Kajian Tasawuf, Ngaji Hati: Mahabbatu al-Rasul

Monash Media
0


Kementerian Peribadatan dan Pembangunan Karakter Kabinet Juang adakan Kajian Tasawuf  part III. Kementerian tersebut menyelenggarakan kajian ini setiap satu bulan sekali. Adapun pemateri yang diundang yaitu, Ustadz Muhammad Abu Nadlir. Tema yang diusung yaitu tentang cinta. Pada kesempatan kali ini,  kajian digelar di Daar al-Qolam III, Kamis (31/10).
Menurut Ustadz Muhammad Abu Nadlir, cara mendapatkan  mahabbah (kasih sayang) Allah yaitu dengan mencintai orang yang mendapatkan mahabbah dari-Nya. Misal, kita mencintai Rasul  untuk meraih cinta Allah. Rasul menjadi perantara cinta kita kepada Allah.
Kata mahabbah ini termaktub dalam Q.S Thaha (20) ayat 20:
Aniqżi fīhi fit-tābti faqżi fīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāili ya`khuż-hu 'aduwwul lī wa 'aduwwul lah, wa alqaitu 'alaika maabbatam minnī, wa lituna'a 'alā 'ainī
Ayat tersebut menjelaskan tentang kisah Nabi Musa yang mendapatkan kasih sayang Allah. Pada waktu itu, Raja Fir’aun berkuasa atas Bani Israil dan menyuruh mereka untuk membuat bangunan-bangunan, layaknya piramida. Suatu ketika, Fir’aun bermimpi kalau kekuasaannya akan jatuh ditangan seorang laki-laki. Kemudian, ia menyuruh untuk membunuh seluruh anak laki-laki.
Mengingat mortalitas yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan penduduk pada Bani Israil, maka Fir’aun memberlakukan konsep pembunuhan dilakukan pada satu tahun pertama, kemudian satu tahun berikutnya, anak laki-laki dibiarkan hidup, begitu seterusnya. Hal ini diterapkan karena anak laki-laki akan menjadi generasi penerus menjadi budak lalu membuat bangunan-bangunan besar.
Harun merupakan kakak laki-laki Musa As yang dilahirkan pada masa ketika anak laki-laki dibiarkan hidup, sedangkan Musa As dilahirkan pada tahun yang mewajibkan anak laki-laki dibunuh.
Allah memberikan petunjuk kepada ibunda Nabi Musa melalui ayat 38-39 surah Thaaha:
Iż auainā ilā ummika mā yụḥā. Aniqżi fīhi fit-tābti faqżi fīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāili ya`khuż-hu 'aduwwul lī wa 'aduwwul lah, wa alqaitu 'alaika maabbatam minnī, wa lituna'a 'alā 'ainī

Melalui ayat ini, Allah membimbing Ibunda Nabi Musa untuk memasukkan bayi Nabi Musa ke dalam peti, kemudian menghanyutkannya ke sungai hingga akhirnya Nabi Musa diambil dan diasuh oleh keluarga Fir’aun.
“Seorang ibu pasti tidak tega melihat anaknya dibuang,” ungkap pemateri.
Padahal Fir’aun merupakan musuh Nabi Musa. Allah mengutus Nabi Musa untuk mengingatkan Fir’aun yang sudah berlaku semena-mena.
“Kalian jangan pernah takut dibully orang, meskipun ada orang yang menghina kita, asal ada mahabbah dari Allah, tenang saja,” pesan Ustadz Abu Nadlir kepada seluruh hadirin.
Selain itu, pemateri juga menambkan konsep cinta menurut Ibn Asyur. Ada dua hal yang menyebabkan seseorang mencintai orang lain.
"Cinta berdasarkan logika dan cinta yang datang dengan sendirinya, itulah dua konsep cinta yang djelaskan oleh Ibnu Asyur," tutup Ustadz Abu Nadlir. (Red/Atikah N.A.F.)






Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default