Sejumlah partai politik
(parpol) baru yang mengikuti Pemilu 2020, menyadari tantangan terbesar yang
dihadapi saat ini karena belum banyak publik yang mengenalnya. Kenyataan itu
membuat elektabilitas parpol baru rata-rata rendah dalam survei sejumlah
lembaga.
Oleh karena itu, dalam sisa waktu
periode per periode, parpol baru mengintensifkan sosialisasi kepada publik. Hal
tersebut diungkapkan mantan Ketua Umum sekaligus pendiri Partai Insan Kamil
(PIK), Alwi Husein Al Habib.
“Tantangan terbesar yang
dihadapi partai baru adalah belum dikenal,” katanya, saat dihubungi, di Omah
Tahfidh, Senin (21/04). Menurutnya, menjadi parpol yang belum dikenal secara
luas oleh publik, jauh lebih baik ketimbang berstatus parpol lama dan sudah
dikenal namun tidak dipilih publik.
“Kalau teorinya publik belum yakin,
berarti publik sudah tahu partainya namun memutuskan untuk tidak memilih.
Berbeda dengan belum dikenal seperti partai kami,” ujarnya. Namun, Alwi
mengakui, untuk lebih menyosialisasikan partainya kepada publik, PIK menghadapi
resistensi besar.
Oleh karenanya, selama dua
periode sejak berdiri, PIK terus menyosialisasikan diri sembari mengedukasi
masyarakat terkait kewajiban memilih dan memegang teguh idealisme merit sistem.
Sementara itu, Ketua Umum PIK
Muhammad Faqih menyatakan raihan elektabilitas PIK sejauh ini patut di-syukuri
dan di apresiasi. Hal itu mengingat pengalaman berpolitik kader PIK masih
sangat terbatas namun mampu menjadikan saudara Ma’bad Fathi yang sebelumnya
menjabat Ketua Umum PIK ke dua dan Mohammad Faqih menjadi Presiden dan Perdana
Menteri periode April-Agustus.
“Dengan terpilihnya Ma’bad
Fathi dan Saya menjadi Presiden dan Perdana Menteri tentu ini berita baik bagi
pendatang baru di politik Monash Institute dengan pengalaman politik yang
hampir tidak ada,” katanya.
Hal yang menarik dari beberapa
survei menunjukan bahwa mayoritas orang yang mengenal PIK berpandangan positif,
atau paling tidak netral. Kenyataan itu dimaknai bahwa PIK sudah dikenal dan
relatif berhasil membangun citra sebagai partai baru dan menjadi alternatif
pilihan publik.
Senada dengan Faqih, Sekjen
PIK Riayatu Milah mengungkapkan, tantangan ke depan menghadapi Pemilu di Monash
Institute adalah meningkatkan popularitas dan kesadaran publik, sehingga lebih
baik dalam menjalankan pemilu di Monash Institute.
“Hasil survei ini dapat
dijadikan kajian internal untuk menentukan langkah politik ke depan,” ujarnya.
Terkait masih rendahnya elektabilitas.

