritual Togel: Singapura
Angka:Ritual Togel: Hongkong
Angka:Ritual Togel: Toto Malaysia
Angka:Ritual Togel: Laos
Angka:Ritual Togel: Macau
Angka:Ritual Togel: Sidney
Angka:Ritual Togel: Brunei
Angka:Ritual Togel: Thailand
" ((((((((((( KLIK DISINI ))))))))))) "