Dilematis Poligami dan Monogami

Monash Media
0

Disciples Monash Institute adakan Forum Group Discussion (FGD) mengenai kontroversi poligami dan monogami. Agenda ini berlangsung di Aula I Monash Institute, Ahad (10/11).
Latar belakang diskusi ini diadakan yaitu karena adanya kegelisahan dari pengasuh rumah perkaderan Monash Institute, Dr. H. Mohammad Nasih atas jumlah perempuan dan laki-laki yang tidak sebanding. Jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki. Realita ini menjadi  kekhawatiran yang akan perempuan hadapi.
Adapun yang mengikuti diskusi ini yaitu seluruh disciples angkatan 2017, 2018, dan 2019. FGD ini dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama berisi laki-laki semua dan dipandu oleh mentor Alwi Husein Al-Habib. Kelompok kedua dan ketiga berisi perempuan semua. Kelompok kedua diskusi bersama mentor Dewi Robi’ah, dan kelompok ketiga dipandu oleh Ketua Umum Kohati Periode 2019/2020, Lida Nasrul Amanah.
Kelompok laki-laki menuntaskan pembahasan tentang dugaan-dugaan laki-laki kepada perempuan, alasan kenapa perempuan tidak mau dipoligami. Sedangkan kelompok perempuan mengupas tuntas mengenai problematika perempuan yang tidak mendapatkan pasangan dan mencari solusi.
Menurut Alwi Husein Al-Habib, alasan seorang perempuan yang tidak mau dipoligami yaitu karena pola pikir perempuan yang terpengaruh oleh sinetron  dan drama korea, yang hanya mengisahkan romantisme cinta satu laki-laki untuk satu perempuan.
“Tontonan yang dikonsumsi oleh perempuan itu akan mempengaruhi pola pikir mereka yang salah. Selain itu, lingungan keluarga, belajar, dan bergaul juga ikut mempengaruhinya,” jelas mahasiswa semester III jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir tersebut.
Selain itu, Fajri juga menyampaikan uneg-unegnya bahwa perempuan itu terlalu cinta dengan laki-laki yang akan menjadi pasangannya. Tidak hanya itu, Ma’bad Fathi Mu’taza juga memberikan argumentasinya yang mendukung pernyataan Fajri.
“Perempuan itu cenderung tidak mau berbagi cinta,” tutur Ma’bad.
Kemudian, ada juga disciples laki-laki, Labib dan Candra yang menganggap bahwa laki-laki itu tidak bisa adil. Itulah yang mereka duga, kenapa seorang perempuan itu tidak mau dipoligami.
Menurut Kodrat Alamsyah, mahasiswa jurusan Ilmu Falak, perempuan itu tidak paham akan konsep poligami. Selain itu, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan untuk berpoligami.
Kelompok perempuan pun memiliki argumentasi, kenapa mereka harus memilih poligami atau monogami.
Endah Fitrianingsih, disciples 2017 yang bergabung dengan kelompok mentor Dewi Robi’ah menyatakan bahwa dirinya setuju dipoligami.
“Saya tidak mempermasalahkan poligami,  karena jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki, tentu saja hal ini tidak sebanding. Jika yang diterapkan adalah monogami, maka akan ada perempuan yang tidak mendapatkan laki-laki. Akibat terburuknya adalah adanya lesbian di antara perempuan itu. Untuk meminimalisir masalah yang tersebut, maka program poligami perlu diterapkan,” ungkap Endah.
Selain itu, Dewi Robi’ah dan Lida Nasrul Amanah menambahkan bahwa paradigma antara orang Arab dan orang Indonesia itu berbeda. 
“Perempuan itu cenderung tidak ingin berbagi cinta,” pungkas Lida.

Oleh karena itu, solusi poligami merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi populasi perempuan yang tidak berpasangan. Sebab, sejatinya seorang perempuan itu  pun punya nafsu seksual yang harus disalurkan, tentunya dengan cara-cara yang legal dan dibenarkan secara hukum dan agama. 
(Red/ Atikah N.A.F.)




Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default