Monash-media.com,
Semarang- Pemerintahan
Monash Institute, melalui Kementrian Peribadatan dan Pembangunan Karakter mengadakan Ngaji Hati sesi ke-2.
Agenda itu dilaksanakan di Aula Pertama Gedung Utama Daar al-Qalam 1, Kamis (3/10).
Sesi
kajian kali ini terasa berbeda, bahkan dikatakan spesial. Sebab, agenda ini
bersamaan dengan Tasyakuran Aqiqah putra pertama dari Pasangan Suami-Istri Gus
Su’ud dan Ustadzah Hidayah yang diberi nama “Ahda Sabila At-Tashdiq”. Kedua
pasangan tersebut merupakan disciples Monash Institute angkatan 2011 dan saat
ini menjadi Pengasuh Pesantren Daar al-Qalam 3.
“Alhamdulillah,
Ngaji Hati sesi ke-2 ini bisa kita laksanakan dengan lancar bersamaan dengan
Aqiqah Mas Ahda, sehingga agenda malam ini pun terasa marak,” tutur Perdana
Menteri Monash Institute Atikah Nur Azzah Fauziah usai agenda berlangsung.
Setelah
agenda aqiqah selesai, dilanjut agenda dari Pemerintahan Monash Institite yaitu
Ngaji Hati Sesi ke-2, sebagai lanjutan Kajian Hati sesi-1 pada Kamis, 29
Agustus 2019 lalu. Di Ngaji Hati sesi-2 ini terlihat lebih ramai karena melihat
hadirin yang tidak hanya dari disciples Monash Institute, akan tetapi, santri Daar al- Qalam 2
serta mahasantri PMPI pun ikut berpartisipasi dalam agenda ini. Seperti agenda
yang sebelumnya juga, agenda ini diisi oleh Ustadz Abu Nadlir yang tidak lain
merupakan Direktur Monash Institute Semarang.
Pada sesi-2 ini, Ustadz Abu Nadlir menerangkan tentang
“Cinta”. Lebih jelasnya lagi, Ustadz Nadlir membahas apa perbedaan makna Hubb
dan Mahabbah. Bahwa, ada suatu kaidah ilmu yang berbunyi “Ziyadatul
bina’ tadullu ‘ala ziyadatil ma’na” yang berarti bertambahnya kosakata
dapat menunjukkan bertambahnya suatu makna. Teori tersebut dapat dikontekskan
dengan kata Ar-Rohman dan Ar-Rahiim, bahwa jumlah huruf dari
kedua kata tersebut sudah berbeda, maka dari itu, dua kata tersebut memiliki
makna yang berbeda pula, seperti yang telah para santri ketahui pada umumnya.
Maka,
arti Hubb dan Mahabbah memiliki
arti yang berbeda pula. Karena jumlah huruf dalam kalimat Mahabbah lebih
banyak dari pada Hubb, maka Hubb diartikan sebagai “cinta manusia
kepada Allah dan selain Allah/makhluk-Nya. Sedangkan Mahabbah diartikan
sebagai “cinta Allah kepada Makhluknya”.
“Cinta
itu tulus, tidak boleh ada rasa benci, kata tapi dan karena”, begitu pesan
terakhir dari Direktur Monash Institute sebelum menutup kajiannya. (Red/
Indah NF)
