Ramadan dan Solusi Pengungsi Rohingya

Admin
0
Oleh: Mahfudh Fauzi*
Memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kulawarga, memayu hayuning sesama, memayu hayuning bawana”. Artinya, berbuat baiklah untuk diri sendiri, keluarga, sesama manusia, dan seluruh makhluk hidup.
Ramadan 1436 H dapat dioptimalkan sebagai momentum untuk menemukan solusi mutakhir guna meredam konflik Rohingya, karena saling membantu adalah kebajikan yang tak ternilai harganya. Menjadi suatu ironi ketika muslim di Indonesia sedang berbahagia atas datangnya bulan yang penuh berkah ini, namun di luar sana terdapat saudara sekeyakinan yang hidupnya terancam. Padahal, katanya satu muslim dengan lainnya saudara yang saling menguatkan.
Seyogianya, bulan nan suci ini dapat menjadi waktu yang tepat sebagai media konsolidasi Islam. Menguatkan komunikasi lintas negara, baik di sektor pendidikan, ketahanan, ekonomi, maupun sektor lainnya. Terpenting, umat Islam harus bersatu tanpa memandang warna bendera kebangsaan. Hal ini agar agama yang diridhai oleh Allah SWT benar-benar menjadi penyelamat di dunia maupun akhirat.
Selebihnya, permasalahan Rohingya bukanlah tanggung jawab Indonesia semata. Mustahil terselesaikan jika anggota ASEAN tidak saling mengulurkan tangan. Kita tahu, posisi etnis Rohingya sebagai korban. Korban perang Kemerdekaan Bangladesh terhadap Pakistan yang akhirnya mengakibatkan banyaknya warga yang mengungsi, salah satunya ke Myanmar. Di sisi lain, konflik internal Myanmar juga menjadi penyebab mengapa eksodus besar-besaran etnis Rohingya terjadi.
Melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, sikap Indonesia cukup solutif. Dengan mengajak Menlu Malaysia dan Thailand, Indonesia mengusulkan untuk mencari latar belakang konflik berkelanjutan etnis Rohingya. Kemudian, mengajak untuk saling berbagi tugas dan tanggung jawab antara negara asal, negara transit, dan negara tujuan. Terakhir, melakukan kerja sama transnational crime untuk menyelesaikan isu perdagangan manusia (human trafficking).
Tragedi Rohingya memang menjadi permasalahan yang cukup krusial. Sejauh ini, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) menyebutkan pengungsi Rohingya di Bangladesh sudah sekitar 400.000 orang, di Pakistan 200.000 orang, di Thailand sekitar 20.000 orang, di Malaysia berkisar 15.000 orang, sedangkan di Indonesia terdapat kurang lebih 2.000 orang. Sisanya berkisar 750.000 warga masih tetap tinggal di sebelah utara Negara Bagian Rakhine Myanmar.
Akar permasalahnnya memang cukup pelik, karena pemerintah Myanmar secara sistematis telah berupaya menghapus etnis Rohingya. Padahal etnis tersebut telah menetap selama berabad-abad. Berawal dari perseteruan degan etnis Budha Rakhine dan atas ‘dukungan’ pemerintah, maka etnis tersebut berbondong-bondong mengungsi mengadu nasib sampai ke negeri orang. Padahal, kunci sukses untuk mencapai peradaban hakiki, suatu negara harus mampu meredam praktik konflik Suku, Adat, Ras, dan Agama (SARA).
Jika tidak, maka kasus tumpah darah secara estafet akan terus terjadi. Alih-alih dapat mencapai kejayaan, kemakmuran, dan kesejahteraan, justru upaya buruk tersebut akan menjatuhkan negara itu, karena pelanggaran HAM tak lekang oleh waktu. Dilihat dari kaca mata Indonesia, jelas dalam pasal 3, 4 dan 5 menyatakan bahwa kemerdekaan personal perlu dijunjung tinggi, tanpa kompromi sedikitpun.
Setiap orang berhak atas penghidupan dan keselamatan individu (Pasal 3), tidak seorang pun boleh diperbudak atau diperhambakan (Pasal 4), tak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, memperoleh perlakuan atau dihukum secara tidak manusiawi atau direndahkan martabatnya (Pasal 5).
Penulis yakin, di setiap negara memberlakukan hal yang sama, bahwa hak warga untuk hidup, bernafas, tumbuh-kembang, hingga berkeyakian merupakan hak yang harus dipenuhi oleh negara.
Sumbangsih Indonesia
Dalam fenomena Rohingya, sebenarnya posisi Indonesia cukup dilematis. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara dominan muslim. Sedangkan di Myanmar, terdapat saudara muslim yang mengalami perlakuan tak adil. Apakah pantas berdiam diri? Nah, jika Indonesia kemudian berdiri tegap di garda terdepan untuk ikut mengurus saudara Rohingya, lantas bagaimana nasib warga Indonesia sendiri, apakah sudah terurus atau justru masih terabaikan?
Jangan sok jadi pahlawan, toh terhadap rakyat Indonesia pemerintah seakan menjadi ‘penjahat’ yang kejam. Urus dulu nasib rakyat Indonesia. Membantu memang perlu tapi sewajarnya. Sebab, menurut Ketua Board Migrant Care, Wahyu Susilo, perbudakan modern oleh rakyat Indonesia di tahun 2013 berjumlah 210.970 orang, sedangkan di tahun 2014 meningkat menjadi 714.300 orang. Jadi benar anekdot yang menyatakan bahwa warga kita di luar negeri diperbudak, sedangkan orang asing justru disanjung-sanjung. Aneh!
Jika memakai hukum kausalitas, maka tindakan relawan Indonesia terhadap etnis Rohingya dapat menjadi ‘tabungan’, agar kelak Indonesia dapat ‘memanen’ hasilnya karena warga Indonesia diperlakukan dengan baik di luar negeri. Jadi, tindakan eksodus Rohingya juga perlu disikapi dengan kritis. Lebih dari itu, membantu musibah tidak harus menunggu, harus lebih peka karena sifatnya mendesak.
Dilihat dari segi kenegaraan, jelas posisi Indonesia sebagai negara yang cukup berpengaruh di kawasan Asia Tenggara. Setidaknya dapat merangkul negara ASEAN untuk menekan angka eksploitasi di Myanmar, untuk kemudian mencari jalan keluarnya. Bukan tidak mungkin hal serupa akan terjadi lagi di negara lain. Ketika salah satu etnis terhimpun kekuatan penuh, maka akan menggempur yang minoritas. Terlebih Indonesia yang notabene menjadi negara multikultur.
Logikanya, saudara muslim Rohingya di Myanmar dieksploitasi, maka ketika muslim di Indonesia yang mendominasi murka akan melakukan pembalasan terhadap etnis lemah yang lain. Oleh karena itu, Indonesia harus bertindak cepat dengan menggelar sidang tinggi Emergenci Meeting ASEAN, dengan melibatkan pihak terkait terutama Myanmar dan Bangladesh. Termasuk menggandeng PBB, UNHCR, dan IOM (Organisasi Migrasi Internasional). Sekjen PBB, Ban Ki-Moon sendiri sudah mendesak ASEAN untuk menyelesaikan perkara ini. (*)

 *Peraih Beasiswa Unggulan Monash Institute untuk UIN Walisongo Semarang

Dimuat Banjarmasin Post, 24 Juni 2015

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default