Dosa pertama bagi
siswa SMA di Jakarta, terutama di sekolahku, adalah mengambil pentil motor
orang lain. Aku bukanlah salah satu dari mereka, tapi aku banyak mempunyai
teman yang demikian. Aku juga berdosa membeli pentil motor curian yang
teman-teman tawarkan. Memang begitu menggiurkan. Warna, bentuk, dan ukuran yang
beragam membuat siapa saja tertarik untuk mendapatkan.
Pagi itu seperti biasa
aku berjalan di atas tanah yang berdebu. Memakai topi dan dasi abu-abu.
Memasuki ruang kelas dengan perasaan penuh syahdu. Ah, semuanya nampak begitu
baik. PR sudah di kerjakan, bisa ngobrol dulu dengan asik. Sampai tak terasa
Guru memasiku ruangan. Semua berdiri memberi salam dan sapaan.
Pak Guru nampaknya
sedang tidak sehat hari ini. Mukanya tertekuk tak serapih pakaian yang ia
kenakan pagi ini. "Mungkin sedang ada masalah", bisik temanku bernama
Sarah. Kita lihat saja, apa kata pertama yang diucapkan olehnya.
"Kalian tahu
akhir-akhir ini para guru kehilangan pentil ban motor?" Semua diam.
Teman-temanku panik. Diantara mereka ada yang satu sama lain melirik. Ada juga
yang saling berbisik-bisik. Ini akan jadi kasus yang menarik. " Pak Satpam
mencurigai kelas kita. Karena kelas ini adalah kelas yang paling sore dan
terakhir keluarnya".
Batinku berkata, ini
adalah kesempatanku untuk menunjukan kemampuanku menganalisa. " Pak Izin
bicara" Sambil mengangangkat tangan. "Ya silahkan, Komar" Kata
Pak Guru. "Benar sekali Pak, kelas kita adalah kelas yang mengambil
seluruh pentil motor guru-guru" Kataku dengan lantang. Murid semua ricuh.
Perempuan tidak terima atas tuduhanku. Laki-laki ikutan sewot seolah bukan
mereka pelakunya.
Setelah agak tenang,
aku melanjutkan perkataanku "yang paling penting bukan aku pelakunya,
jelas-jelas kemarin setelah pulang sekolah aku tidak melewati parkiran. Bahkan
aku ke ruang guru dulu untuk mengumpulkan tugas kelas". Mereka mulai ricuh
kembali dan melontarkan kata tak terima.
Baca Juga: Kohatiku Juang, Kohatiku Sayang
Pak Guru mengambil
alih kelas. Ia memberiku sedikit lagi kesempatan sebelum semuanya hancur
berantakan. Kalau suasana seperti ini, pembelajaran tidak akan kondusif.
"Baik, Pak.
Terimakasih. Menurutku pelakunya adalah.." Aku menatap ke seluruh ruangan.
Ada yang menunduk, tercengang, kaget dsb bercampur menjadi satu.
"Pelakunya adalah salah seorang diantara perempuan" Semua kaget
setelah aku berkata demikian. Karena kenakalan seperti itu hanya dilakukan oleh
laki-laki. Kok bisa yang disalahkan perempuan?
"Saat pulang
sekolah kemarin, siswa laki-laki pergi terlebih dahulu ke lapangan untuk
bermain futsal. Sedangkan perempuan pergi ke parkiran menunggu jemputan
datang" Aku mulai mencari cara agar ada yang mengaku.
"Kemarin aku
beli pentil motor persis seperti yang dimiliki oleh Bu Ane. Warnanya pink dan
bentuknya hati. Bisa saja itu diambil oleh perempuan karena identik dengan
kesukaannya" Aku mulai melakukan analisa cocokologi.
"Tapi kau tak
bisa menuduh sembarangan, Komar. Hanya karena sebuah bukti yang seperti
itu" Timpal Dedi, temanku yang berbadan kurus hitam. Harus ku katakan,
membuat orang lain mengaku itu cukup sulit.
"Baiklah, kita
punya 2 pelaku pada kasus ini" Serentak murid murid mengatakan
"Apa?" Seakan tak percaya dengan analisa bodohku. Kali ini aku
mendapat bukti yang cukup kuat. Aku akan menyelesaikan semuanya sekarang.
"Tenanglah. Apa
kalian tahu, sebelum kejadian kehilangan pentil tersebut, di pentil motor Bu
Ane aku sudah melumurinya dengan minyak yang baunya kuat sekali. Walaupun dicuci
satu minggu, minyak tersebut akan tetap menempel pada jari". Aku mulai
menatap sikap kedua tersangkaku.
Dapat, akhirnya,
"Pelakunya adalah Sarah!" Sambil ku tunjuk ke arahnya. "Eh kamu
gak serius kan, masa nuduh aku?" Ia mencoba mengelak. "Aku berbohong
ketika ku bilang melumuri dengan minyak yang baunya kuat. Dan kau diam-diam
mengendus jarimu. Menandakan bahwa kau percaya akan ucapanku dan hendak
membuktikannya. Padahal itu hanya jebakan agar kau mau mengaku. Sekarang
mengakulah!" Jawabanku menyudutkan Sarah, membuat seisi ruangan terdiam
dan terkejut.
Pak guru bertanya,
"Apakah benar itu, wahai Sarah?" Sarah mulai gugup, ia menundukan
kepalanya lalu berteriak, "ya, aku yang mengambilnya. Aku sangat tidak
menyukai Bu Ane. Aku tak sengaja menabrak motornya, tapi ia menghukumku dengan
memintaku agar membelikannya pentil motor yang bagus. Aku hanya ingin mengambil
apa yang seharusnya milikku. Tapi sekarang aku tak tahu pentil motor itu
dimana" Sambil menangis tersendu.
"Nah kau mengaku
juga. Sekarang pentil motor itu Saya pegang. Aku membelinya dari seseorang yang
aku sebut sebagai tersangka kedua" Semua mulai fokus padaku. Mereka
penasaran, siapa pelaku kedua tersebut.
Baca Juga: Cinta Penawar atau Penyakit
"Pelaku kedua
itu adalah Dedi" Kataku sambil menatap tajam matanya. "Yang mengambil
seluruh pentil motor guru adalah dia. Karena ia adalah bandar pentil di sekolah
kita. Aku mendapatkan pentil motor Bu Ane karena membeli darinya". Bingung
semakin melanda teman-teman. Termasuk Sarah. Ia mempertanyakan kenapa pentil
motor itu bisa ada di tangan Dedi.
" Mungkin kau
bertanya-tanya, kenapa pentil motor itu ada di Dedi. Sebenarnya kau ceroboh.
Saat kau pulang, pentil itu jatuh di depan gerbang sekolah. Dan diamankan oleh
Pak Satpam." Kataku.
"Oh jadi itu
yang menyebabkan kecurigaan Pak Satpam kepada kelas Kita" Timpal Pak Guru.
Sekarang semuanya akan terungkap.
Pak Guru bertanya
kepada Dedi, perihal kebenaran semua itu. "Benar, Pak. Saya yang mengambil
seluruh pentil motor guru-guru di sekolah" Ungkapnya.
"Perihal pentil
motor Bu Ane, aku memang mendapatkannya dari Pak Satpam. Saat ku melewati
gerbang, ia memergokiku dan bertanya siapa pemilik pentil itu. Aku bilang kalau
itu milikku. Sekarang aku baru tau kalau itu adalah cara dia untuk menjebakku
juga" Ujarnya.
Kasus ini sudah
menemukan titik terang. Akhirnya Pak Guru membawa Dedi dan Sarah ke kantor
BK/BP. Disana sudah ada Bu Ane dan juga Pak Satpam. Aku mengetahui semuanya
dari Pak Satpam. Ia berharap aku dapat menyelesaikan kasus ini. Dan sekarang
kasus ini telah terungkap. Ku harap tidak ada lagi kasus kehilangan pentil
motor di sekolah.
Oleh: Alwi Husein Al Habib, Mahasiswa Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

