“Hati
adalah tempat pertarungan antara kebenaran dan kekeliruan. Hati nurani (nur,
cahaya) melihat yang benar sebagai yang benar, yang salah sebagai yang salah. Hati
yang gelap (dhulmani) tidak mampu membedakannya, sejingga bisa saja yang salah
dianggap benar, atau sebaliknya, atau jadi bercampur baur antara keduanya. Hati
yang bercahaya senantiasa berdo’a: “Ya Allah, tunjukkanlah bahwa yang benar
sebagai kebenaran dan berikan kekuatan
untuk mengikutinya, demikian sebaliknya.” Hati nuranilah yang bisa
memberikan fatwa.” (Abana Mohammad Nasih)
5/related/default

