Meneladani Menteri Susi

Admin
0


Oleh: Muhammad Najib
Ketua Umum Aliansi Penulis Idealis (API) UIN Walisongo Semarang, Peneliti Muda di Monash-Institute Semarang
Ada fenomena menarik dan kontroversial dalam komposisi kementerian Jokowi-JK. Ya, sosok kontroversial tersebut adalah Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia selama lima tahun ke depan ternyata hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Wanita eksentrik itu sempat merasakan bangku SMA. Namun, tidak sampai selesai.Nah, sejak menjadi menteri, latar belakang tersebut banyak diperbincangkan dan tak sedikit yang berkomentar miring.
Kehadiran Susi dalam Kabinet Kerja, jika ditilik dari aspek pendidikan dinilai banyak orang sebagai “pelecehan”. Sebab, sejauh ini, komposisi menteri selalu dihuni oleh mereka yang memiliki jenjang pendidikan tinggi atau lebih dikenal orang berpendidikan. Dengan asumsi bahwa jenjang pendidikan digunakan sebagai indikator seseorang sehingga layak dan pantas menjadi pejabat dan mengurusi negara dan bangsa.
Harus diakui bahwa jenjang pendidikan bisa dijadikan tolak ukur kualitas seseorang. Namun, tidak sepantasnya kita memandang sebelah mata mereka yang tidak memiliki jenjang pendidikan tinggi. Seperti halnya Susi Pudjiastuti. Dalam konteks ini, kita harus melihat dari sisi yang lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan pejabat lainnya bahkan memiliki jenjang pendidikan tinggi, Susi justru lebih baik. Contoh konkritnya, seorang guru besar bahkan professor tetapi malah terjerat korupsi dan narkoba.
Tak hanya profil lulusan SMP yang menjadi kontroversi Susi. Wanita yang awal karir sebagai pengumpul ikan itu tidak berhenti sampai disini. Pembawaannya yang santai dinilai banyak kalangan bahwa ia tidak mampu mengurus kementerian kelautan dan perikanan untuk menggenjot Indonesia menjadi poros maritim dunia. Namun, jiwa enterpheuner ibu dari tiga anak itu membuatnya mampu berdiri tegak sekaligus menepis anggapan miring tersebut.
Spirit untuk mereformasi bidang kelautan dan perikanan semakin manab ketika ia melontarkan pernyataan cukup berani. Ia tidak akan segan-segan mengundurkan diri jika birokrasi tidak mendukung langkahnya. Yang diperlukan kementerian kelautan saat ini adalah anggaran yang cukup. Anggaran tersebut selain digunakan untuk bidang kelautan dan perikanan juga untuk bidang ketahanan laut. Aspek ketahan angkatan laut inilah yang kurang maksimal saat ini. Akibatnya, kapal asing negitu leluasa menjarah kekayaan kita.
Mengurus negara tidaklah gampang. Perlu keahlian dan keterampilan serta pengalaman tingkat tinggi. Dan yang demikian itu salah satu caranya bisa dipelajari di bangku sekolah. Namun, kehadiran Susi dengan segudang prestasinya menepis keraguan bahwa lulusan SMP tidak memiliki pengalaman luas. Dengan percaya diri, Susi membuktikan bahwa tidak lulus SMA bisa menjadi sukses. Terbukti, Susi sukses menjadi pengusaha di bidang perikan dan penerbangan. Barangkali kecakapan dan pengalaman inilah yang menjadikan salah satu alasan mengapa ia dipinang menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Kabinet Kerja.
Kementerian Kelautan dan Perikanan merupakan sebuah posisi yang tidak gampang. Sebab, ia merupakan nakhkoda di poros maritim Indonesia. Seperti yang kita ketahui berama bahwa lautan Indonesia sangat luas sehingga sektor ini menjadi salah satu sumber pendanaan pembangunan Indonesia.
Kesibukannya kini berbeda. Dari seorang pengusaha  menjadi pejabat negara. Selang beberapa hari dilantik, Susi tak lama-lama menentukan prioritasnya. Menjaga laut seluas 3,2 Juta KM2 adalah tugasnya. Ia mengumpulkan pemangku kepentingan segenap orang dibidang pertanian. Dan yang menjadi persoalan kelautan saat ini adalah penjarahan kekayaan (pencurian ikan) oleh pihak asing.
Data Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan menyebutkan ratusan kapal asing tertangkap mencuri ikan setiap tahunnya. Tapi pencuri yang lolos diperkirakan lebih banyak lagi. Dan inilah tantangan terbesar Kementerian Kelautan dan Perikanan yang harus diselesaikan. Menanggapi hal tersebut, Susi segera mengajukan moratorium penangkapan ikan oleh kapal asing.
Data Badan Pemeriksa Keuangan (2013) menunjukkan, potensi pendapatan sektor perikanan laut kita jika tanpaillegal fishing mencapai Rp. 365 triliun per tahun. Namun, akibat illegal fishing, menurut hitungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011), pendapatan tersebut hanya berkisar Rp. 65 triliun per tahun. Jadi ratusan triliun rupiah devisa negara hilang setiap tahun.
Selain itu, ia meminta pembebasan segala bea kapal di bawah 10 gross ton. Kebijakan tersebut disambut hangat oleh para nelayan. Sebab, kebijakan tersebut memiliki dampak positif bagi nelayan terutama nelayan kecil. Selain itu, menteri Susi juga berencana membangun bandara kecil khusus untuk transportasi atau mengangkut ikan-ikan hasil tangkapan nelayan sehingga bisa diekspor. Langkah ini diambil lantaran selama ini, nelayan sulit untuk mendistribusikan hasil tangkapannya.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, Susi tidak memerlukan banyak teori dalam menyelesaikan persoalan. Inilah yang harus diteladani dari sisi lain seorang Susi. Bahkan, wanita eksentrik itu mengubah budaya lemot, memberikan instruksi anak buahnya masuk kerja jam 07. 00 WIB, semula jam 08. 00 WIB. Lugas dan maunya serba cepat, itulah karakteristik menteri Susi.
Fenomena Menteri Susi menyadarkan kepada kita semua, khususnya para pejabat negara bahwa tidak cukup blusukan saja tanpa adanya kerja atau hasik konkrit. Kini, Menteri Susi masih harus membuktikan kepada masyarakat bahwa Indonesia mampu menjadi poros maritim dunia. Oleh sebab itu, sinergitas dalam konteks ini merupakan sebuah keniscayaan. Pemerintah juga dituntut bergerak cepat guna mendukung langkah besar tersebut. Semoga tercapai! Wallahu a’lam bi al-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
5/related/default