![]() |
| Oleh : Tri Rahayu* |
Ikhlas memang sebuah kata sederhana tetapi penuh makna. Hampir
setiap orang mudah mengucapkannya. Namun, tidak setiap orang mampu meraihnya
secara maknawi. Sebab, ikhlas itu bagaikan sebuah bukit yang sangat tinggi,
terjal, dan licin. Apabila kita mendakinya, boleh jadi sebagian besar dari kita
akan tergelincir lalu jatuh sebelum berhasil merangkul puncak bukit itu.
Ikhlas adalah pencapaian paling akhir dari suatu perbuatan atau
tindakan yang baik dan halal yang dimulai dengan niat atau motivasi hanya karena
Sang Kholik, Allah Swt. Apabila kita mendirikan sholat, berpuasa, membayar
zakat/ infak, dan berhaji dengan mengharap pahala, itu bukan ikhlas. Andai kata
kita bersedekah atau berderma mengharapkan pujian dan hadiah, juga bukan
ikhlas. Derma kita tidak diterima oleh Allah Swt.
Kalau kita berjuang maju ke medan perang karena ingin mendapatkan
gelar pahlawan dan dikubur di makam pahlawan, maka yang ini pun bukan ikhlas.
Akhirnya, sesungguhnya kita mati konyol dan sia-sia dalam peperangan. Dan boleh
jadi kita berpakaian warna-warni dan bersolek, karena ingin jadi terpandang di
depan orang lain yang bermata keranjang atau berhidung belang. Jadi, bukan
ikhlas juga.
Kalau begitu, maka hampir-hampir semua perbuatan atau kerja dalam
kehidupan kita sehari-hari tidak ada yang diterima oleh Allah karena tidak
ikhlas? Boleh jadi ya, atau sebagian ya dan sebagian lain tidak. Silakan
merenung, berfikir, dan bertanya pada hati sendiri. Kita yang lebih tahu kadar
keikhlasan kita, kita pasti akan mendapat jawabannya secara tepat.
Dan memang, seorang sufiyah bernama Rabi’ah
al-Adawiyah telah menemukan ikhlas ketika ia bermunajat dengan untaian kata: “Ya
Allah, andaikan sholatku ini karena mengharapkan pahala dari-Mu, maka berilah
aku dosa. Ya Allah, kalaulah sholatku karena mengharapkan surga-Mu, maka
masukkanlah aku ke dalam neraka.”. Rabi’ah memang sungguh berhati
mulia. Beliau Sang perlambang keikhlasan sejati. Sementara kita dan perbuatan
kita hanya dipenuhi dengan riya, sumah, dan takabur.
Sesungguhnya kita berada di antara dermawan dan dramawan. Kita
telah bermain drama dengan derma yang kita berikan untuk anak yatim, kaum du’afa,
fukara’, dan masakin. Memang, drama derma di masa
pembangunan ini makin merajalela saja tampaknya. Dan kita selayaknya harus
berusaha keluar dari lilitan drama derma yang terkutuk ini. Jangan sekali-kali
kita memainkan drama derma dalam lingkaran pembangunan yang berlabel Islam,
yang difatwakan ulama MUI sekalipun.
Hendaknya kita berikhtiar untuk menjadi dermawan dan dermawati
yang ikhlas, yang tidak mengharapkan hadiah. Hindarkan diri dari pancingan
berupa manisan. Jangan hanya berkurban harta (Jihadul amwal), jiwa raga
kita pun harus kita hadiahkan sebagai kurban (jihadun nafs) untuk
memperjuangkan yang haq, yang halal, yang manfaat, untuk mencapai ridlo Allah
Swt.
Wahai Indonesiaku, Indonesia kita tercinta. Mari kita infakkan
jiwa raga dan harta kita untuk olah jiwa dan olah raga kita.
Potong gaji dan honor kita sebagai sedekah jariyah yang
diakadkan dengan ikhlas hanya karena Allah Swt untuk olah jiwa dan olah otak
dalam rangka membangun pendidikan yang Islami.
Jangan sampai kita tergiring ke panggung sandiwara. Semua jenis
cerita sandiwara alias drama. Tutup layar drama sholat berhadiah, drama
walimahan dan khitanan berhadiah, drama pendidikan berhadiah, drama pembangunan
kupon berhadiah, dan sebagainya yang akan menggiring kita masuk ke dalam
perbuatan tidak ikhlas alias riya.
Wamalhayatud dun-ya illa mataa’ul ghurur hendaknya kita sadari, agar kita dapat menguasai dan bukan
dikuasai panggung sandiwara. Simak baik-baik juga lirik nyanyian Ahmad Albar: “Dunia
ini, panggung sandiwara”, agar antara pemimpin dan rakyat tidak saling
bersandiwara penuh tanda riya. Begitu pula antara dosen/ guru dengan mahasiswa/
murid. Antara orang tua dan anak. Antara suami dan isteri. Antara bos/ atasan
dengan bawahan. Majikan dengan buruh. Dan sungguh, suatu pekerjaan yang
sia-sialah andaikata kita masih mau melanjutkan main sandiwara di hadapan
Allah Swt.
Pesan yang dapat hemat penulis sampaikan kepada para pemegang
otokrasi yang sedanf duduk di singgasananya adalah cabut SK pemotongan gaji
atau honor secara paksa, ganti dengan wajib infak. Potongan paksa itu tidak
adil alias lalim. Wajib infak itulah ikhlasul amal, karena ridlo
Allah Swt, untuk pembangunan umat.
Kita selalu berharap untuk menjadi dermawan dermawati yang ikhlas.
Ya Allah, saksikanlah, inilah derma kami sebagai tanda syukur kami kepada-Mu.
Kuatkan iman dan Islam kami. Wallahu a’lamu bi al-shawaab.
*Young Researcher of LeSAN (Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme) UIN Walisongo Semarang
Dimuat di Koran Wawasan, 24 Juni 2015

