Komisi Pemilihan Umum (KPU) gelar debat kandidat Calon
Presiden dan Calon Wakil Presiden Monash Institute untuk periode April
mendatang. Debat ini diadakan di Aula Utama Markas Besar Monash Institute, Ahad (15/12).
Adapun pasangan capres-cawapres yaitu, Ihsan Hidayat –Afifah
Ainun Ni’mah, Ma’bad Fathi Mu’tazza-Fina Syifaurrahmah, dan Wahyu
Labibullah-Lina Yulia Khofifah.
Paslon capres-cawapres nomor urut satu diusung oleh
dua partai, yaitu Partai Amanat Disciples (PADI) dan Gerakan Santri Terpadu
(GANSTER). Paslon nomor urut dua diusung
oleh dua partai, yaitu Partai Insan Kamil (PIK) dan Partai Mawar Keadilan
(PMK). Adapun paslon nomor urut tiga yaitu koalisi dari parta Masyumi dan
Nahtumi.
Kegiatan ini menghadirkan dua panelis yaitu, M.
Abu Nadlir dan Su’ud at-Tasdiq. Panelis pertama merupakan Direktur Monash
Institute asal Kudus, sedangkan panelis kedua adalah Presiden pertama Monash
Institute asal Jepara.
Menurut M. Abu Nadlir,
seorang pemimpin itu harus tahu alasannya mencalonkan diri untuk menjadi
pemimpin.
“Seorang pemimpin itu harus mengetahui alasan dia
ingin maju menjadi Presiden-Wakil Presiden,"jelas panelis pertama, M. Abu
Nadlir.
Su’udut Tasdiq menjelaskan, pemimpin itu bukan follower
atau pengikut.
“Yang membedakan orang tersebut seorang pemimpin atau bukan
pemimpin adalah inovasinya," ungkap Su’ud sebagai panelis kedua.
Algazella Sukmasari menerangkan, tujuan diadakan Pemilihan
Umum (Pemilu) di Monash Institute adalah untuk mengimplementasikan simulasi
negara kecil.
“Perlu adanya wadah untuk memfasilitasi masyarakat, guna menilai kandidat pemimpin, ada Pesiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri (PM), sehingga KPU menggelar debat
ini," jelas Ketua KPU. (Red/ANAF)

